Berbagai Jurus Memimpin

sumber : e-psikologi.com
Oleh : Ubaydillah, AN
Jakarta, 4/2/2008

Siapakah Pemimpin Itu?

Siapakah yang disebut pemimpin itu? Pemimpin adalah orang yang diikuti orang lain. Orang lain mau mengikuti si pemimpin karena punya alasan-alasan tertentu. Secara umum, alasan itu antara lain karena si pemimpin itu dipandang lebih mampu, lebih tahu, lebih senior, lebih berkuasa, lebih ahli, lebih bagus, lebih tinggi, dan seterusnya. Artinya, seseorang akan ditunjuk, diangkat, atau dipersilahkan untuk menjadi pemimpin karena dipandang punya nilai “plus”.

Ketika seseorang tidak sedang menjadi makhluk individual semata (baca: menjadi makhluk sosial juga), semua orang butuh pemimpin. Seluruh isi rumah tangga butuh pemimpin, teamwork butuh pemimpin, kelompok butuh pemimpin, dan seterusnya. Bahkan ada pengarahan yang menyarankan seperti ini: “Jika engkau sedang menyelesaikan persoalan atau mengemban tugas bersama orang lain (minimalnya satu orang), maka sepakatilah untuk menunjuk seorang pemimpin di antara kamu.”

Kenapa ini penting? Dalam prakteknya, cara seperti inilah yang seringkali lebih efektif dan lebih efisien. Dengan menyepakati siapa yang menjadi pemimpin berarti akan lebih jelas siapa yang mengambil keputusan, siapa yang menjalankan keputusan, siapa yang bertanggungjawab atas keputusan itu, dan seterusnya. Tapi, coba bayangkan kalau pemimpinnya tidak ada? Yang sering terjadi adalah kericuhan, gontok-gontokan, debat, konflik, saling ingin mengalahkan, dan seterusnya. Karena itu ada semacam adagium bahwa lebih baik suatu kelompok atau masyarakat itu memiliki pemimpin meskipun pemimpinnya itu bukanlah orang yang serba “lebih” segala-galanya.

Dalam prakteknya, istilah pemimpin ini diterapkan untuk beberapa pengertian. Ada pengertian yang mengarah pada peranan. Pemimpin adalah orang yang memerankan kepemimpinan (nilai-nilai leadership). Menurut pengertian ini, semua orang (laki-laki atau perempuan) adalah pemimpin, minimalnya adalah pemimpin bagi dirinya dan keluarganya. Ada lagi pengertian yang mengarah pada jabatan atau posisi yang kemudian identik dengan istilah-istilah antara lain: atasan, bos, kepala, nahkoda, manajer, direktur, presiden, ketua, dan seterusnya. Ini semua adalah jabatan yang terkait dengan fungsi-fungsi kepemimpinan. Ada lagi istilah pemimpin formal dan pemimpin informal.

Bahkan dalam prakteknya, kita mengenal istilah pemimpin dan pimpinan. Bedanya apa? Sebagian pendapat mengatakan, pemimpin itu tidak butuh SK, tidak butuh partai, tidak mesti butuh bawahan. Pemimpin di sini mengarah kepada kualitas peranan. Sedangkan pimpinan butuh SK, butuh pengangkatan, butuh dukungan, butuh suara, dan seterusnya. Banyak pimpinan yang tidak pemimpin dan banyak pemimpin yang tidak menduduki jabatan pimpinan.

Kalau mengacu pada ajaran agama, temuan sain, dan pengalaman sejumlah pemimpin, yang paling ditekankan adalah kepemimpinan dalam pengertian yang pertama, yakni memerankan nilai-nilai pokok leadership. Bentuknya apa nilai-nilai pokok itu? Bentuknya adalah mempelopori proses untuk mewujudkan keinginan bersama (visi). Suatu kelompok yang tidak ada pemimpinnya seringkali hanya berandai-andai, mengkhayal, ngobrol ngalor-ngidul, takut, sungkan, dan lain-lain. Dengan adanya pemimpin, maka pemimpin inilah yang akan menggerakkan atau mengaktivasikan energi orang banyak itu supaya menjadi kenyataan.

Menurut ajaran leluhur kita, seorang pemimpin itu haruslah memainkan tiga peranan inti. Kalau dia kebetulan di depan, dia harus berperan untuk mengarahkan, menunjukkan jalan, atau menjadi penutan. Kalau dia pas kebetulan di belakang, dia harus berperan mendorong kemajuan, memunculkan inisiatif, atau memberikan tanggung jawab dan delegasi. Kalau pas dia di tengah, dia harus menjadi pendamai, penyeimbang, penyambung komunikasi yang terputus, berada di atas dan untuk semua golongan, dan seterusnya.

Memainkan peranan ini jauh lebih dibutuhkan ketimbang memangku jabatan. Bahkan sampai ada yang menyimpulkan bahwa kepemimpinan itu sejatinya adalah tindakan, bukan jabatan. Lihat saja misalnya orang yang sudah diberi jabatan untuk memimpin tetapi tidak sanggup memainkan peranan sebagai pemimpin, apa yang terjadi? Pasti kepemimpinannya tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Bahkan mahkota jabatannya akan diambil lagi oleh si pemberi jabatan (orang banyak atau Tuhan) dengan cara yang beragam.

“Leadership is the way of transforming vision into reality.”

Berbagai Jurus Memimpin

Dalam berbagai literatur kepemimpinan sering kita temukan istilah art dan science. Istilah ini mengandung pengertian bahwa memimpin orang lain itu butuh pengetahuan tentang teori-teori leadership (science) dan butuh seni dalam mempraktekkan teori-teori itu. Karena itu, pas juga kalau disebut jurus. Jurus ini bermacam-macam dan digunakan atas pertimbangan keadaan tertentu dan harus bisa berubah. Sebagian dari sekian Jurus yang bisa kita jadikan acuan adalah di bawah ini:

Jurus Kepemimpinan

Kompetensi Mental
Yang Dibutuhkan

Iklim

Tujuan

Kapan Jurus Itu
Tepat Diterapkan

Paksaan / Memaksa

Bisa menggerakkan, meng-inisiatif, dan bisa mengontrol-diri

Strongy negative

Tanggapan yang cepat dan langsung (immediate action)

Pada saat krisis atau keadaan mendesak

Menguasai orang lain (otoriter)

Punya kepercayaan-diri, empati, kapasitas untuk mengubah orang lain

Most strongly positive

Memobilisasi orang lain supaya mengikuti

Ketika perubahan baru diinginkan atau butuh visi baru atau arahan baru

Afiliatif

(Menggabungkan)

Bisa menyatukan, manajemen konflik, empati

Highly positive

Menciptakan keharmonisan

Ketika kerenggangan terjadi dalam tim atau mencairkan ketegangan

Demokratik

Bisa mengkolaborasi, komunikasi dan memimpin tim

Highly positive

Membangun komitmen bersama melalui keterlibatan

Ketika butuh membangun kongsi, kebersamaan, kesepakatan, atau untuk mendapatkan masukan

Merumuskan model (pacesetter)

Kesungguhan, bisa menggerakkan, punya inisiatif

Highly negative

Melaksanakan tugas baru atau tugas yang standarnya tinggi

Ketika dibutuhkan hasil yang cepat dan bagus

Membina (coaching)

Bisa mengembangkan orang lain, empati, penguasaan emosi dan pengetahuan-diri

Highly positive

Membangun kekuatan di masa depan

Ketika yang dibutuhkan adalah perbaikan kinerja atau kualitas “SDM” untuk jangka panjang

*) Sumber: An EI-Based Theory of Performance, Daniel Goleman, The Consortium for Research on Emotional Intelligence in Organizations, 2004

Dengan kata lain, yang disebut jurus dalam memimpin itu adalah tindakan tertentu yang kita ambil berdasarkan kapasitas yang kita miliki, berdasarkan keadaan orang yang kita pimpin, dan berdasarkan tujuan utama yang hendak kita wujudkan. Efektivitas dan efisiensi kepemimpinan biasanya akan ditentukan oleh sejauhmana kita bisa menentukan jurus yang sesuai dengan tiga hal itu.

Karena itu, dalam berbagai diskusi tentang leadership, saya kerap mendengar pernyataan atau pendapat bahwa tidak semua yang otoriter itu jelek. Otoriter terkadang dibutuhkan sejauh itu digunakan sebagai jurus (the strategy) pada saat keadaan menuntut perubahan yang cepat dan ketika orang-orang yang kita pimpin itu belum memiliki kesadaran moral yang diakarkan pada nilai-nilai abstrak (kebenaran universal).

Lain soal kalau itu kita terapkan sebagai bawaan (trait). Biasanya, jurus otoriter yang kita terapkan sebagai bawaan bisa menimbulkan hal-hal yang tidak bagus bagi pemimpin dan bagi yang dipimpin. Otoriter yang mulus bisa menghasilkan kediktatoran. Otoriter yang mulus bisa menghasilkan ketakutan terpendam yang suatu saat nanti akan menghasilkan euforia (luapan kegembiraan yang berlebihan) yang ekstrim.

Jadi intinya, semua jurus di atas apabila diterapkan melebihi porsinya atau ekstrim atau berlebihan, biasanya akan menimbulkan deviasi (penyimpangan) yang umumnya negatif. Model kepemimpinan yang membina (coaching) itu baik, tetapi kalau keterlaluan, deviasinya adalah mendekte. Mendelegasikan itu baik, tetapi kalau keterlaluan, deviasinya adalah rentan kecolongan. Cerewet itu terkadang bagus, tetapi kalau berlebihan, deviasinya adalah bikin orang lain tidak nyaman dan kita pusing sendiri.

Syarat apa yang perlu kita penuhi supaya kita tidak berlebihan menerapkan jurus di atas? Syaratnya sebetulnya sederhana dan kita semua sudah tahu namun untuk menerapkannya butuh pembelajaran. Syarat itu adalah menomerduakan keinginan-diri (subyektivitas pribadi, hawa nafsu, egoisme, dll) dan menomersatukan nilai-nilai, dalil pengetahuan, dan petunjuk pengalaman. Jadi, kalau yang kita tunjukkan itu diri kita, deviasi sangat mungkin akan muncul. Tetapi jika yang kita tunjukkan itu adalah komitmen kita pada nilai-nilai yang kita perjuangkan, deviasi itu bisa dikurangi atau diantisipasi.

Karena itu, dalam ajaran agama ada istilah “marah karena Tuhan”. Marah seperti ini dikatakan sebagai tanda keimanan. Marah seperti ini bukan artinya kita mengatakan bahwa marah kita gara-gara Tuhan. Kemarahan karena Tuhan adalah kemarahan yang tujuannya adalah tindakan perbaikan, ditujukan kepada orang yang pas, tidak dilandasi nafsu kebencian dan kita sadar kapan kemarahan itu dimulai dan kapan harus diakhiri. Marah karena Tuhan adalah kemarahan yang didasari perjuangan nilai-nilai, pengetahuan dan pengalaman.

Untuk seorang pemimpin, baik itu peranan atau jabatan, marah karena Tuhan dengan pengertian yang sangat logis dan fair itu menjadi sangat dibutuhkan. Bayangkan kalau ada seorang pemimpin yang marahnya karena nafsu (amarah), apa yang terjadi? Tentu bisa merugikan dirinya sendiri dan orang-orag yang dipimpinnya.

Amarah dan tidak toleran adalah musuh bagi pemahaman yang benar.”

(Mohandas Karamchand Gandhi)

Syarat-syarat Memerankan Kepemimpinan

Kalau melihat hukum Tuhannya, kemampuan kita memerankan nilai-nilai kepemimpinan merupakan prinsip dasar kepemimpinan itu. Dikatakan prinsip dasar berarti tidak bisa disiasati atau tidak bisa ditinggalkan. Apa saja prinsip dasar itu? Berikut ini adalah prinsip dasar yang perlu kita jalankan:

Pertama, milikilah nilai-nilai yang kita perjuangkan menurut keadaan kita. Ada banyak kasus yang kerap terjadi dalam kepemimpinan rumah tangga. Kasus itu muncul karena lemahnya peranan kepemimpinan. Misalnya saja ada seorang menantu (suami / istri) yang punya hubungan kurang harmonis dengan mertua. Sepintas kita sepertinya dihadapkan pada dilema yang sulit. Kalau kita memihak ke pasangan, kita akan dicap sebagai orang yang tidak berbakti sama orangtua. Tapi kalau kita memihak ke orangtua, kita akan dicap sebagai orang yang mengorbankan pernikahan demi orangtua. Jadi bagaimana ini?

Jika kita hanya berpikir untuk memihak manusia atau orangnya (mertua, suami-istri, orangtua, dst), maka dilema akan selalu muncul dan masalah serupa akan selalu terulang, pun juga tidak ada solusi yang akan mengangkat kita ke tingkat yang lebih bagus. Tetapi, jika kita berpihak pada nilai-nilai (apa yang baik, apa yang bermanfaat, dan apa yang benar menurut ukuran keluarga kita), maka lambat laun dilema seperti itu akan hilang. Suasana hubungan di keluarga kita pun akan semakin bagus dan pengaruh kepemimpinan kita pun semakin terasa.

Jadi, seorang pemimpin itu dituntut untuk memiliki “pegangan” berupa nilai-nilai yang ia perjuangkan berdasarkan keadaannya. Dengan berpegang teguh pada pegangan itu maka muncullah kharisma. Tentu saja berdasarkan kadar kita. Dengan berpegang teguh pada nilai-nilai itu, maka apapun yang akan kita lakukan, misalnya menegur, mengingatkan atau mendamaikan, itu semua akan di-drive oleh nilai-nilai itu atau “karena Tuhan”.

Kedua, menjadi role model atas nilai-nilai yang kita perjuangkan. Seringkali manusia itu memiliki jarak antara apa yang diomongkan dengan dirinya, antara apa yang diopinikan dengan dirinya, antara apa yang ditulis dengan dirinya, antara apa yang pelajari dengan dirinya. Ini semua adalah contoh tidak adanya role model (Integrity).

Seorang pemimpin dituntut untuk menjadi role model atas apa yang ia perjuangkan. Mengambil contoh kasus keluarga di atas, berarti kalau kita berpegang teguh pada nilai-nilai kehormonisan atau kesetaraan, maka kita pun harus menjadi contoh tentang hal ini atau kita sudah menjalankan nilai-nilai itu. Kalau kita berpegang teguh pada kesederhanaan, maka kita pun harus menjalankan kesederhanaan. Kalau kita berpegang teguh pada kasih sayang, maka kita pun harus menjalankan kasih sayang.

Jangan sampai nilai-nilai kebenaran itu kita ucapkan tetapi itu semua kita alamatkan kepada orang lain semata. “Nilai-nilai itu for you, not for me.” Jika ini yang terjadi, kepemimpinan kita akan lemah. Kepemimpinan yang lemah kurang bisa memberikan solusi dan kurang bisa menekan masalah.

Ketiga, mengembangkan kapasitas personal untuk menjadi yang lebih baik. Kapasitas personal yang perlu kita kembangkan itu antara lain adalah kapasitas intelektual (pengetahuan, pengalaman, keahlian, cara berpikir, dst), kapasitas emosional (memperlakukan orang, kontrol-diri, berkomunikasi, dst), kapasitas spiritual (ketaatan, kejelasan visi hidup, dorongan berubah ke arah yang lebih bagus, dst).

Kenapa pengembangan kapasitas personal ini menjadi prinsip? Ini terkait dengan orang-orang yang kita pimpin. Pemimpin yang disiplinnya lemah tidak bisa menggerakkan orang-orang malas. Pemimpin yang emosinya masih kacau kurang bisa mendamaikan orang-orang yang sedang bertengkar. Pemimpin yang masih punya keberpihakan besar pada manusia tidak bisa mengajak orang lain untuk berpihak pada nilai. Pemimpin yang tidak memiliki komitmen untuk belajar tidak bisa menggerakkan orang lain untuk belajar. Intinya, pengembangan kapasitas personal itu haruslah selalu kita lakukan. Tentu saja berdasarkan keadaan kita dan orang-orang yang kita pimpin. Tanpa ini, kepemimpinan kita akan lumpuh.

Keempat, dahulukan pengaruh sebelum power. Pengaruh itu biasanya dihasilkan dari kualitas “SDM” kita. Pengaruh itu dihasilkan dari komitmen kita dalam menjalankan prinsip 1, 2, dan 3. Seringkali pengaruh itu tidak bisa diciptakan dengan rekayasa, tetapi tercipta sendiri karena proses. Sedangkan power itu adalah kekuatan yang biasanya diciptakan oleh sistem, kekuatan formal, atau hasil dari apa yang kita lakukan (misalnya power, jabatan, kekayaan, keahlian, dst).

Kenapa kita perlu mendahulukan penggunaan pengaruh (influence) sebelum power? Biasanya, ini lebih efektif, efisien, dan lebih “mendekatkan” atau lebih “menyadarkan”. Misalnya saja kita ingin memotivasi seseorang agar lebih memperbaiki kinerjanya. Sebelum kita menggunakan jabatan, sangat disarankan kita menggunakan pendekatan personal. Tetapi jika tidak mempan juga, ya apa boleh buat?

Kelima, mengetahui kapan mendengarkan, kapan berbicara, dan kapan mengambil keputusan. Ini sangat penting untuk mengatasi dinamika keadaan yang terus berubah. Kalau kita banyak bicara padahal yang dituntut adalah mendengarkan, ini juga kurang. Kalau kita lebih banyak mendengarkan padahal yang dituntut adalah berbicara, ini juga kurang. Kalau kita hanya bicara dan mendengarkan padahal yang dituntut adalah mengambil keputusan, ini juga kurang. Intinya, sebelum memimpin orang lain, entah peranan atau jabatan, syarat yang harus kita penuhi adalah memimpin diri sendiri. Tidak mungkin kita bisa menjalankan prinsip-prinsip dasar kepemimpinan itu tanpa kemampuan dalam memimpin diri sendiri.

Tidak ada orang yang bisa memimpin orang lain
sebelum dapat memimpin dirinya.”
(William Penn)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s