UMUR UMAT ISLAM TIDAK AKAN LEBIH DARI 1500 TAHUN

 No. 1-5 Tanda Kecil Kiamat pada Permula’an Islam

  1.   Diutusnya Nabi Muhammad saw.

“Aku diutus adalah bersama’an dengan kiamat seperti dua jariku ini,” Dan beliau mengisyaratkan dengan menggiringkan jari telunjuk dan jari tengahnya.” (Keshahihan hadits ini adalah Muttafaq ‘Alaih, yang juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah, Anas dan Sahal bin Sa’ad), (HR. shohih Muslim dari Sahl bin Sa’ad, dalam Ringkasan Shohih Muslim, M. Nashiruddin Al-Bani, hadits no. 2062, hal-1065, terbitan Gema Insani).

Dalam riwayat lain Beliau bersabda : “Aku diutus bersama’an dengan kiamat, dan sungguh ia hampir saja mendahuluiku.” (Hadits ini dikeluarkan oleh Ahmad dan Ath Thabari dengan sanad yang hasan dari hadits Buraidah bin Hushaib).

“Amma ba’du, maka sesungguhnya perkata’an yang paling benar adalah Kitabullah, dan sesungguhnya petunjuk yang paling utama adalah petunjuk Muhammad dan seburuk-buruk perkata’an adalah kabar baru yang tidak jelas asal-usulnya, sedangkan segala kabar baru yang tidak jelas asal-usulnya adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah kesesatan dan setiap kesesatan adalah di neraka, hari kiamat akan datang kepadamu dengan tiba-tiba, saya diutus oleh Allah bersama’an dengan hari kiamat seperti ini, kiamat itu akan datang kepada kamu di pagimu atau di petang harimu.” (Hadits riwayat Ahmad, Muslim, Nasa’I, dan Ibnu Majah dari Jabir).

“Saya diutus pada waktu yang beriringan dengan hari kiamat yang mana aku mendahuluinya sebagaimana ini mendahului ini.” Dan Beliau saw. mengisyaratkan kepada kepada jari telunjuk dan jari tengah beliau.” (Hadits ini diriwayatkan oleh Tirmidzi dan Ath Thabari dari Al Mustaurad bin Syaddad).

“Aku diutus bersamaan dengan akan datangnya kiamat.” (HR. Imam Qurthubi dalam kitabnya At Tadzkirah).

  1.   Terbelahnya bulan

Telah dekat datangnya saat itu dan Telah terbelah bulan*. (QS. Al Qamar 54:1).

(Kabar terbelahnya bulan ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Muslim, Ahmad dan lain sebagainya. Tafsir Ibnu Katsir, surat Al Qamar, Juz. 4).

  1.   Penaklukan Baitul Maqdis dan Kematian Masal oleh wabah penyakit yang mematikan dengan cepat

“Hitunglah ada enam perkara yang akan terjadi menjelang (di gerbang) hari kiamat, yaitu : Kematianku, kemudian penaklukan Baitul Maqdis, kemudian kematian massal seperti penyakit Qu’as (penyakit yang mematikan kambing dengan cepat). Kemudian melimpahnya uang (harta) sehingga apabila seseorang diberi gaji seratus dinar (dinar adalah uang yang terbuat dari emas murni), maka ia tetap tidak puas (kesal), kemudian munculnya fitnah (goda’an, kekacauan dan kemaksiatan) yang memasuki setiap rumah-rumah orang ‘Arab, kemudian adanya gencatan senjata (perdamaian) antara kamu dengan Bani Ashfar (Eropa dan Amerika), kemudian mereka mengkhianati kamu, dimana mereka akan menyerangmu di bawah 80 bendera dan di bawah tiap-tiap bendera itu terdapat 12000 orang (tentara). (Riwayat Bukhari dalam kitab Shahihnya dari ‘Auf bin Malik, kitab Al Jizyah wa Al Mawada’ah, Juz. 6. diriwayatkan oleh Ahmad dan Thabrani dari Mu’adz bin Jabal. Dan di dalam Asshahihah Al Albaani 1883).”

(Kitab sejarah “Tarikh Ath Thabari”, Juz. 3, pembahasan mengenai Penaklukan Baitul Maqdis. Kitab

“Mu’jamul Buldan, Yaaquutul Hamra,” Juz 1, hal. 180-181. kitab “Al Mausu’ah Adzahabiyah,” oleh Dr. Fathimah Mahjub, Juz. 8, Baitul Maqdis). (Dapat juga dilihat pada buku Sejarah Islam :Ahmad Al-Usairy, terbitan Akbar dan buku Umur Umat Islam : Amin Muhammad Jamaluddin, terbitan Cendekia)

  1.   Pertempuran dua kelompok besar dari Kaum Muslimin

“Tidak akan berdiri hari kiamat sehingga dua kelompok yang besar dari Kaum Muslimin saling berperang dengan satu seruan (slogan kebenaran) yang sama.” (Ini adalah sebagian teks hadits yang shahih yang diriwayatkan oleh Ahmad, Bukhari, Muslim dan lain sebagainya dari Abu Hurairah), ((HR. shohih Muslim dari Abu Hurairoh, dalam Ringkasan Shohih Muslim, M. Nashiruddin Al-Bani, hadits no. 2007, hal-1027-1028, terbitan Gema Insani).

(Dapat juga dilihat pada buku Sejarah Islam :Ahmad Al-Usairy, terbitan Akbar dan buku Umur Umat Islam : Amin Muhammad Jamaluddin, terbitan Cendekia)

  1. Munculnya api Hijaz

“Tidak akan berdiri hari kiamat sehingga keluar api dari negeri Hijaz yang akan menerangi leher-leher onta di Bashra.” (Diriwayatkan oleh Bukhari dalam kitab shahihnya dengan nomor 7118 dan juga diriwayatkan oleh Hakim dari Abu Hurairah), (HR. shohih Muslim dari Abu Hurairoh, dalam Ringkasan Shohih Muslim, M. Nashiruddin Al-Bani, hadits no. 2011, hal-1029, terbitan Gema Insani).

.”Imam Nawawi telah berkata : “Pengetahuan akan keluarnya api ini sudah tidak perlu diragukan lagi (mutawatir, valid) bagi semua penduduk Syam.” (Lihat kitab Fathul Baari, Juz. 13, kitab Al Fitan. Dan lihat juga kitab At Tadzkirah oleh Imam Qurthubi dan kitab Asyratussya’ah oleh Al Barzanji).

No. 6-46 Tanda Kecil Kiamat Setelah Permula’an Islam Hingga Pembatas dengan Tanda Besar Kiamat.

  1. Budak wanita atau wanita merdeka akan melahirkan tuannya

“Ketika Rasulullah saw. ditanya oleh malaikat Jibril tentang kiamat, maka beliau menjawab : “Yang ditanya tentangnya tidaklah lebih mengetahui dari si penanya.” Kemudian Jibril berkata lagi : “Kalau begitu kabarkanlah kepada saya tentang tanda-tandanya.” Beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab : “Seorang budak wanita (atau wanita merdeka, al amah) akan melahirkan tuan wanitanya, dan engkau akan melihat orang-orang yang tidak berterompa, tidak berpakaian, miskin dan para pengembala kambing (para rakyat jelata yang miskin) akan tinggal di gedung- gedung yang menjulang tinggi.” (Ini adalah sebagian dari teks hadits shahih yang muttafaq ‘alaih, diriwayatkan oleh Muslim dari ‘Umar bin Khaththab dan diriwayatkan oleh Bukhari dari Abu Hurairah dengan lafadz yang berbeda. Juga diriwayatkan oleh Ahmad dari Ibnu ‘Abbas. Hadits ini dimuat oleh Albaani dalam kitab shahihnya dengan nomor 1345 dan diriwayatkan oleh Ibnu Majjah dan Nasa’i dari Abu Hurairah dan Abi Dzar).

  1.   Orang-orang bodoh dijadikan pemimpin & rakyat yang miskin akan tinggal di gedung-gedung yang tinggi menjulang

“Apabila engkau melihat orang-orang yang tidak berterompa, tidak berpakaian (para rakyat jelata yang miskin), yang tuli dan bisu menjadi raja bumi, maka itulah. Tanda-tanda kiamat. Dan apabila engkau melihat para pengembala binatang ternak yang hitam tinggal di gedung-gedung yang menjulang tinggi, maka itulah. Tanda-tanda kiamat.” (HR. Muslim dalam kitab Shahih Muslim).

“Apabila para pengembala onta yang hitam yang tidak jelas asal-usulnya tinggal di gedung-gedung yang tinggi.” (HR. Bukhari).

  1.   Penghalalan zina, penghalalan sutera bagi laki-laki, penghalalan minuman keras, penghalalan alat musik, harta umum (umat atau negara) akan menjadi milik bagi sekelompok orang, sekelompok orang akan mena’ati isterinya sedangkan ia durhaka kepada ibunya, seorang bersikap kering kepada ayahnya dan lemah lembut kepada temannya, manusia bersuara tinggi di masjid-masjid, seorang akan dihormati karena orang takut akan kejahatannya, penghalalan para penyanyi wanita.

“Sungguh akan ada dari umatku beberapa kelompok manusia yang menghalalkan zina, sutera, khamar, dan musik-musiknya.” (HR. Bukhari dalam kitab shahihnya no. 5590 dari Abu Amir atau Abu Malik Al Asy’ari. Dan diriwayatkan oleh Abu Dawud dari Abu Malik, dalam Ash Shahihah Al Albaani No. 91).

“Terhadap umat ini akan terjadi pembenaman bumi, perubahan bentuk (kepada yang buruk) dan bumi longsor, apabila sudah muncul para penyanyi wanita, alat-alat musik dan minuman-minuman keras (khamer).” (Hadits shahih dari Tirmidzi dari ‘Umran bi Hushain. Dan dalam Ash Shahihah Al Albaani, no. 2203).

“Sesungguhnya Allah telah melaknat khamer, pemerasnya, orang yang mengambilnya, peminumnya, penuangnya, pembawanya, orang yang akan dibawakan untuknya, penjualnya, pembelinya dan orang yang memakan hasil usaha darinya.” (Diriwayatkan oleh Ahmad, Baihaqi dan Ibnu majjah dari ‘Abdullah bin ‘Umar).

“Apabila umatku melakukan 15 perkara maka mereka akan mendapat bala bencana. Beliau Shallallhu ‘Alaihi wa Sallam ditanya: “Apakah ia wahai Rasulullah?” Beliau menjawab : “Apabila harta rampasan perang (milik umum) dikuasai oleh segelintir orang, amanah jadi rampasan, harta zakat jadi hutang (denda), seorang laki-laki menaati isrinya sedangkan ia mendurhakai ibunya, ia berbuat baik kepada temannya dan berbuat kasar kepada bapaknya, suara-suara meninggi di mesjid-mesjid, yang menjadi pemimpin suatu kaum (bangsa) adalah orang yang paling hina (bersifat keji). Seorang laki-laki dihormati disebabkan oleh karena orang takut akan sifat jahatnya, khamer sudah biasa diminum, sutera sudah biasa dipakai (olaeh kaum laki-laki), munculnya para penyanyi perempuan (biduawanita) dan alat-alat musik, orang-orang yang dari umat yang terakhir melaknat umat yang terdahulu, maka ketika itu hendaklah mereka menunggu kedatangan angin merah atau pembenaman manusia ke dalam bumi atau perubahan kepada bentuk yang buruk.” (Diriwayatkan oleh Tirmidzi dari dua jalan yaitu ‘Ali dan Abu Hurairah, ia

berkata : “Bahwa ini adalah hadits gharib, dan kami tidak mengetahui seorangpun yang meriwayatkan hadits ini dari Yahya bin Sa’id Al Anshari selain dari Al Faraj bin Fudhalah, sedangkan sebagian ahli ilmu yang mengkritiknya dari segi kemampuan hafalannya terhadap hadits ini. Sedangkan Waki’ dan banyak para imam telah mengambil riwayat darinya. Menurut pandangan Amin Muhammad Jamaluddin, walaupun hadits ini mempunyai kelemahan dari satu segi akan tetapi kelemahan ini adalah tipis dan hadits seperti ini tidak ditinggalkan (tidak boleh diabaikan). Dan Amin Muhammad Jamaluddin sengaja mengetengahkan hadits ini karena semua tanda yang disebut dalam hadits ini terjadi).

  1. Musuh berlomba-lomba memperebutkan kaum Muslimin.

“Hampir saja umat-umat (selain kamu) memperebutkan kamu dari segala penjuru sebagaimana orang-orang yang sedang makan memperebutkan semangkuk makanan mereka.” Para sahabat bertanya : “Apakah jumlah kita sedikit pada waktu itu wahai Rasulullah?” Beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab : “Pada saat itu jumlah kamu banyak, akan tetapi keberadaan kamu tak ubahnya seperti buih air bah, ketakutan (keseganan) musuh-musuhmu akan tercabut dari dada mereka, dan di dada masing-masing kamu terdapat Al Wahan.” Para sahabat bertanya : “Apakah Al Wahan itu wahai Rasulullah?” Beliau bersabda : “Cinta dunia dan takut akan mati.” (Hadits hasan yang diriwayatkan olah Ahmad dalam kitab musnadnya, 5;78, dan dalam kitab Al Hilyah Abu Nu’aim), (HR. shohih: Al Misykah (5369), Ash-Shahihah (956) dari Tsauban, dalam Shohih Sunan Abu Daud, M. Nashiruddin Al-Bani, jilid 3, hadits no. 4297, hal-36, terbitan Pustaka Azzam).

  1. Salam hanya diucapkan sebagai tanda kenal & wanita ikut bekerja.

“Di pintu gerbang (dekat)hari kiamat :Salam (ucapan Assalamu’alaikum) hanya diucapkan pada orang-orang yang khusus (yang sudah kenal saja), tersebar dan berkembangnya perdagangan, sehingga seorang istri membantu suaminya untuk berdagang.” (Hadits shahih lighairihi, riwayat Ahmad dan Ath Thayalisi dari Ibnu Mas’ud, I;405).

  1. Tidak adanya kehati-hatian manusia dalam mencari rizki yang halal

“Akan datang kepada manusia suatu zaman, dimana orang-orang tidak perduli lagi terhadap apa-apa yang mereka peroleh, apakah rizki itu dari yang halal ataukah dari yang haram.” (HR. Bukhari dan Nasa’I dari Abu Hurairah. Diriwayatkan Thabrani dari ‘Urwah bin Zubair dan dari Anas. Telah berkata Al Haitsami bahwa sanadnya adalah baik dan para perawinya adalah para periwayat hadits-hadits shahih).

  1. Banyak dan menyebarnya perbuatan bohong dan banyaknya pasar

“Kiamat hampir saja akan berdiri apabila sudah banyak perbuatan bohong, masa (jarak waktu) akan terasa dekat (cepat) dan pasar-pasar akan berdekatan (karena sangat banyaknya).” (Hadits shahih yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dalam kitabnya shahihnya, no. 1882 dari Abu Hurairah).

“Celakalah orang yang berbicara dusta dengan maksud agar membuat orang-orang tertawa (karena lucu), celakalah ia dan kemudian celakalah ia.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Nasa’i dan dihasankan oleh Tirmidzi dan Bahaz bin Hakim dari ayahnya dari kakeknya yang bernama Mu’awiyah bin Haidah, sanadnya adalah kuat. Lihat kitab Subulussalam, Juz. 4;1599).

  1. Tersebarnya pena

“Sesungguhnya di pintu gerbang kiamat akan muncul dan tersebarnya banyak pena.” (Hadits ini adalah sebagian dari matan hadits shahih yang diriwayatkan oleh Ahmad dalam kitab Musnadnya dari Thariq bin Shihab dari ‘Abdullah bin Mas’ud).

“Sesungguhnya diantara syarat-syarat kiamat adalah dan meluasnya ilmu.” (HR. Nasa’I dari ‘Umar bin Taghlib dalam Sunan An Nasa’I, 7;244).

  1. Menggembungnya bulan, Mesjid hanya dijadikan sebagai jalan-jalan dan banyak mati mendadak

“Diantara tanda dari sudah mendekatnya kiamat adalah menggembungnya bulan sabit (awal bulan).” (Hadits shahih yang diriwayatkan oleh Al Albaani dalam kitab Ash Shahihah dengan nomor 2292, hadits ini dalam riwayat Thabrani adalah berasal dari Ibnu Mas’ud dan dalam riwayat Ath Thayalisi adalah berasal dari Abu Hurairah).

“Diantara tanda dari sudah mendekatnya kiamat adalah bahwa orang akan melihat bulan sabit seperti sebelumnya, maka orang akan mengatakan satu bentuk darinya untuk dua malam dan mesjid akan dijadikan sebagai jalan-jalan serta meluasnya mati mendadak.” (Ini adalah hadits hasan menurut Ath Thayalisi dari Anas dan dalam kitab Ash Shahihah Al Albaani dengan nomor 2292).

  1. Banyaknya jumlah polisi, penjual belian jabatan atau amanah, memandang remeh darah, adanya manusia yang menjadikan Al Qur’an sebagai seruling, pemutusan silaturahim

“Diantara syarat-syarat hari kiamat adalah timbulnya hal-hal keji, kevulgaran dalam kekejian, pemutusan silaturahim, pengkhianatan terhadap orang-orang jujur dan kepercayaan terhadap orang-orang berkhianat.” (Hadits shahih yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Al Bazzar dari Ibnu ‘Umar dan dimuat oleh Al Albaani dalam Ash Shahihah, nomor 2290).

“Bersegeralah kamu untuk melakukan amal shaleh sebelum datang 6 perkara: pemerintahan orang-orang jahil, banyaknya jumlah polisi, penjual belian hukum (jabatan), memandang remeh terhadap darah, pemutusan silaturrahim, adanya manusia yang menjadikan Al Qur’an sebagai seruling dimana mereka memajukan salah seorang dari mereka (untuk menjadi imam) agar ia dapat menyanyikannya untuk mereka walaupun ia adalah orang yang paling sedikit kefaqihannya.” (Hadits shahih yang diriwayatkan oleh Thabrani dari ‘Abis Al Ghifari. Diriwayatkan oleh Ahmad dalam kitab Musnadnya. Dan dimuat oleh Al Albaani dalam Ash Shahihah dengan nomor 979).

“Bacalah Al Qur’an dengan tata cara dan tata suara orang ‘Arab, dan hendaklah kamu menjauhi cara bacaan orang-orang fasik, karena setelah (meninggalnya) aku akan muncul sekelompok orang yang akan menggaungkan Al Qur’an seperti nyayian-nyanyian, senandung para rahib dan rintihan yang mana bacaannya hanya sampai di kerongkongan mereka sedangkan hati mereka dipenuhi fitnah (jauh dari isi ajaran Al Qur’an) dan hati orang-orang yang menyimak bacaan mereka adalah seperti hati mereka juga.” (HR. Ibnu Waddhah dari Hudzaifah).

  1. Ilmu agama akan dituntut dari orang yang berilmu dangkal

“Sesungguhnya dari syarat-syarat hari kiamat adalah ilmu akan dituntut dari orang-orang kecil.” (Hadits shahih riwayat Thabrani dari Abu Umayyah Al Jamhi, dan diriwayatkan juga oleh Ibnu Mubarak, serta dimuat dalam shahih Albaani nomor 695).

  1. Munculnya wanita mutabarrijat (yang membuka aurat), polisi menyakiti rakyat, munculnya mobil

“Ada dua macam ahli  neraka yang belum aku saksikan, yaitu: Suatu kaum yang membawa cemeti seperti ekor-ekor sapi untuk memukul manusia, dan wanita-wanita yang berpakaian akan tetapi sebenarnya mereka tidak berpakaian yang menanggalkan tutup kepala yang menarik kepada maksiat, kepala mereka seperti punuk-punuk onta yang miring, mereka itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mendapatkan baunya sedangkan bau surga itu dapat tercium dari jarak sekian.” (Imam Nawawi berkata: “Hadits ini adalah merupakan salah satu dari mu’jizat Nabi Muhammad saw. karena apa-apa yang Beliau kabarkan tersebut telah terjadi, adapun orang-orang pembawa cemeti itu adalah para anggota polisi.” (Kitab shahih Muslim Syarhun –An Nawawi, Juz. 17, hal. 190).

“Akan muncul di akhir zaman umatku orang-orang yang berkendaraan di atas beberapa pelana, seperti pelana-pelana kendaraan tunggangan, mereka berhenti dengan kendaraan tersebut di depan mesjid, wanita-wanita mereka berpakaian akan tetapi sebenarnya mereka adalah telanjang, di atas kepala mereka ada sesuatu seperti punuk onta yang kering, maka laknatlah mereka karena sesungguhnya mereka adalah terlaknat.” (Diriwayatkan oleh ibnu Hibban dalam hadits shahihnya, kitab Al Mustadrak, dan juga diriwayatkan oleh Hakim dari ibnu ‘Umar).

18  Manusia akan bermegah-megah dalam membangun mesjid

“Tidak akan terjadi kiamat, sehingga manusia bermegah-megah (berbangga-bangga) dengan mesjid-mesjid.” (Hadits shahih riwayat Ahmad dalam kitab Musnadnya 3:134, 145. Dalam kitab Sunan Nasa’i 2:23. Dalam Sunan Abu Dawud 449 dan dalam Sunan Ibnu Majjah 739 dari Anas ra.).

  1. Orang-orang akan mewarnai rambut mereka dengan warna hitam

“Akan ada suatu kaum di akhir zaman yang mewarnai (mencelup) rambut mereka dengan warna hitam seperti bulu merpati sedangkan mereka itu tidak akan mencium bau surga.” (Hadits shahih dalam kitab Sunan Abu Dawud 4212, dan dalam kitab Sunan Nasa’i 8;138 dari Ibnu Abbas).

“Silahkan rubah warna uban ini akan tetapi jauhilah warna hitam.” (HR. Bukhari).

  1. Adanya keinginan yang mendalam untuk dapat melihat Nabi Muhammad saw.

“Sungguh akan datang kepada seseorang diantara kamu suatu zaman, dimana melihatku (bertemu dengan beliau) lebih ia sukai dari pada keluaganya dan hartanya.” (HR. Bukhari dalam kitab shahihnya dari Abu Hurairah. Dan juga riwayat Muslim serta Imam Ahmad).

  1. Munculnya angan-angan untuk mati

“Tidak akan berdiri kiamat, sehingga apabila seorang laki-laki melewati sebuah kubur, maka ia akan berkata: “Aduhai, alangkah baiknya seandainya aku juga berada di tempatnya.”” (HR. Bukhari dalam kitab shahihnya (nomor 7115) pada kitab Al Fitan dari Abu Hurairah. Kitab Shahih Muslim (157) dalam kitab Al Fitan. Dan Sunan Ahmad 5;530), ((HR. shohih Muslim dari Abu Hurairoh, dalam Ringkasan Shohih Muslim, M. Nashiruddin Al-Bani, hadits no. 2008, hal-1028, terbitan Gema Insani).

Dalam riwayat Muslim berbunyi: “Dan ia berkata: “Aduhai betapa baiknya sekiranya saya berada pada tempat penghui kubur ini. Sedangkan ia tidak karena agama (sebagai pegangan) kecuali bencana (itu saja).”

Dalam riwayat Ahmad berbunyi: “Sedangkan ia tidak mempunyai kecintaan untuk dapat bertemu dengan Allah.”

  1. Tersebarnya rumah dan kendara’an untuk setan

“Akan muncul onta untuk setan-setan dan rumah-rumah untuk setan-setan. Adapun onta untuk setan, maka aku (Abu Hurairah) sudah melihatnya dimana salah seorang kamu ada yang bepergian dengan kendaraan-kendaraan (onta-onta) pendampingnya yang telah dipasangkan pelananya, maka satupun dari onta-onta tersebut yang dia kendarai, kamudian ia melalui seorang saudaranya yang telah terputus jalannya (tidak mampu lagi melanjutkan perjalanannya) akan tetapi, ia tidak menumpangkannya (di atas kendaannya yang kosong tersebut). Adapun rumah-rumah untuk setan-setan maka aku belum menyaksikannya.” (Hadits shahih yang diriwayatkan oleh Abu Dawud 2568 dari Abu Hurairah. Hadits ini dalam kitab Ash Shahihah Albaani nomor 93).

  1. Pembunuhan sesama manusia tanpa tujuan

“Demi yang diriku di tangan-Nya, sungguh akan datang kepada manusia suatu zaman dimana si pembunuh tidak mengerti mengapa ia membunuh dan si terbunuh tidak mengerti mengapa ia membunuh.” (HR. Muslim dalam kitab Shahihnya dari Abu Hurairah 2908), (HR. shohih Muslim dari Abu Hurairoh, dalam Ringkasan Shohih Muslim, M. Nashiruddin Al-Bani, hadits no. 2010, hal-1028-1029, terbitan Gema Insani).

  1. Munculnya cara hidup mewah, manja dan boros

“Maka demi Allah, bukan kefakiran yang aku takutkan kepada kamu akan tetapi yang aku takutkan adalah bahwa dunia akan dilapangkan untuk kamu sebagaimana ia telah diluaskan kepada orang-orang yang sebelum kamu, maka kamu akan berlomba-lomba untuknya sebagaimana mereka (para pendahulu tersebut) berlomba-lomba, lalu ia akan menghancurkan kamu sebagaimana ia telah menghancurkan mereka.” (HR. Muslim, Ahmad, Tirmidzi dan Ibnu Majjah dari ‘Amru bin ‘Auf Al Anshari).

“Sesungguhnya dunia akan dibukakan untuk kamu sehingga kamu menghiasi. Kami bertanya: “sedangkan kami tetap dalam agama kami seperti hari ini?” Beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab: “Ya, sedangkan kamu

tetap berada dalam agamamu seperti hari ini.” Kami bertanya: “Apakah kami pada zaman ini lebih baik ataukah zaman tersebut?” Beliau menjawab: “Bahkan kamu pada zaman ini lebih baik.” (HR. Bazzar dari Abu Juhfah).

“Kamu pada hari ini lebih baik daripada zaman dimana apabila diangkat dari salah seorang kamu sepiring makanan maka akan datang pula kepada kamu piring yang lain (banyaknya makanan dengan piring makanan yang berganti-ganti) dan kamu akan berangkat pagi dengan suatu pakaian yang lain dan kembali sore dengan pakaian yang lain dan kamu akan melapisi rumahmu dengan kain sebagaimana ka’bah dilapisi dengan kain.” (HR. Bazzar dan Thabrani dari ‘Abdullah bin Mas’ud dan ‘Abdullah bin Yazid Al Khathami).

“Demi Allah sekiranya aku mempunyai roti dan daging sungguh aku akan memberikannya kepada kamu, akan tetapi kamu hampir saja akan menemui orang-orang yang bertemu dengan masa tersebut dimana ia akan didatangkan dengan banyak mangkuk makanan dan kamu akan memakai pakaian seperti kain-kain penutup ka’bah.” (Hadits shahih yang diriwayatkan oleh Ahmad dalam Musnadnya (Juz. 3, hal. 487) dari Thalhah, dimana riwayat hadits ini mencukupi syarat hadits Muslim).

“Apabila umatku berjalan dengan sombong dan yang menjadi pelayan mereka adalah putra putri raja, putra putri Parsi dan Romawi, maka orang yang paling buruk (bersifat jelek) akan berkuasa terhadap orang-orang yang paling baik (pilihan).” (HR.shohih  Tirmidzi dari Abdullah bin Umar dalam Ash Shahihah Albani nomor 957).

  1. Taklid buta terhadap adat dan kebiasa’an kaum Yahudi dan Nasrani

“Sungguh kamu akan mengikuti jalan hidup orang-orang yang sebelum kamu sejengkal dengan sejengkal, sehasta dengan sehasta (tanpa berbeda sedikitpun) sehingga walaupun mereka masuk ke lubang kadal maka kamu juga akan mengikuti mereka. Kami bertanya: “Wahai Rasulullah saw. (apakah kaum yang akan kami ikuti tersebut adalah) kaum Yahudi dan Nasrani?”, maka beliau menjawab: “Siapa lagi (kalau bukan mereka)?” (HR. Bukhari nomor 7320, kitab Al I’tisham bi Al kitab wa As Sunnah dari Abi Sa’id Al Khudri. Dan diriwayatkan Muslim dalam kitab Shahihnya), (HR. shohih Muslim dari Abu Sa’id Al -Khudri, dalam Ringkasan Shohih Muslim, M. Nashiruddin Al-Bani, hadits no. 2002, hal-1025, terbitan Gema Insani).

“Tidak akan berdiri kiamat sehingga umatku mengikuti (umat) abad-abad yang sebelum mereka. Maka ditanyakan kepadanya Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: “Wahai Rasulullah saw., seperti Persia dan Romawi?” Beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Tidak ada manusia lain selain mereka.” (HR. Bukhari dari Abu Hurairah nomor 7319).

  1. Terpecahnya umat Islam kepada beberapa kelompok

“Kaum Yahudi telah terpecah menjadi 71 atau 72 golongan dan Kaum Nasrani telah terpecah menjadi 71 atau 72 golongan dan umatku akan terpecah menjadi 73 golongan.” (HR. Abu Dawud nomor 4596 dari Abu Hurairah dan dengan sanad yang lain dari Mu’awiyah. Dalam kitab Ash Shahihah Albaani dengan nomor 204. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Tirmidzi sedangkan ia berkata bahwa hadits ini adalah hasan shahih. Dan juga diriwayatkan oleh Ibnu Majjah dan lainnya).

  1. Munculnya para qori Al Qur’an yang menjadikan Al Qur’an sebagai dagangan

“Bacalah karena semuanya adalah baik dan akan datang beberapa kelompok manusia nantinya yang akan membacanya dengan sangat teliti (untuk membaguskan bacaan) seperti anak panah yang dilempar setelah disetel dengan teliti, mereka menginginkan (upahnya) dengan segera dan tidak mengakhirkannya (di akhirat).” (Hadits shahih sesuai dengan syarat Muslim yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, Juz. 3 hal. 58 dari Jabir).

  1. Munculnya para pengingkar sunah

“Ingatlah aku telah dianugerahi Allah dengan Al Qur’an dan sesuatu yang sederajat dengannya? Dan ingatlah hampir saja akan muncul seorang laki-laki yang kenyang di atas kursinya sambil berkata: “Kamu harus memegang Al Qur’an, maka segala sesuatu yang kamu jumpai halal di dalamnya maka halalkanlah ia dan segala sesuatu yang kamu temukan haram di dalamnya, maka haramkanlah ia.” (Hadits shahih yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dari Miqdam bin Ma’ad Yakrab dan diriwayatkan oleh Tirmidzi. Hadits ini dishahihkan oleh Al ‘Alamah Albaani dalam kitab Al Misykat nomor 163 dan ia banyak mempunyai riwayat).

Menurut Amin Muhammad Jamaluddin, tafsir dari hadits ini adalah. kelompok sesat yang disebut dengan Alqur’aniyyin atau Farmawiyyah (yang kenyang). Mereka terdapat di Mesir dan India. Kata kenyang yang dimaksud adalah kata celaan dari Nabi saw. terhadap orang yang suka hidup mewah ini (pemalas) yang kekenyangan yang menolak sunnah atau hadits Nabi saw. dan membuat keraguan padanya.

  1. Munculnya kaum Khawarij

Al Khawarij yang secara bahasa adalah berarti orang–orang yang keluar, mereka dinamakan demikian oleh karena mereka keluar dari kelompok Ali bin Abi Thalib atau dari Jamaah atau kelompok Muslimin. Rasulullah bersabda:

“Akan datang setelah (kematian) aku suatu kaum yang membaca Al Qur’an yang tidak melebihi tenggorokan mereka, mereka akan keluar dari agama sebagaimana anak panah keluar dari sasarannya kemudian mereka akan kembali kepadanya, merekalah seburuk-buruk manusia dan makhluk dan yang menjadi tanda mereka adalah kepala yang dicukur (botak).” (Hadits muttafaq ‘Alaih atas keshahihannya yang diriwayatkan dari banyak sahabat diantaranya: Abu Hurairah, Ibnu Mas’ud, Abu Dzar dan lain sebagainya).

“Mereka akan memerangi orang-orang Islam dan akan membiarkan orang-orang musyrik.” (HR. Bukhari).

“Kaum Khawarij itu adalah anjing-anjing penduduk neraka.” (hadits ini adalah shahih yang diriwayatkan oleh Ahmad, Ibnu Majjah, dan Hakim dari Abu Dzar).

  1. Kurangnya keberkatan waktu, berkurangnya amal, muncul dan tersebarnya kekikiran, diangkatnya ilmu dan diturunkan kejahilan, banyaknya fitnah, banyaknya pembunuhan sesama muslim, banyaknya gempa bumi

“Sesungguhnya di pintu gerbang hari kiamat akan datang hari-hari (suatu masa), dimana turun padanya kejahilan,

diangkat padanya Al ‘Ilmu (ilmu akhirat), dan banyaknya terjadi kegaduhan. Dan kegaduhan dimaksud mengakibatkan terjadinya pembunuhan.” (muttafaqun ‘alaih, juga diriwayatkan oleh Bukhari (7062 dan 7063). Dan oleh Muslim 2672. Dari Ibnu Mas’ud dan Abu Musa Al Asy’ari ra.), (HR. shohih Muttafaq ‘Alaih dari Abu Hurairoh, dalam Shohih Sunan Abu Daud, M. Nashiruddin Al-Bani, jilid 3, hadits no. 4255, hal-13, terbitan Pustaka Azzam).

“Kiamat tidak akan berdiri kecuali apabila ilmu telah diangkat, banyaknya terjadi gempa bumi, timbulnya huruhara-huruhara, banyaknya kegaduhan yaitu, pembunuhan.” (HR.Bukhari dalam kitab shahihnya, dari Abu Hurairah. Juga diriwayatkan oleh Ahmad dan Ibnu Majjah dalam kitab Sunannya), (HR. shohih Abu Daud dari Abu Musa, dalam Shohih Sunan Abu Daud, M. Nashiruddin Al-Bani, jilid 3, hadits no. 4278, hal-25, terbitan Pustaka Azzam).

“Berkurangnya amal dan tersebarnya kebakhilan.” (HR. Bukhari, Muslim, dan Abu Dawud dari Abu Hurairah).

“Jarak waktu akan saling mendekat, amal akan berkurang, kekikiran akan diturunkan, akan muncul fitnah-fitnah (cobaan, huru-hara) dan akan banyak Al Haraj (kegaduhan), mereka bertanya: “Apakah Al Haraj itu wahai Rasulullah saw.?” Beliau menjawab: “Pembunuhan, pembunuhan.” (HR. Bukhari dalam kitab shahihnya nomor 7061 dari Abu Hurairah. Dan dalam Shahih Muslim 107 dan Sunan Abu Dawud 4088), (HR. shohih Muslim dari Abu Hurairoh, dalam Ringkasan Shohih Muslim, M. Nashiruddin Al-Bani, hadits no. 2009, hal-1028, terbitan Gema Insani).

“Tidak akan berdiri kiamat sehingga zaman akan semakin dekat, maka setahun seperti sebulan, sebulan seperti sepekan, sepekan seperti sehari, sehari seperti sesaat dan sesaat (sejam) seperti terbakarnya sumbu lampu.” (dari Anas pada riwayat Tirmidzi dan dari Abu Hurairah pada riwayat Ahmad).

“Sesungguhnya pada waktu menjelang kiamat akan ada Al Haraj.” Aku bertanya : “Apakah Al Haraj itu wahai Rasulullah saw.?” Beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab: “Pembunuhan.” Maka sebagian kaum Muslimin bertanya: “Wahai Rasulullah saw. sesungguhnya kami pada saat sekarang dalam waktu satu tahun membunuh sekian kamu musyrikin.” Maka Rasulullah saw. menjawab : “ia tidak dimaksud peperangan terhadap kaum musyrikin akan tetapi peperangan sesama kamu sehingga seorang laki-laki akan membunuh tetangganya, anak pamannya atau kerabatnya.” (HR. Ibnu Majjah pada kitab Sunannya dan Ahmad dalam kitab Musnadnya).

“Menjelang hari kiamat akan terjadi kematian massal dan tahun-tahun gempa bumi.” (Hadits shahih pada Musnad Ahmad 4;104, begitu juga halnya bagi Abu Ya’la Al Mausuli dan Ad Darami).

  1. Agama dipelajari bukan untuk kemaslahatan agama

“Apabila harta rampasan perang dikuasai oleh sekelompok orang, lalu orang belajar bukan karena agama, maka ketika itu hendaklah mereka menunggu angin merah dan pembenaman manusia ke dalam perut bumi dan perubahan kepada bentuk yang buruk dan tanda-tanda yang akan datang secara beriringan seperti ikatan kawat usang yang terputus maka terlepaslah ia secara beriringan.” (HR. Tirmidzi dari Ali bin Ab Thalib).

  1. Anak-anak akan menjadi pemarah & hujan akan menjadi bencana

“Diantara tanda dan syarat kiamat adalah bahwa anak akan menjadi pemarah, hujan akan menjadi bencana (panas) dan bahwa jumlah orang-orang jahat akan membanjir.” (HR. Thabrani dari Ibnu Mas’ud).

“(Pada waktu itu) seorang laki-laki yang memelihara anak anjing adalah lebih baik daripada memelihara seorang anak.” (HR. Thabrani dari Abi Dzar).

  1. Tersebarnya pengkhianatan dan tuduhan terhadap orang-orang jujur & mempercayai atau mendekati orang-orang yang suka berkhianat dan Munculnya orang-orang bodoh yang ikut berbicara tentang urusan-urusan umum masyarakat

“Di pintu gerbang hari kiamat akan muncul tahun kepalsuan (yang penuh dengan penipuan), dimana orang-orang jujur akan menjadi tertuduh dan orang-orang yang semestinya tertuduh dipercayai. Dan pada masa itu pula muncul Ar Rawaibidhah. Lalu para sahabat bertanya: “Apakah Ar Rawaibidhah itu?” Berkata Rasulullah saw. : “Yaitu orang bodoh yang berbicara tentang urusan-urusan masyrakat umum.” (Hadits shahih Ahmad dan Thabrani dari Abu Hurairah ra. Dan dimuat oleh Albaani dalam Ash Shahihah nomor 1888).

“Diantara syarat-syarat hari kiamat adalah timbulnya hal-hal keji, kevulgaran dalam kekejian, pemutusan silaturrahim, pengkhianatan terhadap orang yang jujur dan kepercayaan terhadap orang-orang berkhianat.” (HR. shohih Ahmad dan Al Bazzar dari Ibnu Umar dan dimuat oleh Albani dalam Ash Shahihah, nomor 2290)

“Pada umatku yang terakhir akan muncul orang-orang yang akan mengatakan hal-hal yang belum pernah kamu dengar, dan hal-hal itu juga belum pernah didengar oleh bapak-bapakmu (nenek moyangmu), maka hendaklah kamu menjauhi orang-orang tersebut.” (HR. shohih Muslim dari Abu Hurairoh).

  1. Berkurangnya sifat amanah

“Apabila amanah telah disia-siakan maka tunggulah kiamat. Dan apabila telah diserahkan suatu pekerjaan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah kiamat.” (Ini adalah sebagian dari matan hadits shahih yang diriwayatkan oleh Bukhari dalam kitab shahihnya pada Kitabul ‘Ilmi dari Abu Hurairah).

  1. Kepada seorang laki-laki dikatakan: “Sungguh hebat ia, sungguh jarang orang seperti dia, dan sangat pintar ia! Sedangkan di dalam dadanya tidak ada iman.

(Hadits Muttafaqun ‘alaih atas keshahihannya. HR. Bukhari, Muslim, Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majjah dari Hudzaifah),(HR. shohih Muslim dari Abu Hudzaifah, dalam Ringkasan Shohih Muslim, M. Nashiruddin Al-Bani, hadits no. 2035, hal-1040-1041, terbitan Gema Insani).

Tanda Kecil Kiamat no. 36-46, inilah saat mendekati kemunculan Imam Mahdi (Imam Mahdi sebagai batas tanda kecil kiamat dan tanda besar kiamat)

  1. Invasi Irak ke Kuwait dan Pengepungan Irak

“Aku mempunyai informasi tentang peperangan-peperangan yang terjadi di akhir zaman.” Maka orang-orang berkata : “Beritahukan kepada kami, tidak mengapa, semoga Allah memberimu pahala yang lebih baik.” Maka beliau berkata: “Pada dekade-dekade hijrah setelah tahun 1300, dan hendaklah kalian menghitung beberapa dekade kemudian, Raja Romawi berpendapat bahwa perang dunia yang melibatkan seluruh dunia pasti terjadi, maka Allah menghendaki peperangan baginya. Tidak lama masa berlalu, satu dekade dan satu dekade lagi, berkuasalah seorang laki-laki dari negara yang bernama (Jerman), ia mempunyai nama hirr/kucing, ia ingin menguasai dunia dan memerangi semua negeri bersalju dan kaya, maka ia berada dalam murka Allah setelah berlangsung tahun-tahun api, ia dibunuh secara hina oleh rahasia Rusy atau Rus.* Pada dekade-dekade hijrah setelah 1300 tahun, hitunglah 5 atau 6, Mesir akan diperintah oleh seorang pria yang dijuluki sebagai (Nashir), orang-orang Arab menyebutnya Syuja’ul-Arab (pemberaninya orang-orang Arab), Allah menghinakannya dalam sebuah peperangan dan sebuah peperangn lagi, ia tidaklah mendapat kemenangan. Allah menghendaki untuk memberikan kemenangn bagi Mesir, kemenangan sejati bagi-Nya, pada bulan yang paling dicintai-Nya dan milik-Nya, maka pemilik rumah dan bangsa Arab menyenangkan Mesir dengan Asmar Sada, ayahnya Anwaru Minhu, lebih bercahaya dari dia, akan tetapi ia membuat perjanjian damai dengan pencuri-pencuri Masjidil Aqsha di negeri yang penuh duka. Dan di Irak Syam, ada pria yang sangat kejam …dan…sufyani, pada salah satu dari kedua matanya ada kasal, kelopak mata yang turun sedikit, namanya diambil dari pecahan kata shidam, dan dia shaddam liman aradhahu (penghancur bagi siapa saja yang menentangnya), dunia berkumpul menyerangnya di (Kut) kecil yang dimasukinya, dan ia tertipu. Tidak ada kebaikan di dalam diri sufyani kecuali dengan Islam. Ia adalah orang yang baik dan jahat, dan kecelakaan bagi pengkhianat Al Mahdi Al Amin (pemimpin yang mendapat petunjuk lagi dipercaya). Pada dekade-dekade hijrah setelah 1400 tahun, hitunglah dekade itu 2 atau 3…akan muncul Al Mahdi Al Amin (pemimpin yang mendapat petunjuk dan dapat dipercaya), ia memerangi seluruh dunia, bersatu padu memeranginya orang-orang yang tersesat (Nasrani :Abu Adam (penterjemah buku Huru-Hara Akhir Zaman)), orang-orang yang dimurkai  (Yahudi: Abu Adam) serta orang-orang yang keterlaluan dalam kemunafikannya di negeri Isra’ dan Mi’raj di dekat Gunung Mageddon. Akan keluar menghadapinya Ratu dunia dan tipu muslihat, pezina namanya (Amerika). Ia merayu dunia pada hari itu dalam kesesatan dan kekafiran. Yahudi dunia ketika itu berada di puncak ketinggian, menguasai Al Quds dan kota suci. Seluruh negeri datang dari laut dan udara, kecuali negeri-negeri salju yang sangat dingin dan negeri-negeri panas yang sangat panas. Al Mahdi melihat bahwa seluruh dunia sedang membuat tipu muslihat jahat terhadapnya dan meyakini bahwa Allah bisa membuat tipu muslihat yang lihai. Ia yakin bahwa seluruh alam adalah milik Allah, kepada Allah saja semua kembali. Seluruh dunia adalah pohon baginya akan dikuasainya sejak ranting hingga akarnya(…) maka Allah melempari mereka dengan anak panah yang paling dahsyat, yang membakar bumi, laut, dan langit mereka. Langit pun menurunkan hujan yang buruk dan seluruh penduduk bumi mengutuk semua orang kafir di bumi dan Allah mengizinkan hilangnya semua kekufuran.” (atsar Kaldah bin Zaid bin Barkah Al Madani. Asmal-Masalik li-Ayyamil-Mahdiy Al-Malik li Kullid-Dunya bi-Amrillahil-Malik. Yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, Ibnu Abbas dan Ali bin Abi Thalib ra. Dalam sebuah riwayat, semula Abu Hurairah takut menceritakannya, namun setelah beliau merasa maut hendak menjemput, ia takut menyembunyikan ilmu).

* : Keraguan pada perawi, adapun bagian bertitik merupakan ucapan yang terhapus dan rusak pada manuskrip asli.

“Akan muncul seorang laki-laki yang berasal dari suku Quraisy yang hidungnya pendek lagi mancung (runcing) yang akan menguasai suatu kekuasaan, kemudian ia dapat dikalahkan atau ia dicabut dari kekuasaannya, maka ia melarikan diri ke Rum dan kemudian ia membawa mereka ke Iskandariyah, maka ia memerangi  Ahli Islam (kaum Muslimin) dengan mereka, maka itulah awal dari pertempuran-pertempuran besar.” (HR. Arruyani dalam kitab Musnadnya dari Abu Dzar, dan ia juga disebut oleh pemilik kitab Al Isya’ah fii Asyratissa’ah, hal. 163).

“Dan peperangan di sebuah negeri yang lebih kecil daripada tulang ekor, yang menghimpun semua penduduk dunia (Ahlud-dunya), seakan-akan ia adalah negara paling kaya yang sedang berpesta pora. Pemimpin di negeri itu menyerahkan panjinya kepada seorang pemimpin kejahatan yang datang dari pantai jauh Barat sebagai awal proses berakhirnya zaman. Maka, pemimpin kejahatan itu mengumpulkan semua suaranya dari seluruh dunia, mengembalikan singgasana sang raja, menghancurkan Irak dalam pembantaian-pembantaian yang merupakan permulaan berakhirnya zaman. Amir negara tulang ekor yang kecil itu akan memerangi Al Mahdi dan sudah tiba kehancuran negeri itu sekali lagi, Karena amirnya adalah biang kerusakan…Al Mahdi (memerintah) membunuhnya, dengan terbunuhnya sang Amir maka tulang ekor kembali pada tubuh…).” (atsar Kaldah bin Zaid bin Barkah Al Madani, seorang ulama Madinah abad ke 3 Hijiriyah. Asmal-Masalik li-Ayyamil-Mahdiy Al-Malik li Kullid-Dunya bi-Amrillahil-Malik. Manuskrip di Darul-Kitabakhanah, Turki dengan label atau nomor (3664 / Turatsul- Madinah Al-Munawwarah).

“Akan datang dari Bani Umayyah seorang pria Akhnas (bersembunyi) di sebuah negeri yang berdekatan dengan sultan, kesultanannya dikalahkan dan direbut darinya. Lantas ia melarikan diri kepada orang-orang Romawi, kemudian datanglah orang-orang Romawi kepada orang-orang Islam, itulah awal terjadinya berbagai malhamah.” (Nu’aim bin Hammad dalam fitan, hal-291, 294, dari Abu Dzar dalam riwayatnya yang pertama dan dari Abdullah bin Amru dalam riwayat kedua. Diriwayatkan pula oleh Ruyani dalam Musnadnya dari Abu Dzar).

“Jika kamu melihat atau mendengar seorang laki-laki dari keturunan jababirah (orang-orang bengis) di sebuah negara, ia mempunyai kekuasaan yang dikalahkan, kemudian ia melarikan diri kepada orang-orang Romawi, maka itu adalah awal dari berbagai malhamah, orang-orang Romawi akan mendatangi orang-orang Islam.” (HR. Nu’aim bin Hammad dari Abdullah bin Amru bin Ash).

  1. Irak diboikot dan makanan ditahan darinya, dikepungnya Syam dan diboikotnya darinya makanan

“Jika perkara Sufyani telah muncul, maka tidak akan selamat dari bencana itu kecuali siapa yang bersabar menghadapi kepungan.” (HR. Nu’aim bin Hammad (Syaikh Imam Bukhori) meriwayatkan, dari Ali bin Abi Tholib).

“Hampir saja tidak boleh dibawa ke negeri Irak secupak (qafizh) makanan atau sebuah dirham,” kami (sahabat) bertanya :”Siapa yang melakukan itu ya Rasulullah saw.?” Beliau menjawab: “Orang-orang ‘ajam (non ‘Arab) yang melarang hal tersebut.” Kemudian beliau Shallallahu ‘Alaih wa Sallam berkata “Hampir saja tidak boleh dibawa secupak makanan (mudyun) atau sebuah dinar kepada penduduk Syam,” kami bertanya : “Siapa yang melakukan itu ya Rasulullah saw.?” Beliau menjawab : “Orang-orang Rum (Romawi) kemudian ia (jabir) diam sejenak dan berkata: “Telah bersabda Rasulullah saw.: Pada akhir masa umatku akan ada seorang khalifah yang melimpahkan harta selimpah-limpahnya dan ia sama sekali tidak akan menghitung-hitungnya.” (HR. shohih Muslim dalam kitab Al Fitan. Dan diriwayatkan pula oleh Imam Ahmad dalam kitab Musnadnya, Dari Jabir. Perawi berkata: “Saya bertanya kepada Abu Nadhrah dan Abul ‘Ala, apakah menurut anda, ia adalah Umar bin Abdul Aziz?” Keduanya menjawab: “Bukan, ia adalah Al Mahdi”).

  1. Fitnah kesusahan dan lari dari peperangan & fitnah sarrak (coba’an, pengaruh buruk dan kekacauan yang disebabkan oleh harta benda)

“Pada suatu waktu kami duduk-duduk bersama Rasulullah saw. Beliau berbicara tentang fitnah-fitnah (cobaan, huru-hara) sehingga beliau menyebut fitnah Al Ahlas. Lalu seseorang bertanya kepada beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: “Wahai Rasulullah saw., apakah fitnah Al Ahlas itu?” Beliau menjawab: “Pelarian diri (dari tanggung jawab seperti lari dari medan perang) dan hilangnya harta dan keluarga. Kemudian (beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyebut) fitnah As Sarrak (fitnah kesenangan) yang mana kekisruhannya berasal dari dua tapak kaki seorang laki-laki yang berasal dari kaumku yangmana ia mengaku berasal dari turunanku, sedangkan ia bukanlah dari turunanku, akan tetapi para wali saya adalah orang-orang bertaqwa. Kemudian manusia akan dipimpin seorang laki-laki seperti paha di atas rusuk (yang tidak stabil dan berlangsung tidak lama) kemudian datanglah fitnah Duhaimak (bencana huru-hara), yangmana ia tidak akan membiarkan seorang dari umat ini kecuali akan diserangnya. Apabila dikatakan ia telah selesai, maka ia akan menjadi-jadi. Pada pagi harinya seorang laki-laki akan beriman sedangkan pada sore harinya ia akan menjadi kafir sehingga manusia akan menjadi dua blok yaitu blok iman yang tidak ada kefasikan padanya dan blok fasik yang tidak ada iman padanya, apabila telah terjadi hal tersebut, maka tunggulah dajjal dari hari itu atau dari besoknya.” (Hadits shahih yang diriwayatkan oleh Abu Dawud 4077, Ahmad 2;133 dan Hakim, ia berkata: “Hadits ini sanadnya shahih dan dishahihkan olah Adz Dzahabi. Hadits ini dimuat oleh Ibnu Abi Hatim dalam kitabnya Al ‘Ilal. Lihat perincian tentang Fitnatul Ahlas, Fitnatus Sarra’ dan Duhaima’ dalam buku Amin Muhammad Jamaluddin: Al Qaulul Mubin fi Asyraathish Shughraa li Yaumid Din 108-113. Amin Muhammad Jamaluddin berpendapat hadits ini adalah shahih dan padanya ada cahaya kenabian), (HR. shohih Abu Daud dari ‘Umair bin Hani’ Al ‘Ansi dari Abdullah bin ‘Umar, dalam Shohih Sunan Abu Daud, M. Nashiruddin Al-Bani, jilid 3, hadits no. 4242, hal-3, terbitan Pustaka Azzam).

  1. Turki akan memerangi Irak

“Sekelompok manusia dari umatku akan turun di suatu dataran rendah yang mereka namakan dengan Bashrah pada tepi suatu sungai yang bernama Dajlah. Dan apabila telah datang akhir zaman datanglah Bani Qanthura’ (mereka adalah bangsa Turki) yang bermuka lebar dan bermata kecil sehingga mereka turun pada tepi sungai itu, maka terpecahlah penduduknya menjadi 3 kelompok, yaitu satu kelompok dari mereka mengikuti ekor-ekor sapi mereka di padang pasir (sibuk mengurus harta benda mereka) sedangkan mereka akan hancur, dan satu kelompok dari mereka hanya memperhatikan diri mereka sendiri dan mereka itu telah kafir, dan satu kelompok dari mereka menjadikan anak cucu mereka di belakang mereka kemudian mereka berperang, maka mereka itulah para syuhada’.” (Hadits hasan yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Abu Dawud 4318 dari Abu Bakrah, dan dalam sanad hadits ini ada satu kritikan yaitu tentang Sa’id bin Jumhan dimana Bukhari dan Ibnu Hatim mengkritiknya sedangkan Yahya bin Mu’in dan Abu Dawud menyatakan ketsiqahannya (kejujuran, kewaraan dan ketinggian kepribadiannya), sedangkan kritikan selalu didahulukan dari pujian sebagaimana yang sudah maklum dalam ilmu musthalah hadits, akan tetapi Amin Muhammad Jamaluddin menganggap hasannya hadits ini karena ia mempunyai tanda dan cahaya ke-Nabian), (HR. hasan Al Misykah (5432) dari Abu Bakrah dari Ibnu Yahya dari Abu Ma’mar, dalam Shohih Sunan Abu Daud, M. Nashiruddin Al-Bani, jilid 3, hadits no. 4306, hal-39-40, terbitan Pustaka Azzam).

  1. Munculnya Ashabur Rayatis Sud (para pembawa hitam)

“Akan keluar orang-orang dari Timur yang memberikan kekuasa’an kepada Al Mahdi (Ibnu Majjah, Thabrani, dan lain-lain).

“Akan muncul dari Khurasan (Afghanistan) bendera-bendera hitam, maka tidak ada sesuatu pun yang bisa mencegahnya, sehingga bendera-bendera itu ditancapkan di Eliya  (Al Quds).”  (HR. Ahmad, Tirmidzi, dan Nu’aim bin Hammad dari Abu Hurairah.  Ibnu Katsir berkata, “bendera-bendera hitam ini akan dibawa oleh para sahabat Al Mahdi”).

“Jika kalian melihat bendera-bendera hitam telah datang dari Khurasan, maka datangilah, sekalipun dengan merangkak di atas salju, karena di tengah mereka ada khalifahtullah Al Mahdi.”  (HR. Ahmad, Nu’aim bin Hammad, Hakim, dan Abu Nu’aim dari Tsauban, dishahihkan oleh Hakim dan disepakati oleh Imam Dzahabi. Musthafa Adawi menshahihkan hadits ini dalam Shahihul Musnad min Ahaditsi al-Fitan wal-Malahim).

“Akan muncul bendera hitam milik Bani Abbas, kemudian akan muncul dari Khurasan bendera lain yang berwarna  hitam, tutup kepala mereka hitam dan pakaian mereka putih…” Hingga beliau bersabda : Jarak antara kemunculannya dengan diserahkannya urusan kepada Al Mahdi adalah 72 bulan.” (Nu’aim bin Hammad meriwayatkan dengan sanad dari Muhammad bin Hanafiyah, Kitabul Fitan, hal-188, Syaikh Imam Bukhari).

“Jika kalian mendengar ada orang-orang yang datang dari Timur yang memiliki kecerdasan, pakaian mereka menakjubkan manusia, maka hari kiamat telah membayangi kalian.” (Kitabul-Fitan, Nu’aim bin Hammad, hal. 121).

“Akan datang bendera-bendera hitam dari timur, dipimpin oleh pria-pria seperti unta yang dikerangkeng, mereka memelihara rambut, nasab mereka dinisbahkan kepada desa-desa dan nama-nama mereka merupakan kiasan…” (Kitabul Fitan, Nu’aim bin Hammad, hal. 118).

Munculnya Ashabur Rayasti Sud adalah tanda kecil kiamat yang terjadi sebelum perang Armageddon. Tentang tanda ini telah secara gamblang dijelaskan oleh Amin Muhammad Jamaluddin. Inilah penjelasan Amin Muhammad Jamaluddin. Gerakan Thaliban muncul dengan panji-panjinya yang hitam, yaitu serba hitam dan baju putih. Sebuah model pakaian yang menakjubkan mausia dari segi bentuk dan cara pemakaian. Sunah dan atsar menyebut Rayatis Sud Ash Shigar (bendera-bendera hitam yang kecil) untuk membedakan dengan Rayatis Sud Al Kibar (bendera-bendera hitam yang besar) milik bani Abbas (Iran Syi’ah). Yang dimaksud dengan atsar-atsar Nabi saw. adalah bendera-bendera hitam milik Thaliban Afghanistan. Dari atsar tersebut menginformasikan adanya jarak antara kemunculan Ashabur Rayatis Sud dengan kemunculan Al Mahdi, yakni 72 bulan atau 6 tahun. Dan Ashabur Rayatis Sud inilah kelompok pertama yang membela Imam Mahdi dan menyerahkan kekuasa’an padanya.

Dengan kemunculan Ashabur Rayatis Sud, maka semakin dekatlah tanda akan terjadi perang Armageddon yang akan di’iringi 9 bulan kemudian perang malhamah kubra. Dan semakin dekatnya kiamat. Maka sungguh berita ini bukanlah berita biasa karena yang mengabarkan adalah Rasulullah saw., kita hanya tinggal menuggu waktu, karena rentetan kejadian yang Rasulullah saw. kabarkan telah terjadi. Semoga Kaum Muslimin dan Muslimat terhindar dari azab kiamat yang dahsyat. Amin. Wallahu a’lam bisawab.

  1. Kedatangan Barat (Rayatul Gharb) untuk menggempur para pembawa bendera hitam (Ashabur Rayatis Sud (memerangi terorisme)

Dengan kedatangan Barat menggempur Thaliban, bertambah semakin dekatlah tanda perang Armageddon, perang Malhamah kubra, munculnya Imam Mahdi, dan kiamat. Rasulullah juga kabarkan tentang kedatangan Barat ini, dan inipun menjadi tanda kiamat yang semakin dekat. Mari kita simak hadits yang Rasulullah saw. kabarkan tentang kedatangan barat.

“Tanda kemunculan Al Mahdi adalah munculnya bendera-bendera yang datang dari Barat, dipimpin oleh seorang laki-laki pincang dari Kandah.” (Nu’aim bin Hammad meriwayatkan dengan sanad dari Ka’ab, Al Fitan, Bab: “Tanda-tanda Terakhir Al Mahdi menjelang kemunculannya,” hal. 205).

Amin Muhammad Jamaluddin berpendapat tentang hal ini : “Semula saya tidak menyangka bahwa orang-orang Amerika memilih seorang laki-laki pincang untuk menjabat sebagai pimpinan Dewan Jendral Pasukan Koalisi. Semula saya berkata dalam hati, barangkali yang dimaksud dengan kata “pincang” di sini adalah orang yang lemah misalnya, atau pikirannya lemah. Karena dalam benak saya, mustahil mereka akan mengangkat seorang yang pincang sebagai panglima untuk sebuah kekuatan militer paling besar di dunia. Tentu hal ini akan menimbulkan kesan bahwa pasukan tersebut juga pincang dan lemah sebagaimana komandonya. Tetapi ketika saya melihat Jendral Richard Meyer datang dengan ditopang dua buah tongkat untuk menyatakan kepada bangsa Amerika perihal dimulainya operasi militer terpadu dari udara, darat, dan laut terhadap Afghanistan, maka sontak saya berucap, “Allahu Akbar! Sugguh benar sabdamu, wahai Rasulullah!”

  1. Gencatan senjata dan perdamaian antara kaum Muslimin dan Rum dan Perang persekutuan internasional (perang dunia (Armageddon)) yang akan datang, yakni yang sedang ditunggu oleh seluruh penduduk bumi. Di sini orang-orang Romawi (Amerika dan Eropa) meminta bantuan Kaum Muslimin untuk melawan kekuatan Timur komunis dan Syi’ah (Cina, Rusia, Iran dan sekutu-sekutu mereka).

“Kalian akan mengadakan perdamaian dengan bangsa Rum dalam keadaan aman. Lalu kalian akan berperang bersama mereka melawan suatu musuh dari belakang mereka. Maka kalian akan selamat dan mendapatkan harta rampasan perang. Kemudian kalian akan sampai ke sebuah padang rumput yang luas dan berbukit-bukit. Maka berdirilah seorang laki-laki dari kaum Rum, lalu ia mengangkat tanda salib dan berkata: “Salib telah menang.” Maka datanglah kepadanya seorang lelaki dari kaum muslimin, lalu ia membunuh laki-laki Rum tersebut. Lalu kaum Rum berkhianat dan terjadilah peperangan, dimana mereka akan bersatu menghadapi kalian di bawah 80 bendera, dan di bawah tiap-tiap bendera terdapat 12000 tentara.” (Hadits shahih yang diriwayatkan oleh Ahmad, Abu dawud, Ibnu Majjah dan Ibnu Hibban dari Dzu Makhmar ra. Hadits ini dishahihkan oleh Albaani dalam mentahqiq hadits-hadits Misyqat nomor 5424. dan juga ada dalam Shahih Al Jami’, juga dishahihkan oleh As Suyuthi serta ia mempunyai riwayat-riwayat yang lain (sebagai penguat, syahid). Padang rumput berbukit-bukit itu terdapat di Libanon. Hadits ini telah dijelaskan dalam buku ‘Umrul Ummah dan Al Qaulul Mubin).

“…Kemudian ketika kalian pulang dan sampai di daerah ysng hijau bertanaman banyak di daerah Dzu Tulul, ada seorang lelaki dari pengikut Nashrani mengangkat salib seraya berkata, ‘Salib telah menang!’ Lalu seorang lelaki dari kaum muslimin marah mendengarnya lantas ia mematahkan salib tersebut. Maka bangsa Romawi menyalahi perjanjian damainya, dan mereka pun mengumandangkan genderang perang.” (HR. shohih Abu Daud dari Hassan bin ‘Athiyah dari Makhul dan Ibnu Zakaria dari Khalid bin Ma’dan dari Jubair bin Nufair dari Dzu Mikhbar dari Rosululloh, dalam Shohih Sunan Abu Daud, M. Nashiruddin Al-Bani, jilid 3, hadits no. 4292 & 4293, hal-34-35, terbitan Pustaka Azzam).

Apakah perang Armageddon?

  1.   Peristiwa besar dan perang penghancuran
  2.   Pertemuan strategi dari perang raksasa dari banyak pihak yang sudah dekat waktunya
  3.   Perang persekutuan internasional (perang dunia) yang akan datang, yakni yang sedang ditunggu oleh seluruh penduduk bumi. Di sini orang-orang Romawi (Amerika dan Eropa) meminta bantuan Kaum Muslimin untuk melawan kekuatan Timur komunis dan Syi’ah (Cina, Rusia, Iran dan sekutu-sekutu mereka).
  4. Ia adalah perang politik dan agama
  5.   Ia adalah awal dari kemusnahan
  6. Lokasi utama perang ini adalah lembah Mageddon, Palestina
  7. Ia adalah perang nuklir yang meluluhlantakan sebagian besar senjata strategis pemusnah masal

Armageddon adalah kata-kata yang berasal dari bahasa Ibrani, yang terdiri dari dua kata, yaitu

  1. “Ar” yang berarti gunung atau bukit
  2. “Mageddon” adalah nama dari sebuah lembah di Palestina, yang mana lembah ini merupakan medan pertempuran yang akan datang tersebut. Yang akan membentang dari “Mageddon” di utara sampai ke “Edom” di selatan yang berjarak sekitar 200 mil dan sampai ke laut Putih (Tengah) di Barat dan ke bukit Mohab di timur yang berjarak 100 mil.

 

Para ahli militer, khususnya ahli perang tempo dulu memandang, bahwa kawasan ini merupakan sebuah tempat yang strategis, dimana setiap panglima yang dapat menguasai kawasan ini, maka ia dapat mematahkan setiap perlawanan musuh.

Jika kita melihat bahwa seluruh media telah memberitakan, bahwa aroma pertempuran antara Amerika dan Iran telah semakin memanas. Kedua belah pihak telah membentuk koalisi untuk memperkuat pasukan masing-masing. Inilah sa’at-sa’at kita menunggu perang Armageddon akan berkecamuk. Maka jika perang ini benar-benar terjadi, maka benarlah apa-apa yang dikatakan oleh Rasulullah saw. setelah perang Armageddon ini. Maka Rasulullah sudah memberitakan bahwa 9 bulan dari pertempuran ini akan terjadi Perang terbesar (Malhamah Kubra). Yaitu Pertempuran antara Kaum Muslimin yang dipimpin oleh Imam Mahdi melawan pasukan Romawi (Amerika dan Eropa). Dan Allah swt. akan menangkan untuk Kaum Muslimin. Wallahu a’lam bi syawab.

  1. Surutnya sungai Euphrat sehingga menyibakkan gunung emas

“Hampir saja akan muncul lumbung harta berupa emas dari kekeringan (terbukanya) sungai Euphrat, maka barangsiapa yang hadir di sana hendaklah ia tidak mengambil sedikit pun darinya.” (HR. Bukhari 7119 J. XIII hal. 81 dalam kitab Al Fitan dan Muslim dari Abu Hurairah), (HR. shohih Muslim dari Abu Hurairoh, dalam Ringkasan Shohih Muslim, M. Nashiruddin Al-Bani, hadits no. 2016, hal-1031, terbitan Gema Insani), (HR. shohih Muttafaq ‘Alaih dari Abu Hurairoh, dalam Shohih Sunan Abu Daud, M. Nashiruddin Al-Bani, jilid 3, hadits no. 4313 & 4314, hal-44, terbitan Pustaka Azzam).

“Gunung emas akan muncul dari kekeringan (terbukanya) sungai Euphrat  (Furat) maka manusia akan saling berbunuh-bunuhan di atasnya, dan akan terbunuhlah pada tiap-tiap 100 sebanyak 99.” (HR. Muslim).

“Orang-orang Romawi tidak akan membiarkan ada air di pantai pada hari-hari malahim (petaka) kecuali mereka kuasai.” (HR. Nu’aim bin Hammad dalam Al Fitan, Bab, Ma Baqiya minal A’maq hal. 302), (HR. shohih Muslim dari Abu Hurairoh, dalam Ringkasan Shohih Muslim, M. Nashiruddin Al-Bani, hadits no. 2015, hal-1031, terbitan Gema Insani).

  1. Kematian khalifah Saudi

“Akan terjadi suatu perselisihan ketika meninggalnya seorang khalifah. Maka keluarlah seorang laki-laki dari penduduk Madinah dan ia lari ke Makkah. Lalu datanglah kepadanya orang-orang yang berasal dari penduduk Makkah, dan mereka membawa laki-laki tersebut dengan paksa, kemudian mereka membai’atnya antara sudut Ka’bah dengan maqam ibrahim.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud dari Ummu Salamah, riwayat Ibnu Abi Syaibah dan Thabrani dalam Al Ausath. Al Haitsami telah berkata dalam kitab Majma’ Az Zawaaid: “Para perawinya adalah para perawi hadits shahih.” Dihasankan oleh Ibnu Qayyim. Akan tetapi, pada sanadnya ada seorang perawi yang dilemahkan oleh lebih dari satu ulama hadits. Oleh karena itu, maka Albaani melemahkan hadits ini dalam kitab Adh Dha’ifah nomor 1965. akan tetapi, kemudian beliau menyebut hal-hal yang mengikutinya dalam Ash Shahihah nomor 1924).

  1. Munculnya bintang berekor dan Huru-hara atau kekacauan dan malapetaka di bulan Syawal

“Apabila para raja pergi haji untuk jalan-jalan, dan para pedagang untuk berniaga dan orang-orang miskin untuk mengemis, sedangkan para qari mereka adalah untuk riya dan mencari nama baik (masyur), maka ketika itu muncullah bintang berekor.” (HR. Ibnu Mardawiyah dari Abu Umamah).

“Pada bulan Ramadhan terlihat tanda-tanda di langit, seperti tiang yang bersinar, pada bulan Syawwal terjadi malapetaka, pada bulan Dzulqa’dah terjadi kemusnahan, pada bulan Dzulhijjah para jamaah haji dirampok, dan pada Muharram, taukah apakah Muharram itu?” (HR. Nu’aim bin Hammad).

“Bila telah muncul suara di bulan Ramadhan, maka akan terjadi huru-hara di bulan syawal…” Kami bertanya: “Suara apakah ya Rasulullah saw.?” Beliau menjawab: “Suara keras di pertengahan bulan Ramadhan, pada malam Jum’at, akan muncul suara keras yang membangunkan orang tidur, menjadikan orang yang berdiri jatuh terduduk, para gadis keluar dari pingitannya, pada malam Jum’at di tahun terjadinya banyak gempa. Jika kalian telah melaksanakan shalat Shubuh pada hari Jum’at, masuklah kalian ke dalam rumah kalian, tutuplah pintu-pintunya, sumbatlah lubang-lubang (ventilasi) nya, dan selimutilah diri kalian, sumbatlah telinga kalian. Jika kalian merasakan adanya suara menggelegar, maka bersujudlah kalian kepada Allah dan ucapkanlah: “Maha Suci Al Quddus, Maha Suci Al Quddus, Rabb kami Al Quddus, karena barangsiapa melakukan hal itu akan selamat, tetapi siapa yang tidak melakukan hal itu akan binasa.” (Hadits ini diriwayatkan oleh Nu’aim bin Hammad, guru Imam Bukhari, dalam kitabnya Al Fitan, dengan nomor hadits :632, 630, 635).

  1. Munculnya Al Mahdi di bulan Muharram dan Pasukan yang ditenggelamkan ke bumi dan populernya Al Mahdi

Munculnya Al Mahdi ini akan menjadi pembatas Tanda kecil kiamat dan tanda besar kiamat. Dan setelah itu akan terjadi rentetan tanda besar kiamat hingga berakhirnya umur umat Islam dan kiamat. Rosululloh bersabda:

“Tanda-tanda itu adalah seperti-biji-bijian yang tersusun di kalung kawat, kemudian kawat itu terputus, maka jatuhlah biji-bijian tersebut secara berurutan.” (HR. shohih Ahmad dari ‘Abdullah bin Umar. Dan riwayat Al Hakim. Juga dalam kitab Ash Shahihah karya Albani, nomor 1762).

“Ketika umur dunia hanya tingga satu hari lagi, maka Alloh akan memanjangkan hari itu, hingga Dia mengutus seorang lelaki dari golonganku, atau lelaki dari keluarga (ahli bait)ku, namanya mirip dengan namaku, nama bapaknya juga sama dengan nama bapakku, ia akan memenuhi muka bumi dengan keadilan, sebagaimana saat itu kezholiman dan kelaliman telah memenuhi dunia.” Dalam riwayat lain ditambah: “Dunia tidak akan hancur hingga datangnya (suatu masa ketika) bangsa Arab telah dipimpin oleh seorang lelaki dari kalangan keluarga (ahli bait)ku yang namanya sama dengan namaku.”(HR. hasan shohih Abu Daud dari Abdullah bin Mas’ud hadits no. 4282, hadits shohih : Ar-Raudh An-Nadhir (2/25) dari Ali bin Abu Tholib hadits no. 4283, dalam Shohih Sunan Abu Daud, M. Nashiruddin Al-Bani, jilid 3, hal-29, terbitan Pustaka Azzam).

“Al Mahdi (akan datang) dari keturunanku dari anak Fathimah.” (HR. shohih Abu Daud dari Ummu Salamah, dalam Shohih Sunan Abu Daud, M. Nashiruddin Al-Bani, jilid 3, hadits no. 4284, hal-30, terbitan Pustaka Azzam).

“Masa ke-Nabian akan terjadi dalam masa yang dikehendaki oleh Alloh. Kemudian Alloh akan mencabutnya apabila Dia telah berkehendak untuk mencabutnya. Setelah itu berdirilah kekhalifahan sesuai dengan sunnah nabi dalam masa yang dikehendaki Alloh. Kemudian Alloh akan mencabutnya apabila Dia telah berkehendak untuk mencabutnya. Setelah itu berdirilah kerajaan yang sangat berkuasa dalam masa yang dikehendaki Alloh. Kemudian Alloh akan mencabutnya apabila Dia telah berkehendak untuk mencabutnya. Setelah itu berdirilah kekuasaan diktator (system paksa, tanpa ada musyawarah) dalam waktu yang dikehendaki Alloh. Kemudian Alloh akan mencabutnya apabila Dia berkehendak untuk mencabutnya. Setelah itu berdirilah kekhalifahan sesuai dengan sunnah nabi, kemudian beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam diam.” (HR. Ahmad yang dishohihkan oleh Al Hafizh Al Iraqi dan disetujui oleh Albani dari Hudzaifah).

“Al Mahdi berasal dari umatku, berkening lebar, berhidung panjang dan mancung. Ia akan memenuhi bumi ini dengan keadilan dan kemakmuran, sebagaimana ia (bumi ini) sebelum itu dipenuhi oleh kedzaliman dan kesemena-menaan, dan ia berumur 7 tahun.” (Hadits hasan, diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Al Hakim dari Abi Sa’id Al Khudri. Berkata Ibnu Qayyim Al Jauziyah dalam kitab Al Manar Al Munif: “Sanadnya adalah baik.” Hadits ini dihasankan oleh Albaani dalam kitab Takhrijul Misykat dan Shahih Al Jami’), (HR. hasan Ar-Raudh An-Nadhir (2/35), Al Misykah (454) dari Abu Sa’id Al Khudri , dalam Shohih Sunan Abu Daud, M. Nashiruddin Al-Bani, jilid 3, hadits no. 4285, hal-30, terbitan Pustaka Azzam).

“Sungguh, bumi ini akan dipenuhi oleh kedzaliman dan kesemena-menaan. Dan apabila kedzaliman serta kesemena-menaan itu telah penuh, maka Allah swt. akan mengutus seorang laki-laki yang berasal dari umatku, namanya seperti namaku, dan nama bapaknya seperti nama bapakku (Muhammad bin ‘Abdullah). Maka ia akan memenuhi bumi dengan keadilan dan kemakmuran, sebagaimana ia (bumi) telah dipenuhi sebelum itu oleh kedzaliman dan kesemena-menaan. Di waktu itu langit tidak akan menahan setetes pun dari tetesan airnya, dan bumi pun tidak akan menahan sedikit pun dari tanam-tanamannya. Maka ia akan hidup bersama kamu selama 7 tahun atau 8 tahun, dan paling lama 9 tahun.” (Ini adalah hadits shahih yang diriwayatkan oleh Thabrani, Al Bazzar dan Abu Nu’aim. Imam Suyuthi telah menunjukkan akan keshahihannya dalam kitab Al jami’. Dishahihkan juga oleh Albaani dalam kitab As Silsilah Ash Shahihah nomor 1529).

“Al Mahdi berasal dari umatku, yang diislah oleh Allah dalam satu malam.” (Hadits shahih yang diriwayatkan oleh Ahmad dalam Musnadnya dan Ibnu Majjah dalam Sunannya dari Ali ra. Juga dishahihkan oleh Syaikh Ahmad Syakir ketika memberikan komentarnya dalam Musnad Ahmad. Serta dishahihkan oleh Albaani dalam Ash Shahihah nomor 2371).

“Al Mahdi berasal dari umatku, dari keturunan anak cucuku.” (Hadits hasan diriwayatkan oleh Abu dawud, Ibnu Majjah dan Al Hakim dari Ummu Salamah. Imam Suyuthi menunjukkan akan keshahihannya dalam kitab Al Jami’. Telah berkata Albaani : “Sanadnya baik, dimana semua perawinya adalah tsiqah, dan ia punya banyak penguat (saksi).” Lihat juga dalam kitab As Silsilah Ash Shahihah 1;108).

“Pada akhir zaman akan muncul seorang khalifah yang berasal dari umatku, yang akan melimpahkan harta kekayaan selimpah-limpahnya. Dan ia sama sekali tidak akan menghitung-hitungnya.” (HR. Ahmad dan Muslim dari Jabir bin Abdullah dan Abu Sa’id Al Khudri), (HR. shohih Muslim dari Al Jurairi dari Abu Nadhrah dari Jabir bin Abdullah, dalam Ringkasan Shohih Muslim, M. Nashiruddin Al-Bani, hadits no. 2036, hal-1041-1042 terbitan Gema Insani).

“Pada suatu hari tubuh Rosululloh saw. bergetar dalam tidurnya.” Lalu kami bertanya: “Mengapa engkau melakukan sesuatu yang belum pernah engkau lakukan sebelumnya wahai Rosululloh?” Rosululloh saw. menjawab: “Akan terjadi suatu keanehan, yaitu bahwa sekelompok orang dari umatku akan berangkat menuju Baitulloh (Ka’bah) untuk memburu seorang laki-laki Quraisy yang pergi mengungsi ke Ka’bah. Sehingga apabila orang-orang tersebut telah sampai di sebuah padang pasir (Al Baida’), maka mereka ditelan bumi.” Kemudian kami bertanya: “Bukankah di jalan padang pasir itu terdapat macam-macam orang?” Beliau menjawab: “Benar, diantara mereka yang ditelan tersebut ada yang sengaja pergi untuk berperang, dan ada pula yang dipaksa untuk berperang, serta ada pula orang yang sedang berada dalam suatu perjalanan, akan tetapi mereka binasa dalam satu waktu dan tempat yang sama. Sedangkan mereka berasal dari arah (niat) yang berbeda-beda. Kemudian Alloh swt. akan membangkitkan mereka pada hari berbangkit, menurut niat mereka masing-masing.” (HR. Bukhori pada kitab Al Buyu’ (jual beli), bab Madzukira fii Al Aswaak (riwayat-riwayat tentang pasar). Riwayat  Muslim pada kitab Al Fitan, bab ‘Pembenaman tentara yang menuju ke Baitulloh’).

“Seorang laki-laki akan datang ke Baitullah (Ka’bah), maka diutuslah suatu utusan (oleh penguasa) untuk mengejarnya. Dan ketika mereka telah sampai di suatu padang pasir, maka mereka terbenam ditelan bumi.” (Shahih Muslim dari Ummu Salamah pada kitab Al Fitan wa Asyratussa’ah (kitab Huru-hara dan isyarat-isyarat kiamat). Dikeluarkan oleh Nu’aim bin hammad dari ‘Amr bin Al ‘Ash, dimana ia berkata: “Tanda kemunculan Al Mahdi adalah apabila sebuah pasukan tentara ditelan bumi di sebuah padang pasir.” Telah berkata Qurthubi dalam kitab At Tadzkirah, bab berita kedatangan khalifah yang akan muncul di akhir zaman bernama Al Mahdi dan tanda-tanda kemunculannnya: “Bahwa tentara yang dibenamkan ini adalah tentara yang keluar menuju Makkah untuk memerangi Al Mahdi.”).

“Suatu kaum yang mempunyai jumlah dan kekuatan yang tidak berarti akan kembali ke Baitullah. Lalu diutuslah (oleh penguasa) sekelompok tentara untuk mengejar mereka, sehingga apabila mereka telah sampai pada suatu padang pasir, maka mereka ditelan bumi.” (HR. Muslim dalam shahihnya pada kitab Al Fitan wa Asyratussa’ah (kitab Huru-hara dan isyarat-isyarat kiamat) dari Hafsah Ummul Mu’minin ra.).

“Sungguh, Baitullah ini akan diserang oleh suatu pasukan, sehingga apabila pasukan tersebut telah sampai pada sebuah padang pasir, maka bagian tengah pasukan itu ditelan bumi. Maka berteriaklah pasukan bagian depan kepada pasukan bagian belakang, dimana kemudian semua mereka ditenggelamkan bumi dan tidak ada yang tersisa, kecuali seseorang yang selamat, yang akan mengabarkan tentang kejadian yang menimpa mereka.” ( HR. Muslim pada kitab Al Fitan dari Hafsah Ummul Mu’minin ra. Dan diriwayatkan juga oleh Ahmad, Nasa’i serta Ibnu Majjah).

“Suatu pasukan dari umatku akan datang dari arah negeri Syam menuju ke Baitullah (Ka’bah) untuk mengejar seorang laki-laki yang akan dijaga Allah dari mereka.” (HR. Ahmad dalam Musnadnya dari Ummu Salamah. Telah berkata Al Haitsami dalam Majma’ Az Zawaaid: “Dan padanya terdapat ‘Ali bin Zaid, yangmana ia adalah perawi yang baik. Juga padanya ada suatu kelemahan. Akan tetapi, ia juga meriwayatkan hadits semisalnya dari ‘Aisyah, dimana ia berkata: “Para perawinya adalah tsiqah”).

“…jika kalian telah melihatnya, maka berbaiatlah kepadanya, sekalipun dengan merangkak di atas salju, karena ia adalah Khlaifah Alloh Al Mahdi.” (HR. Ahmad dan Hakim dishohihkan berdasarkan syarat Bukhori Muslim, dari Tsauban dan disepakati oleh Adz Dzahabi. Musthafa Al ‘Adawi juga menshohihkannya dalam shahihul-Musnad).

“Akan terjadi suatu perselisihan ketika meninggalnya seorang khalifah. Maka keluarlah seorang laki-laki dari penduduk Madinah dan ia lari ke Mekkah. Lalu datanglah orang-orang yang berasal dari penduduk Mekkah, dan mereka membawa laki-laki tersebut dengan paksa. Kemudian mereka membaiatnya antara sudut Ka’bah dengan maqam Ibrahim.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud dari Ummu Salamah. Riwayat Ibnu Abi Syaibah dan Thabrani dalam Al Ausath. Al Haitsami telah berkata dalam kitab Majma’ Az Zawaaid: “Para perawinya adalah para perawi hadits shohih.” Dihasankan oleh Ibnu Qoyyim. Akan tetapi, pada sanadnya ada seorang perawi yang dilemahkan oleh lebih dari satu ulama hadits. Oleh karena itu, maka Albani melemahkan hadits ini dalam kitab Adh Dha’ifah, nomor 1965. akan tetapi, kemudian beliau menyebutkan hal-hal yang mengikutinya dalam Ash Shahihah, nomor 1924). (HR. shohih Ahmad dalam Musnadnya dan Abu Dawud Ath Thayalisi dalam Musnadnya, serta Al Hakim dalam Al Mustadrak. Dishohihkan oleh Syaikh Ahmad Syakir dan Albani dalam Ash Shahihah, nomor 579)

“Jika perdagangan-perdagangan dan jalan-jalan telah terputus, fitnah (petaka) banyak terjadi, maka muncullah 7 ulama dari penjuru yang berbeda tanpa sebelumnya ada perjanjian diantara mereka. Masing-masing mereka dibaiat oleh tiga ratus sekian belas orang laki-laki sehingga mereka berkumpul di Mekkah. Lantas ketujuh ulama berjumpa, sebagian dari mereka bertanya kepada sebagian lain, ‘Apa penyebab kedatangan kalian?’ Lantas mereka menjawab, ‘Kami datang untuk mencari seseorang yang melalui tangannya petaka-petaka ini akan menjadi reda, Konstatinopel akan ditaklukan. Kami telah mengenal namanya, nama ayahnya, nama ibunya, dan perhiasannya.’ Maka ketujuh ulama itu brsepakat untuk melakukan pencarian bersama-sama, lantas mencarinya, lantas mendapatinya di Mekkah. Merekapun bertanya, ‘Engkaulah Fulan bin Fulan?’ Orang itu menjawab, ‘Tidak, aku adalah seorang laki-laki Anshor.’ Ia pun menghindar dari mereka. Lantas mereka menceritakannya kepada orang yang berpengalaman dan pengetahuan mengenai orang itu, lantas diberikan jawaban kepada mereka, ‘Justru, dialah orang yang kalian cari itu, padahal ia telah berangkat ke Madinah.’ Merekapun mencarinya ke Madinah, tetapi ia justru menghindari mereka ke Mekkah, lantas merekapun mencarinya ke Mekkah, merekapun mendapatinya. Mereka bertanya, ‘Engkau adalah Fulan bin Fulan, ibumu Fulanah binti Fulan, dan di dalam dirimu ada pertanda begini dan begini, sedangkan engkau telah menghindar dari kamu satu kali, maka bentangkan tanganmu, kami akan berbaiat kepadamu.’ Orang itu menjawab, ‘Aku bukan orang yang kalian cari, aku adalah Fulan Al Anshori,’ sehingga ia pun menghindar dari mereka. Merekapun mencarinya di Madinah, tetapi ia berselisih jalan dengan mereka pergi ke Mekkah, lantas mereka mendapatinya di Mekkah di samping Rukun (Hajar Aswad). Merekapun berkata, ‘Dosa kami dan leher kami menjadi tanggungan anda apabila anda tidak bersedia membentangkan tangan anda untuk kami baiat. Lihatlah, tentara Sufyani telah berangkat untuk mengejar kami.’ Maka, ia duduk diantara Rukun dan Maqam. Ia membentangkan tangannya lantas dibaiat. Alloh meletakkan rasa cinta kepadanya di hati manusia, lantas ia berjalan bersama orang-orang yang mereka ibarat singa di siang hari dan pendeta di malam hari.” (atsar diriwayatkan Nu’aim bin Hammad dari Abdullah bin Mas’ud. Al Fitan, bab: ‘Berkumpulnya Manusia di Mekkah dan Pembaiatan Mereka terhadap Al Mahdi,’ hal. 214).

Dalam riwayat lain, “…lantas ia dibaiat oleh sejumlah orang seperti jumlah pengikut perang Badar (tiga ratus lebih beberapa belas orang).” Barangkali, riwayat terakhir ini lebih shohih daripada riwayat yang menyebutkan bahwa; ‘Masing-masing dari 7 orang di atas dibaiat oleh tiga ratus sekian belas orang. Karena riwayat terakhir lebih banyak jalurnya (diriwayatkan oleh Nu’aim, Hakim, dan Thabrani dalam Al Ausath dari Ummu Salamah).

Nu’aim meriwayatkan bahwa Al Mahdi muncul di Mekkah (di samping Ka’bah) pada malam hari. Seusai sholat Isya’, ia berseru dengan suara keras. Ia mulai dengan memuji Alloh selanjutnya berkhotbah, “Wahai sekalian manusia, aku ingatkan kalian kepada Alloh, juga pada saat-saat kelaka kalian berdiri di hadapan-Nya. Sesungguhnya Alloh telah menegakkan hujjah, mengutus para nabi, dan menurunkan kitab. Dia memerintahkan kalian agar tidak mempersekutukan-Nya dengan apapun, selalu tetap taat kepada-Nya dan taat kepada Rosul-Nya saw. Hidupkan apa yang dihidupkan oleh Al Qur’an dan padamkan apa yang dipadamkan oleh Al Qur’an. Jadilah kalian penolong-penolong dalam menjalankan petunjuk dan ketaqwaan. Sungguh dunia ini telah mendekati masa kefanaan dan kemusnahan. Ia telah mengucapkan salam perpisahan. Maka, aku mengajak kalian untuk kembali kepada Alloh dan kepada Rosul-Nya, melaksanakan kitab-Nya, memadamkan kebathilan,dan menghidupkan sunnah.”

  1. Pertempuran Khalb (semenanjung Arabia) dan Penaklukan Persia (Iran)

“Kamu akan memerangi semenanjung ‘Arabia, lalu Allah akan menaklukannya untukmu. Setelah itu Persia, dimana Allah akan menaklukannya untukmu. Kemudian Rum, dimana Allah akan menaklukannya untukmu. Kemudian kamu akan memerangi Dajjal, dimana Allah akan menaklukannya untukmu.” (HR. Muslim dari Nafi’ bin ‘Atabah. Diriwayatkan juga oleh Imam Ahmad dan Ibnu Majjah), (HR. shohih Muslim dari Jabir bin Samurah, dalam Ringkasan Shohih Muslim, M. Nashiruddin Al-Bani, hadits no. 2028, hal-1037, terbitan Gema Insani).

“Kamu akan memerangi semenanjung ‘Arabia. Perang ini akan terjadi pada masa pengkhianatan Rum dan ketika mereka sedang mengumpulkan kekuatan untuk memerangi kaum muslimin. Maka tentara pertama yang memerangi Al Mahdi (setelah terjadinya pembenaman tentara ke dalam bumi) adalah pasukan semenanjung ‘Arab yang terdiri dari kaum muslimin dan dipimpin oleh seorang laki-laki yang berasal dari suku Quraisy. Laki-laki ini ada kemungkinan adalah laki-laki yang bernama Sufyani*, yang mana ia meminya kepada suku para pamannya, yaitu suku Kalab^. Kemudian mereka berangkat untuk memerangi Al Mahdi. Akan tetapi Imam mahdi mengalahkan mereka dengan seburuk-buruk bentuk kekalahan serta mendapatkan harta rampasan perang yang luar biasa banyaknya.” (* :Al Qurthubi telah menyebutkan dalam kitabnya yang berjudul At Tadzkirah, bahwasanya Al Mahdi akan memerangi As Sufyani dan para pengikutnya yang terdiri dari suku Kalab. Dimana hal ini bersesuaian dengan teks hadits tersebut, yakni:”Seorang laki-laki yang berasal dari suku Quraisy.”  ^ :”Sebagian orang mengatakan, bahwasanya para penguasa (emir) Kuwaitberasal dari suku Kalab.”)

  1. Kekalahan orang-orang Yahudi, penaklukan Baitul Maqdis, pembebasan Masjidil Aqsa dan Hancurnya Yastrib (Madinah)

“Setelah pembangunan Baitul Maqdis adalah kehancuran Yatsrib (kota Madinah), setelah kehancuran Yatsrib adalah terjadinya pertempuran besar. Dan setelah terjadinya pertempuran besar.adalah penaklukan Konstantin. Lalu, setelahnya penaklukan konstantin adalah keluarnya dajjal. Kemudian Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam meletakan tangannya di atas bahunya (Mu’adz) dan berkata: “Sesungguhnya kebenaran ini adalah sebagaimana adanya kamu di sini atau sebagai mana engkau duduk.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud dari Mu’adz bin Jabal dan dishahihkan oleh Albaani dalam Al Misykat nomor 423. Ibnu Katsir berkata: “Ini adalah hadits hasan, bersanad jayyid dan padanya ada cahaya kebenaran dan kenabian (Al Fitan wa Al Malahim), (HR. hasan Al Misykah (5425) dari Mu’adz bin Jabal, dalam Shohih Sunan Abu Daud, M. Nashiruddin Al-Bani, jilid 3, hadits no. 4294, hal-35, terbitan Pustaka Azzam).

  1. Perang Malhamah Kubra (Kaum Muslimin (Al Mahdi)) vs (Amerika dan Eropa).

“Mereka akan mengumpulkan kekuatan untuk menyerang kamu dalam waktu sembilan bulan, seperti masa hamil seorang wanita.” (HR. Ahmad dalam Musnadnya. Dalam sanad hadits ini ada sebuah kritikan).

“Pusat kepemimpinan kaum muslimin pada hari pertempuran yang paling besar adalah di Ghuthah yang terdapat padanya suatu kota bernama Damsyik, yangmana ia adalah negeri kaum muslimin yang terbaik ketika itu.” (Hadits shahih yang diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud dan Al Hakim. Dishahihkan oleh Albaani dalam Shahih Al Jami’ Ash Shaghir).

“Sesungguhnya saat terjadinya perang yang agung, pangkalan pasukan kaum muslimin berada di daerah Ghuthah, sebuah daerah di pinggiran Madinah yang dikenal dengan nama Damaskus, salah satu kota terbaik di negeri Syam.” (HR. shohih Abu Daud dari Abu Darda dalam Shohih Sunan Abu Daud, M. Nashiruddin Al-Bani, jilid 3, hadits no. 4298, hal-36-37, terbitan Pustaka Azzam).

“Tidak akan berdiri hari kiamat sehingga kaum Rum sampai di A’maq atau Dabiq (nama tempat) untuk menyerang kamu. Maka datanglah suatu pasukan yang akan menghadapi mereka dari kota Madinah, yangmana mereka pada waktu itu adalah manusia-manusia terbaik di bumi ini. Apabila mereka semua telah berbaris (siap untuk berperang), maka berkatalah orang-orang Rum: ‘Biarkan kami membuat perhitungan dengan saudara-saudara kami yang telah tertawan (maksud mereka kaum Rum yang telah masuk Islam).’ Kemudian kaum muslimin berkata: ‘Kami tidak akan membiarkan kamu mengusik (menyakiti) saudara-saudara kami.’ Lalu kaum muslimin pun menjawab tantangan untuk memerangi mereka. Dalam pertempuran itu seprtiga dari tentara Islam melarikan diri dari pertempuran, yangmana mereka tidak akan diampuni dosanya oleh Alloh swt. selama-lamanya. Dan sepertiga lagi dari tentara Islam tersebut tewas sebagai para syahid yang paling baik di sisi Alloh swt. Sedangkan sepetiga lagi dari sisa tentara tersebut mendapatkan kemenangan, yangmana mereka tidak akan tersesat selama-lamanya. Kemudian mereka menaklukan kota Konstantin. Ketika mereka sedang membagi-bagi harta rampasan perang, mereka telah menggantungkan pedang di pohon Zaitun. Pada saat itu setan berteriak: ‘Sesungguhnya Al Masihuddajjal telah menguasai keluarga-keluarga kamu.’ Kemudian mereka (tentara Islam bersama Al Mahdi) bergerak pulang. Ketika mereka telah sampai di Syam keluarlah ia (Dajjal). Dan pada saat kaum muslim telah bersiap-siap untuk berperang, tiba-tiba datanglah waktu sholat. Maka turunlah ‘Isa bin Maryam. Kemudian ia (‘Isa) dilihat oleh musuh Alloh swt., maka ia (Dajjal) akan meleleh (hancur) seperti garam yang mencair. Dan sekiranya ia membiarkan hal tersebut terjadi, maka sungguh ia (musuh Alloh) akan hancur (meleleh) sehingga binasa. Akan tetapi Alloh berkehendak untuk membunuhnya di tangan ‘Isa bin Maryam. Maka ‘Isa memperlihatkan darah Dajjal di tombaknya.” (HR. shohih Muslim dari Abu Hurairoh, dan juga diriwayatkan serta dishohihkan oleh Al Hakim dan disetujui Adz Dzahabi), (HR. shohih Muslim dari Abu Hurairoh, dalam Ringkasan Shohih Muslim, M. Nashiruddin Al-Bani, hadits no. 2029, hal-1037-1038, terbitan Gema Insani).

“Pada waktu pertempuran itu, akan terjadi kemurtadan yang sangat banyak. Kemudian kaum Muslimin maju dengan suatu pasukan depan yang berani mati, yang tidak akan mundur kecuali dalam keadaan menang. Lalu mereka terus beperang sehingga mereka terhalang oleh malam. Maka setiap pihak mendapatkan harta rampasan perang, hingga tidak ada yang dapat dikatakan sebagai pihak yang menang, dan akhirnya pasukan kaum muslimin itu hancur. Kemudian kaum muslimin kembali maju dengan suatu pasukan depan yang berani mati, yang tidak akan kembali kecuali dalam keadaan menang, mereka terus berperang sehingga terhalang oleh malam. Maka kedua belah pihak sama-sama mendapatkan harta rampasan perang, hingga tidak ada pihak yang dikatakan sebagai pemenang dan akhirnya sekelompok pasukan kaum muslimin itu hancur. Kemudian kaum muslim maju lagi dengan suatu pasukan depan berani mati yang tidak akan kembali kecuali dalam keadaan menang, dan mereka terus berperang sampai senja, maka kedua belah pihak mendapatkan harta rampasan pearang, tidak ada pihak yang dapat dikatakan sebagai pemenang dan akhirnya sekelompok pasukan kaum muslim itu binasa. Maka ketika telah sampai hari yang keempat, bangkitlah seluruh umat Islam, lalu Allah swt. menimpakan bencana terhadap mereka (kaum Rum) dan terbunuhlah mereka dengan dahsyatnya, hingga tidak pernah dilihat oleh orang sebelumnya. Sehingga apabila burung melewati kawasan pertempuran mereka, maka burung itu akan mati sebelum melewai mereka. Maka bertambahlah turunan bapak yang mati, sehingga tidak ditemukan yang tersisa dari mereka kecuali seorang laki-laki. Dan dengan harta rampasan perang mana yang akan membuat gembira, serta dengan harta warisan mana yang akan dibagi.” (HR. Muslim dalam Shahihnya dari Jabir ra.), (HR. shohih Muslim dari Yusair bin Jabir, dalam Ringkasan Shohih Muslim, M. Nashiruddin Al-Bani, hadits no. 2027, hal-1035-1036, terbitan Gema Insani).

“Nyaris saja kaum muslimin dipukul mundur oleh musuh ke Madinah hingga daerah Salah.” (HR. shohih Abu Daud dari Ibnu Umar, dalam Shohih Sunan Abu Daud, M. Nashiruddin Al-Bani, jilid 3, hadits no. 4250 hal-9-10 & hadits  4299, hal-37, terbitan Pustaka Azzam).

“Salah adalah sebuah tempat dekat Khaibar.” (HR. shohih maqhtu’ dari Az-Zuhri, dalam Shohih Sunan Abu Daud, M. Nashiruddin Al-Bani, jilid 3, hadits no. 4251 hal-10 & hadits no. 4300 hal-37, terbitan Pustaka Azzam).

“Jarak antara malhamah dan penaklukan Konstantinopel adalah 6 tahun, dan dajjal muncul pada tahun ke-7.” (Hadits shahih riwayat Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majjah dan Nu’aim bin Hammad dari Abdullah bin Busr).

  1. Banyaknya jumlah wanita dan sedikitnya jumlah laki-laki

“Jumlah wanita akan banyak dan jumlah laki-laki akan sedikit sehingga untuk 50 wanita terdapat satu laki-laki.” (HR. Bukhari 71 dari Anas dan juga diriwayatkan oleh Muslim 2761).

  1. Serangan ke Rusia, Cina dan India

“Kiamat tidak akan berdiri, sehingga kamu memerangi orang-orang Turki bermata kecil, berwajah merah, berhidung pesek (pendek), seakan muka mereka seperti perisai-perisai yang bundar.” (Hadits shahih, muttafaqun ‘alaih dan juga Imam Ahmad dari riwayat Abu Hurairah. Dan yang dimaksud dalam kelompok Turki adalah penduduk negeri Cina, Rusia dan sekitarnya), (HR. shohih Muslim dari Abu Hurairoh, dalam Ringkasan Shohih Muslim, M. Nashiruddin Al-Bani, hadits no. 2017, hal-1031, terbitan Gema Insani), (HR. shohih Muslim dari Abu Hurairoh hadits no. 4303 hal-38-39, HR. shohih muttafaq ‘alaih dari Abu Hurairoh hadits no. 4304 hal-39, dalam Shohih Sunan Abu Daud, M. Nashiruddin Al-Bani, jilid 3, terbitan Pustaka Azzam).

“Tidak akan terjadi kiamat sehingga kamu memerangi kaum Khauz dan Kirman dari orang ‘Ajam yang bermuka merah, berhidung pesek, bermata kecil, seakan-akan wajah mereka adalah meja yang bundar.” (HR. Bukhari dari Abu Hurairah dalam Shahihnya diriwayatkan juga oleh Imam Ahmad).

“Sungguh akan ada pasukan yang akan memerangi India untuk kalian, Allah memberikan kemenangan kepada mereka, sampai mereka mendatangkan raja-raja mereka dalam keadaan dibelenggu dengan rantai; Allah mengampuni dosa-dosa mereka, lantas mereka berangkat pergi lantas mendapati Ibnu Maryam di Syam.” (Kitabul Fitan, bab peperangan terhadap India hal. 252. Barangkali, ini merupakan ekspedisi yang dikirimkan oleh Al Mahdi ke India, sementara ia masih tinggal di Damaskus, Syam, dimana Isa as. Turun kepada mereka saat mereka melaksanakan shalat Fajar. Kemudian, ekspedisi yang telah meraih kemenangan itu kembali, lantas berjumpa dengan Ibnu Maryam yang telah turun).

  1. Penaklukan konstantinopel (Turki)

“Banyak dari kaum Rum (Bani Ishaq, Eropa dan Amerika) akan masuk Islam pada akhir zaman. Dan bahkan penaklukan kota Kontantin akan dilakukan oleh sekelompok mereka, dimana suatu hadits menerangkan bahwa 70.000 orang dari Bani Ishaq (Rum) akan menyerbu dan menaklukan kota Konstantin dengan tahlil dan takbir (Laa Ilaha Illallah, Allahu Akbar).” (Kitab Al Fitan wa Al Malahim (huru-hara dan pertempuran-pertempuran) oleh Al Hafizh Ibnu katsir, bab Dzikru Al Malhamah ma’a Ar Rum (bahasan tentang pertempuran dengan kaum Rum) hal. 51).

“Apakah kalian pernah mendengar suatu kota yang terletak sebagiannya di laut?” Mereka (para sahabat) menjawab: “Pernah wahai Rasulullah saw.” Beliau Shallallahu ‘Alaih wa Sallam bersabda: “Tidak terjadi hari kiamat, sehingga ia diserang oleh 70.000 orang dari Bani Ishaq (Eropa dan Amerika, kulit putih). Ketika mereka telah sampai di sana, maka mereka pun memasukinya. Mereka tidaklah berperang dengan senjata dan tidak melepaskan suatu panah pun. Mereka hanya berkata: Laa Ilaha Illallah Wallahu Akbar, maka jatuhlah salah satu bagian dari kota itu. Berkata Tsaur (perawi hadits): “Saya tidak tau kecuali hal ini hanya dikatakan oleh pasukan yang berada di laut. Kemudian mereka berkata yang kedua kalinya Laa Ilaha Illallah Wallahu Akbar, maka jatuh pula sebagian yang lain (darat). Kemudian mereka berkata lagi Laa Ilaha Illallah Wallahu Akbar, maka terbukalah semua bagian kota itu. Lalu mereka pun memasukinya. Ketika mereka sedang membagi-bagikan harta rampasn perang, tiba-tiba datanglah seseorang seraya berteriak: “Sesungguhnya dajjal telah keluar.”  Kemudian mereka meninggalkan segala sesuatu dan kembali.” (HR. Muslim dalam kitab Al Fitan wa Asyratussa’ah).

  1. Munculnya Dajjal

Dajjal adalah ujian yang paling berat untuk seluruh umat manusia dari zaman Nabi Adam as. Hingga kiamat. Rosululloh saw. bersabda: “Semenjak Adam diciptakan sampai berdirinya kiamat tidak ada hal (cobaan) yang lebih besar dari Dajjal.” (HR.shohih Muslim pada kitab Al Fitan dari Hisyam bin ‘Amir).

“Tidak ada fitnah yang lebih besar dari fitnah Dajjal.” (HR. Ahmad dalam Musnadnya dari Hisyam bin ‘Amir).

“Wahai manusia, sesungguhnya semenjak Alloh swt. menciptakan anak cucu Adam tidak ada fitnah (cobaan) di muka bumi ini yang lebih besar dari Dajjal, dan bahwsanya tidak satu nabi pun yang diutus oleh Alloh swt. yang tidak memperingatkan umatnya akan fitnah Dajjal, sedangkan aku adalah nabi yang paling terakhir dan kamu adalah umat yang paling terakhir, maka tidak dapat dipungkiri lagi ia (Dajjal) akan muncul di tengah-tengah kamu, sekiranya ia keluar sedangkan aku berada di tengah-tengah kamu maka aku adalah pembela (penyelamat) setiap muslim dan sekiranya ia keluar setalah (kematian) aku, maka tiap-tiap kamu adalah penyelamat bagi dirinya sendiri, dan Alloh adalah sebagai penggantiku dalam dalam menyelamatkan setiap muslim. Dan sesungguhnya ia akan keluar dari sebuah celah (tempat) yang terletak antara Syam dan Irak, maka ia berbuat kerusakan di kiri dan kanan, wahai hamba Alloh wahai manusia bersiteguhlah kamu, karena sesungguhnya aku akan menerangkan sifat-sifat (ciri-ciri) nya yang tidak pernah diterangkan oleh seorang nabi pun sebelum aku. Ia (Dajjal) akan mendakwa: ‘Aku adalah Robbmu.’ Sedangkan kamu tidak akan dapat melihat Alloh kecuali setelah kamu mati, dan ia hanya punya satu mata, sedangkan Alloh bukanlah bermata sebelah, dan di tempat antara 2 matanya tertulis kata kafir yang dapat dibaca oleh setiap muslim yang bisa menulis dan yang tidak bisa menulis. Diantara fitnah-fitnahnya adalah bahwa bersamanya ada surga dan neraka, maka sebenarnya nerakannya adalah surga dan surganya adalah neraka. Maka barangsiapa yang dapat ujian dengan nerakanya hendaklah ia berlindung kepada Alloh dan hendaklah ia membaca ayat-ayat awal surat Al Kahfi. Dan diantara fitnah-fitnahnya juga adalah ia akan berkata kepada seorang Arab: ‘Renungkanlah olehmu, sekiranya aku membangkitkan ayah dan ibumu yang telah mati, apakah kamu akan bersaksi bahwa aku adalah Robbmu?’ Maka orang Arab itu berkata: ‘Ya.’ Kemudian munculah setan menjelma ke hadapannya dalam bentuk bapak dan ibunya, maka keduanya berkata: ‘Wahai anakku, ikutilah ia, sesungguhnya ia adalah Robbmu.’ Dan diantara fitnah-fitnahnya adalah bahwa ia akan memaksa seorang manusia, lalu ia membunuhnya dan memotongnya dengan sebuah gergaji maka terbelahlah orang tersebut menjadi 2 bagian, kemudian ia (Dajjal) berkata: ‘Lihatlah olehmu kepada hambaku ini, sesungguhnya aku akan membangkitkannya.’ Dan kemudian ia akan mendakwa bahwa ‘Tuhannya adalah selain aku.’ Maka Alloh swt. pun membangkitkan orang yang terbelah tersebut, maka berkatalah yang keji (Dajjal) kepadanya: ‘Siapakah Robbmu?’ Ia berkata: ‘Robbku adalah Alloh dan kamu adalah musuh Alloh, kamu adalah Dajjal, demi Alloh mulai hari ini, tidak ada hal yang lebih aku ketahui dengan yakin selain dari (kedustaan) mu.’ Dan diantara fitnah-fitnahnya adalah bahwa ia akan memerintahkan langit untuk menurunkan hujan, maka turunlah hujan, dan ia memerintahkan bumi untuk tumbuh, maka tumbuhlah ia. Dan diantara fitnah-fitnahnya adalah bahwa ketika ia melalui sebuah negeri, kemudian penduduk negeri itu mendustakannya, maka tidak satu binatang ternak pun yang tidak musnah di situ. Dan diantara fitnah-fitnahnya adalah bahwa ia melewati sebuah negeri, kemudian mereka membenarkan (dakwaan-dakwaan) nya, maka ia pun memerintahkan langit untuk menurunkan hujan, maka turunlah hujan, dan ia memerintahkan bumi untuk tumbuh maka tumbuhlah ia, sehingga sejak hari itu binatang menjadi paling gemuk dan paling besar dari masa-masa yang berlalu, paling besar lambungnya dan paling melimpah susunya. Dan sesungguhnya tidak ada satu negeri pun di muka bumi yang tidak dimasuki dan dikalahkan oleh Dajjal, kecuali Mekkah dan Madinah, dia tidak akan dapat memasukinya dari setiap celah-celah masuknya karena di situ ada malaikat yang menjaga dengan pedang tajam dan mengkilat, sehingga ia turun di sebuah tempat perkemahan di persimpangan sebuah tanah kosong yang belum pernah diolah. Maka bergetarlah kota Madinah dengan 3 kali guncangan, sehingga tidak ada yang tersisa di sana seorang munafik laki-laki ataupun munafik perempuan kecuali ia keluar kepada Dajjal, maka terhapuslah orang-orang keji (kotor) dari kota Madinah sebagaimana kir (alat pompa besi) menghilangkan segala kotoran besi, dan disebutlah hari itu dengan hari pembersihan. Para sahabat bertanya: ‘Di manakah orang-orang Arab pada waktu itu?’ Beliau saw. menjawab: ‘Mereka pada hari itu sedikit, mereka dipimpin oleh seorang laki-laki yang sholeh, maka ketika pemimpin mereka sudah maju ke depan untuk mengimami mereka dalam sholat Shubuh, tiba-tiba turunlah ‘Isa bin Maryam, maka mundurlah imam mereka tersebut ke belakang supaya ‘Isa maju untuk mengimami sholat, dan ‘Isa pun meletakkan tangannya diantara 2 bahu-bahunya (pemimpin kaum muslimin) dan berkata: ‘Majulah kamu dan pimpinlah sholat, karena sesungguhnya ia diiqomatkan untuk kamu,’ maka pemimpin mereka pun mengimami sholat mereka dan ketika sholat sudah selesai ‘Isa berkata: ‘Bukalah pintu.’ Merekapun membuka pintu dan di belakangnya telah berada Dajjal bersama 70.000 orang Yahudi (Ashbahan), masing-masing mereka memiliki pedang berhias emas dan berjubah besar berwarna hijau, maka ketika ia (‘Isa) memandang kepada Dajjal. Dajjal itupun meleleh (hancur) seperti garam yang meleleh di dalam air, kemudian ia lari, dan dihadang oleh ‘Isa di pintu timur kota Lud (di Palestina), kemudian ‘Isa membunuhnya, maka Alloh swt. menjadikan kekalahan untuk orang-orang Yahudi, dimana tidak satu makhluk pun yang diciptakan Alloh yang dapat dijadikan sebagai perlindungan oleh orang-orang Yahudi, dimana Alloh menjadikan segala sesuatu bisa berbicara mulai dari batu, pohon, dinding, binatang ternah kecuali pohon Ghardaqah, maka sesungguhnya ia adalah pohon mereka yang tidak mau berbicara. Semua makhluk itu (selain Ghardaqah) berkata: ‘Hai hamba Alloh yang muslim, di sini ada Yahudi, kemarilah! Dan bunuhlah ia!’’ ‘Isa Ibnu Maryam akan menjadi seorang Hakim yang adil bagi umatku dan seorang pemimpin yang bijaksana yang akan menghancurkan tanda salib, membunuh babi-babi dan menghapuskan jizyah (upeti terhadap non Islam), menghapuskan zakat (kewajiban mengeluarkan harta bagi orang-orang Islam apabila harta tersebut sudah sampai nisab kepada pihak yang sudah ditentukan), maka ia tidak akan mencari seekor kambing atau seekor unta zakat pun, dihapuskan kedengkian dan permusuhan, diangkat bisa dari segala makhluk berbisa sehingga apabila seorang bayi perempuan memasukkan tangannya ke dalam mulut ular, maka ular tersebut tidak akan membahayakannya, bayi perempuan tersebut akan dapat menyakiti seekor singa sedangkan ia tidak akan dapat menyakiti bayi tersebut dan serigala akan berada di tengah gerombolan kambing seakan-akan ia adalah anjing penjaganya, dunia akan dipenuhi oleh perdamaian sebagaimana sebuah bejana diisi air (dengan merata), agama akan menjadi satu, maka tidak ada yang disembah selain Alloh swt. Seluruh hal yang menyebabkan peperangan terhapus, suku Quraisy kembali mengambil kekuasaannya, dan bumi akan menjadi seperti bentangan perak, dan tumbuh-tumbuhannya akan tumbuh seperti di zaman Nabi Adam as. Sehingga apabila kelompok (3 orang sampai dengan 10 orang) berkumpul untuk makan setangkai anggur, maka itu akan mengenyangkan mereka, dan apabila sekelompok orang tersebut berkumpul untuk memakan delima, maka itu akan mengenyangkan mereka, seekor sapi pada waktu itu hanya berharga sedikit saja dan seekor unta hanya berharga beberapa dirham saja. Dan sesungguhnya sebelum keluarnya Dajjal adalah adanya tempo waktu 3 tahun yang sangat sulit dimana pada waktu itu manusia akan ditimpa oleh kelaparan yang sangat, Alloh swt. akan memerintahkan kepada langit pada tahun yang pertama darinya untuk menahan sepertiga dari hujannya, dan memerintahkan kepada bumi untuk menahan sepertiga dari tanam-tanamannya. Kemudian Alloh memerintahkan kepada langit pada tahun yang kedua darinya untuk menahan dua pertiga dari hujannya dan memerintahkan kepada bumi untuk menahan dua pertiga dari tumbuh-tumbuhannya. Kemudian pada tahun yang ketiga darinya Alloh memerintahkan kepada langit untuk menahan semua air hujannya lalu ia tidak menetaskan setitik air pun, dan Alloh memerintahkan kepada bumi untuk menahan semua tanam-tanamannya, maka setelah itu tidak akan tumbuh satu tanaman hijau pun dan semua binatang berkuku akan mati, kecuali yang tidak dikehendaki oleh Alloh swt. Kemudian para sahabat bertanya: ‘Dengan apakah manusia akan hidup pada masa itu?’ Beliau saw. menjawab: ‘Tahlil, takbir dan tahmid akan sama artinya bagi mereka dengan makanan.’” (HR. shohih Ibnu Majjah, Ibnu Khuzaimah dan Hakim dari Abu Umamah. Dishohihkan oleh Albani dalam shahihil  Jami’ dan dalam Ash Shahihah nomor 2457. Diriwayatkan oleh Ahmad dengan sanad yang mempunyai satu kelemahan dari Asma’ binti Zaid Al Anshariyah. Ibnu Majjah berkata: “Aku mendengar Abul Husein Ath Thanafisi berkata: ‘Aku mendengar ‘Abdurrahman Al Muharibi berkata: ‘Hadits ini sepatutnyalah dimiliki oleh para pendidik supaya merka dapat mengajarkannya di sekolah Al Qur’an.’’” Lihat kitab Al Fitan wa Al Malahaim, oleh Ibnu Katsir, hal. 80), (HR. shohih Muslim dari Abu Hurairoh hadits no. 2034 hal-1040, dari Abdullah bin Umar dari Umar bin Khththob hadits no. 2044 hal-1045-1047, dari Hudzaifah hadits no. 2047 hal-1048, dari An Nuwwas bin Sam’an hadits no. 2048 hal-1050-1052, dari Abu Sa’id Al Khudri hadits no. 2049 hal 1052-1053, dari Abu Sa’id Al Khudri hadits no. 2050 hal 1053-1054, dari Anas bin Malik hadits no. 2056 hal-1062, dalam Ringkasan Shohih Muslim, M. Nashiruddin Al-Bani, terbitan Gema Insani), (HR. shohih Muslim dari Abu Darda, dalam Shohih Sunan Abu Daud, M. Nashiruddin Al-Bani, jilid 3, hadits no. 4323, hal-49, terbitan Pustaka Azzam).

“Barangsiapa yang mendengar nama Dajjal hendaklah ia berpaling darinya. Karena, demi Alloh, sesungguhnya apabila ia menemuinya dan ia mengira bahwa dirinya adalah seorang mu’min, maka ia akan mengikutinya (Dajjal tersebut) dengan segala syubhat (kebhatilan) yang dia timbulkan.” (HR. shohih Ahmad, Abu Dawud dan Hakim dari ‘Imran bin Hushain.dishohihkan oleh Albani dalam Al Misykat nomor 5488), (HR. shohih Abu Daud dari Imran bin Hushain, dalam Shohih Sunan Abu Daud, M. Nashiruddin Al-Bani, jilid 3, hadits no. 4319, hal-46, terbitan Pustaka Azzam).

“Orang tua Dajjal tidak pernah mendapatkan anak selama 30 tahun, kemudian terlahirlah dari keduanya seorang anak laki-laki yang hanya bermata satu, berperangai buruk dan sangat sedikit manfaatnya. Ketika matanya tertidur, hatinya tidaklah ikut tertidur. Kemudian beliau saw. menerangkan tentang dua orang tuanya dengan bersabda: ‘Ayahnya adalah seorang laki-laki yang berpostur tinggi, berdaging tidak teratur, berhidung panjang, seakan-akan hidungnya adalah paruh burung.Ibunya adalah seorang wanita besar, bertangan panjang dan berpayudara besar.’” (HR. Iman Ahmad dari Abu Bakar. Diriwayatkan juga oleh Tirmidzi dari Hammad bin Salamah, dan ia berkata, bahwa ini hadits hasan).

“Sesungguhnya menjelang terjadinya kiamat terdapat 30 dajjal-dajjal pendusta.” (Hadits shahih riwayat Ahmad dari Ibnu ‘Umar. Dimuat oleh Albaani dalam kitab Ash Shahihah nomor 1683. dan telah muncul dajjal-dajjal pendusta yang banyak, seperti Musailamah Al Kadzdzab, Al Aswad Al ‘Ansi, Thulaihah Al Asadi, Sajjah, Ghulam Ahmad Al Qadiani dan lainnya), (HR. shohih Muslim dari Abu Hurairoh hadits no. 2023 & dari Jabir bin Samurah hadits no. 2024, dalam Ringkasan Shohih Muslim, M. Nashiruddin Al-Bani, hal-1033, terbitan Gema Insani).

“Aku mendengar seruan dari tukang seru Rosululloh untuk melaksanakan sholat berjama’ah, maka aku berangkat ke mesjid dan sholat bersama Rosululloh. Aku sholat di shaf para wanita di belakang kaum laki-laki. Ketika sholat sudah selesai, Rosululloh duduk di atas mimbar, sambil tersenyum beliau berkata: ‘Demi Alloh, sesungguhnya aku mengumpulkan kalian bukanlah untuk suatu kabar gembira atau kabar buruk, akan tetapi aku mengumpulkan kalian karena Tamim Ad Dari yang dahulunya seorang laki-laki pemeluk agama Nasrani, maka ia telah memeluk agama Islam dan membai’atku. Ia telah berkata kepadaku dengan suatu perkataan yang sudah pernah aku katakan kepada kalian tentang Al Masihuddajjal. Ia mengisahkan perjalanannya kepadaku, bahwa ia berlayar dengan sebuah kapal laut bersama 30 orang laki-laki dari kabilah Lakham dan Judzam. Kemudian mereka terombang-ambing oleh ombak (badai) selama satu bulan. Hingga kapal tersebut terdampar pada sebuah pulau di tengah laut di arah tempat matahari terbenam. Lalu mereka semua duduk (istirahat) di suatu tempat yang terletak sangat dekat dengan kapal. Setelah itu mereka masuk ke dalam pulau tersebut, lalu mereka bertemu dengan seekor binatang yang berbulu lebat, sehingga mereka tidak dapat memperkirakan mana ekornya dan mana kepalanya, karena tertutup oleh bulunya yang terlalu banyak. Maka mereka berkata: ‘Celaka, dari jenis apakah kamu ini.’ Ia menjawab: ‘Saya adalah Al Jassasah.’ Mereka bertanya: ‘Apakah Al Jassasah itu?’ Tanpa menjawab ia berkata: ‘Wahai orang-orang, pergilah kalian kepada seorang laki-laki yang berada di biara itu. Sesungguhnya ia sangat ingin mendengarkan berita-berita dari kalian!’ Tamim Ad Dari berkata: ‘Ketika ia telah menjelaskan kepada kami tentang laki-laki itu, kami pun terkejut karena kami mengira; bahwa ia adalah setan. Lalu kami segera berangkat sehingga kami memasuki biara tersebut, tiba-tiba di sana terdapat seorang manusia yang paling besar (yang pernah kami lihat) dalam keadaan terikat sangat kuat. Kedua tangannya terikat ke pundaknya serta antara dua lutut dan mata kakinya terikat dengan besi.’ Kami berkata: ‘Celaka, siapakah kamu ini?’ Ia menjawab: ‘Takdir sudah menentukan bahwa kalian akan menyampaikan kabar-kabar kepada saya, maka kabarkanlah kepada saya siapakah kalian ini?’ Mereka menjawab: ‘Kami adalah orang-orang ‘Arab yang berlayar dengan sebuah kapal, tiba-tiba kami menghadapi sebuah laut yang sedang berguncang, lalu kami terombang-ambing di tengah laut selama satu bulan, maka terdamparlah kami di pulau ini. Lalu kami duduk di tempat yang terdekat dengan kapal, kemudian kami masuk ke pulau ini. Maka kami bertemu dengan seekor binatang yang sangat banyak bulunya, yang tidak dapat diperkirakan mana ekor dan mana kepalanya, dari banyaknya bulunya. Maka kami berkata: ‘Celaka, apakah kamu ini?’ Ia menjawab: ‘Aku adalah Al Jassasah.’ (tanpa menjawab) ia berkata: ‘Pergilah kalian kepada seorang laki-laki yang berada di biara itu, karena ia sangat menginginkan berita-berita yang kalian bawa. Lalu kami segera menuju tempat kamu ini, maka kami terkejut bercampur takut karena mengira bahwa kamu ini adalah setan.’ Ia (laki-laki besar yang terikat itu) berkata: ‘Beritakanlah kepada saya tentang pohon-pohon kurma yang ada di daerah Baisan.’ Kami berkata: ‘Tentang apa yang ingin kamu tanya darinya?’ Ia berkata: ‘Saya menanyakan apakah pohon-pohon kurma itu tetap berbuah?’ Kami menjawab: ‘Ya.’ Ia berkata: ‘Adapun pohon-pohon kurma itu, maka ia (sebentar lagi) hampir saja tidak akan berbuah lagi.’ Kemudian ia berkata lagi: ‘Beritakanlah kepadaku tentang danau Tiberia.’ Mereka berkata: ‘Tentang apakah yang ingin kamu tanyakan perihalnya?’ Ia bertanya: ‘Apakah ia tetap berair?’ Kami menjawab: ‘Ya.’ Ia berkata: ‘Adapun airnya, maka ia (sebentar lagi) hampir saja akan habis.’ Kemudian ia berkata lagi: ‘Beritakanlah kepada saya tentang mata air Zugar’ Mereka berkata: ‘Tentang apa yang ingin kamu tanyakan perihalnya?’ Ia bertanya: ‘Apakah di sana masih ada air dan apakah penduduk di sana masih bertani dengan menggunakan air dari mata air Zugar itu?’ Kami katakana kepadanya: ‘Benar, ia berair banyak dan penduduknya bertani dari mata air tersebut.’ Lalu ia berkata lagi: ‘Beritakanlah kepada saya tentang nabi yang ummi, apa sajakah yang sudah ia perbuat?’ Mereka menjawab: ‘Dia telah keluar dari Mekkah menuju Madinah.’ Lalu ia bertanya: ‘Apakah ia diperangi oleh orang-orang Arab?’ Kami menjawab: ‘Ya.’ Ia bertanya: ‘Apakah yang ia lakukan terhadap mereka?’ Maka kami memberitahukan kepadanya, bahwa ia (nabi itu) telah menundukkan orang-orang Arab yang bersama dengannya dan mereka menaatinya.’ Lalu ia berkata: ‘Apakah itu semua telah terjadi?’ Kami menjawab: ‘Ya.’ Ia berkata: ‘Sesungguhnya adalah lebih baik bagi mereka untuk menaatinya dan sungguh saya akan mengatakan kepada kalian tentang diri saya, saya adalah Al Masihuddajjal dan sesungguhnya saya hampir saja diizinkan untuk keluar. Maka saya akan keluar dan berjalan di muka bumi, dan tidak ada satupun kampong (negeri) yang tidak akan kumasuki dalam waktu 40 malam selain Mekkah dan Thibah. Maka kedua negeri itu adalah terlarang untuk saya, dimana setiap kali aku ingin memasuki salah satu dari kedua negeri itu, saya dihadang oleh seorang malaikat yang di tangannya ada pedang berkilau dan sangat tajam untuk menghambatku dari kedua negeri tersebut. Dan di setiap celahnya terdapat malaikat yang menjaganya.’’ Ia (Fathimah si perawi hadits) berkata: ‘Rosululloh saw. bersabda sambil menghentakkan tongkatnya di atas mimbar: ‘Inilah Thibah, inilah Thibah, inilah Thibah (maksudnya kota Madinah). Bukankah aku sudah menyampaikan kepada kalian tentang hal itu?’ Orang-orang (para sahabat) menjawab: ‘Benar.’ Beliau saw. berkata: “Saya tertarik dengan apa-apa yang dikatakan oleh Tamim Ad Dari, karena ia bersesuaian dengan apa-apa yang pernah aku sampaikan kepada kalian tentang Madinah dan Mekkah. Bukankah ia (tempat Dajjal) terletak di laut Syam atau laut Yaman?’ Dimana Rosululloh mengisyaratkan tangannya ke arah timur. Ia (Fathimah) berkata: Hal ini saya hafalkan dari Rosululloh saw.’” (HR. Muslim dari Fathimah binti Qais dalam kitab Al Fitan. Riwayat Ahmad dari Abu Hurairoh dan ‘Aisyah. Riwayat Ibnu Majjah dari Fathimah dan riwayat Abu Dawud dengan sanad hasan dari Jabir), (HR. shohih Muslim dari Amir bin Syarahil dari Fathimah binti Qais, dalam Ringkasan Shohih Muslim, M. Nashiruddin Al-Bani, hadits no. 2054, hal-1059-1062, terbitan Gema Insani).

“…Sesungguhnya aku tertahan oleh perbincangan Tamim Ad-Dari mengenai seorang lelaki yang berada di tengah pulau kecil dari gugusan pulau-pulau, ‘Ketika aku tengah bersama seorang perempuan berambut panjang. Aku bertanya kepada perempuan itu, ’Siapakah kamu?’ Perempuan itu menjawab, ‘Aku adalah Al Jassasah. Pergilah kamu ke istana itu….’’”(HR. shohih Muslim dari Fathimah binti Qais, dalam Shohih Sunan Abu Daud, M. Nashiruddin Al-Bani, jilid 3, hadits no. 4325, hal-50-51, terbitan Pustaka Azzam).

“…Di saat senja, mereka terdampar di sebuah pulau, lalu mereka duduk di dekat kapal tumpangan mereka dan setelah itu bergegas memasuki pulau tersebut. Tiba-tiba mereka dihadang oleh hewan melata raksasa berbulu lebat. Mereka berkata, ‘Celakalah kamu, siapakah kamu?’ Hewan itu menjawab, ‘Akulah Al Jassasah. Pergilah kalian menemui seorang lelaki yang berada di istana itu, karena ia sungguh ingin mendengar berita dari kalian.’…’” (HR. shohih Muslim dari Fathimah binti Qais, dalam Shohih Sunan Abu Daud, M. Nashiruddin Al-Bani, jilid 3, hadits no. 4326, hal-52-53, terbitan Pustaka Azzam).

“Kemudian Dajjal berangkat menuju kota Madinah tersebut, maka ia menemukan di setiap celah masuk ke kota itu maka malaikat yang menghunus pedang tajam yang berkilau, lalu ia berhenti di sebuah tanah tandus di lereng bukit dan mendirikan kemah-kemah, kemudian bergetarlah kota Madinah 3 kali guncangan, setelah tidak ada satu pun orang munafik laki-laki, munafik perempuan, orang-orang fasik laki-laki dan orang-orang fasik perempuan kecuali ia pergi bergabung kepadanya (Dajjal), itulah hari pembebasan.” (HR. shohih Ahmad dalam Musnadnya. Al Haitsami berkata dalam kitabnya Al Majma, bahwa para perawinya adalah para perawi hadits shohih), (HR. shohih Muslim dari Anas bin Malik, dalam Ringkasan Shohih Muslim, M. Nashiruddin Al-Bani, hadits no. 2055, hal-1062, terbitan Gema Insani).

 “Sesungguhnya Dajjal akan keluar karena suatu kemarahan.” (HR. Muslim dan Ahmad dari Hafshah).

“Maka ia menghembuskan nafas panjang tiga kali.” (HR. Ahmad dalam musnadnya. Riwayat Hakim, dan di dalam sanadnya ada kritikan).

“…Kemudian akan keluar Dajjal membawa sungai (dalam riwayat lain lautan yang berisi air) dan parit-parit dari api (dalam riwayat lain sungai yang berisi api. Barangsiapa terjatuh ke dalam parit api Dajjal tersebut, maka ia akan diberi pahala dan dosa-dosanya pun akan diampuni. Dan barangsiapa terjatuh ke dalam sungai yang dibawa Dajjal, mala ia berdosa dan akan diangkat semua pahala kebaikannya.” (HR. shohih Abu Daud dari Subayi’ bin Khalid hadits no. 4244, hal-4-5, HR. shohih muttafaq ‘alaih dari Rib’i bin Hirasy dari Hudzaifah dan Abu Mas’ud hadits no. 4315 hal-44-45, dalam Shohih Sunan Abu Daud, M. Nashiruddin Al-Bani, jilid 3, terbitan Pustaka Azzam).

“Sungguh, orang-orang akan berlarian ke gunung-gunung untuk menjauhkan diri dari fitnah Dajjal. Ummu Syarik bertanya, ‘Ya Rosululloh, ketika itu orang-orang Arab di mana?’ Rosululloh menjawab, ‘Ketika itu mereka sedikit.’” (HR. Muslim, Ahmad dan Tirmidzi dari Ummu Syuraik), (HR. shohih Muslim dari Ummu Syarik , dalam Ringkasan Shohih Muslim, M. Nashiruddin Al-Bani, hadits no. 2057, hal-1062-1063, terbitan Gema Insani).

“Ternyata ia adalah seorang laki-laki yang berbadan besar, merah, berambut keriting dan bermata sebelah.” (HR. Bukhari dari Ibnu ‘Umar dalam kitab Al Fitan, bab Dzikruddajjal. Al Hafizh Ibnu Hajar: “Dalam hadits riwayat Thabrani dari ‘Abdullah Ibnu Mughfal disebutkan, bahwa dajjal tersebut berkulit coklat, dan berambut keriting. Hal ini menunjukkan, bahwa ia berkulit coklat murni dan hal ini tidak manafikan untuk mensifakannya dengan warna merah,” hal. 97).

“Sesungguhnya Al Masihuddajjal adalah seorang laki-laki yang pendek, ujung telapak kakinya berdekatan, sedangkan tumitnya berjauhan, berambut keriting, bermata sebelah dengan mata yang terhapus.” (HR. Abu Dawud dari Ubadah Ibnu Shamit. Dan diriwayatkan oleh Imam Ahmad. Sedangkan sanadnya adalah baik (jayyid), sebagaimana yang dikatakan oleh Albaani dalam kitab Takhrij Al Misykat), (HR. shohih Abu Daud dari Ubadah bin Shamit, dalam Shohih Sunan Abu Daud, M. Nashiruddin Al-Bani, jilid 3, hadits no. 4320, hal-46-47, terbitan Pustaka Azzam).

“Sesungguhnya kepala dajjal itu dari belakang terlihat tebal dan berkelok-kelok.” (Hadits shahih riwayat Ahmad dari Hisyam bin ‘Amir).

“Sungguh aku benar-benar akan memperingatkan kamu akan bahayanya (Dajjal), tidak ada satu nabi pun, kecuali ia memperingatkan kaumnya (akan fitnahnya) dan Nuh juga telah memperingatkan kaumnya, akan tetapi kau akan mengatakan kepada kalian suatu perkataan yang belum pernah dikatakan oleh para nabi sebelum aku terhadap kaum mereka, sesungguhnya ia bermata sebelah dan Alloh bukanlah bermata sebelah (bermata satu). (HR. Bukhori, Muslim, Abu Dawud dan Tirmidzi dari Ibnu Umar), (HR. shohih Muttafaq ‘Alaih dari Anas bin Malik hadits no. 4316 hal-45, HR. Hakim dalam Al Mustadrak, Ad Dailami dalam Al Firdaus, hadits no. 4317 hal 46, dalam Shohih Sunan Abu Daud, M. Nashiruddin Al-Bani, jilid 3, terbitan Pustaka Azzam).

“Sesungguhnya dajjal itu terhapus matanya yang sebelah kiri.” (Hadits shahih riwayat Ahmad dari Anas dan Abu Hudzaifah. Lihat pula kitab Al Jami’ Ash Shagir karya Imam Suyuthi).

“Pada matanya yang sebelah kanan, seakan-akan ia adalah satu biji anggur yang terapung.” (HR. Bukhari dalam kitab Shahihnya dari Ibnu ‘Umar, kitab Al Fitan bab Dzikruddajjal).

“Bukankah sesungguhnya ia itu bermata sebelah, dan tertulis diantara kedua mata dajjal itu kata kafir, yang dapat dibaca oleh setiap Mu’min.” (Muttafaqun ‘alaih dari hadits Anas), (HR. shohih Muslim dari Anas bin Malik, dalam Shohih Sunan Abu Daud, M. Nashiruddin Al-Bani, jilid 3, hadits no. 4318, hal-46, terbitan Pustaka Azzam).

Dan dalam riwayat yang lain dinyatakan: “Tertulis diantara dua matanya huruf kaf, fa’ dan ra’.” (HR. Tirmidzi dari Anas. Dan di dalam Ash Shahihah karya Albaani nomor 2457).

“Mereka bertanya: “Wahai Rasulullah saw. berapa lama ia (dajjal) berada di bumi?” Beliau menjawab: “40 hari, satu hari darinya sama dengan satu tahun, dan satu hari lagi sama dengan satu bulan dan satu hari lagi sama dengan satu minggu sedangkan sisa hari-hari tersebut adalah sama dengan hari-hari biasa mereka.” Mereka bertanya: “Wahai Rasulullah saw., pada suatu hari yang sama lamanya dengan satu tahun tersebut apakah cukup bagi kami untuk shalat sehari (lima waktu saja)?” Beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab: “Tidak, perkirakanlah olehmu hari-hari tersebut.” (HR. Muslim dalam kitab Shahih Muslim), (HR. shohih Muslim dari An-Nawwas bin Sam’an, dalam Shohih Sunan Abu Daud, M. Nashiruddin Al-Bani, jilid 3, hadits no.4321, hal-47-48, terbitan Pustaka Azzam).

“Sesungguhnya dajjal akan mencapai semua tempat, kecuali 4 mesjid: Masjidil Haram, Mesjid Madinah, Mesjid Thursina dan Masjidil Aqsha.” (HR. Nu’aim bin Hammad).

  1. Turunnya Nabi Isa as., peperangan Kaum Muslimin melawan Yahudi dan pembunuhan Dajjal serta seluruh kaum Yahudi dan Hewan-hewan dan makhluk mati akan berbicara dengan manusia

“Suatu kelompok dari umatku akan tetap berperang dalam kebenaran secara terang-terangan sampai hari kiamat, sehingga turunlah ‘Isa bin Maryam, maka berkatalah pemimpin mereka (pemimpin umat Islam): ‘Kemarilah dan imamilah sholat kami.’ Ia menjawab: ‘Tidak, sesungguhnya sebagian kamu adalah (ditentukan) sebagai pemimpin terhadap sebagian yang lain, sebagai suatu kemuliaan yang diberikan Alloh kepada umat ini (umat Islam).’” (HR. Muslim dalam kitab Al Fitan dan riwayat Ahmad dari Abu Hurairoh), (HR. shohih Muslim dari Jabir bin Abdullah, dalam Ringkasan Shohih Muslim, M. Nashiruddin Al-Bani, hadits no. 2061, hal-1064, terbitan Gema Insani).

“Isa bin Maryam akan turun di menara putih (Al Mannaratul Baidha’), di Timur Damsyik.” (Hadits shahih riwayat Thabrani dari Aus bin Aus).

“Tidak ada seorang Nabi pun antara aku dengan ‘Isa dan sesungguhnya ia benar-benar akan turun (dari langit), apabila kamu telah melihatnya, maka ketahuilah; bahwa ia adalah seorang laki-laki yang berpostur tubuh sedang (tidak tinggi dan tidak pendek), berkuit putih kemerah-merahan, dia akan turun dengan memakai 2 lapis pakaian yang dicelup dengan warna merah, kepalannya seakan-akan meneteskan air walaupun ia tidak basah.” (Hadits shahih riwayat Abu Dawud dari Abu Hurairah. Dalam kitab Ash Shahihah Albaani nomor 2182).

“Ketika ia (dajjal) berbuat seperti itu, maka Allah pun mengutus Isa bin Maryam. Ia akan turun di menara putih yang terletak di Timur Damsyik dengan memakai 2 pakaian kuning (pakaian dasar dan pakaian pelapis) yang dicelup dengan wangi-wangian, sambil meletakkan 2 telapak tangannya di atas sayap-sayap 2 malaikat apabila ia mengangguk-anggukan kepalanya, maka jatuhlah tetesan air dan apabila ia mengangkat kepalanya maka jatuhlah darinya butir-butir seperti mutiara.” (Sebagian dari teks hadits riwayat Muslim pada kitab Al Fitan dari An Nawwas bin Sam’an).

“…Ia akan tinggal di dunia selama 40 tahun, kemudian ia meninggal dunia lagi dan kaum muslimin pun menyolatinya.”(HR. shohih Abu Daud dari Abu Hurairoh, dalam Shohih Sunan Abu Daud, M. Nashiruddin Al-Bani, jilid 3, hadits no. 4324, hal-49-50, terbitan Pustaka Azzam).

“Ketahuilah, apakah ‘Isa adalah seorang laki-laki yang telah sampai kepadanya ucapan-ucapanku ? Akan tetapi, nanti ia akan meletakkan tangannya di atas kursinya seraya berkata: ‘Petunjuk diantara kami dan kamu adalah kitabulloh. Apa saja yang kami temukan halal di dalamnya, maka kami akan menghalalkannya. Dan apa saja yang kami temukan haram di dalamnya, maka kami akan mengharamkannya. Dan sesungguhnya apa-apa yang diharamkan oleh Rosululloh adalah seperti yang diharamkan oleh Alloh.’” (HR. Tirmidzi dari Miqdam, riwayat Ad Darami, hadits shohih. Dishohihkan oleh Albani dalam kitab Al Misykat nomor 163).

“Demi yang diriku berada di tangannya, sungguh Ibnu Maryam hampir akan turun di tengah-tengah kamu sebagai pemimpin adil, maka ia akan menghancurkan salib, membunuh babi, menolak upeti, melimpahkan harta sehingga tidak seorangpun yang mau menerima pemberian (hibah), dan sehingga satu kali sujud lebih baik dari dunia dan segala isinya.” (HR. Bukhari, Muslim, Ahmad, Nasa’i dan Ibnu Majjah dari Abu Hurairah), (HR. shohih Muslim dari Abu Hurairoh, dalam Ringkasan Shohih Muslim, M. Nashiruddin Al-Bani, hadits no. 2059, hal-1063-1064, terbitan Gema Insani).

“Demi Dzat yang diriku berada di tangannya, sungguh Ibnu maryam akan mengucapkan tahlil dengan berjalan kaki untuk melaksanakan haji atau umrah atau kedua-duanya dengan serentak.” (HR. Ahmad dan Muslim dari Abu Hurairah. Dalam Ash Shahihah Albaani nomor 2457).

“Demi Dzat yang diriku berada di tangan-Nya, tidak akan terjadi kiamat, sehingga binatang buas akan berbicara dengan manusia, dan seorang laki-laki akan berbicara dengan gantungan cemetinya, tali sandalnya dan pahanya akan mengabarkan kepadanya apa-apa yang diperbuat oleh isterinya ketika ia tidak ada (sedang pergi).” (HR. Ahmad dan Tirmidzi dari Abi Sa’id Al Khudri).

“Betapa gembiranya kamu apabila telah turun kepada kamu ‘Isa Ibnu Maryam sedangkan imam (pemimpin sholat) kamu adalah berasal dari kamu.” (HR. Muslim dan Ahmad dari Abu Hurairoh).

“Dan di belakangnya (‘Isa) sudah berada Dajjal, dimana besertanya terdapat 70.000 orang Yahudi dengan pedang yang berhias emas dan berjubah besar yang berwarna hijau. Maka ‘Isa menghadangnya di pintu Timur kota Lud (di Palestina), lalu ia membunuhnya (Dajjal). Dan Alloh mengalahkan orang-orang Yahudi, dimana tidak satupun makhluk yang diciptakan oleh Alloh dapat dijadikan sebagai perlindungan oleh kaum Yahudi, melainkan ia dijadikan Alloh dapat berkata-kata: ‘Wahai hamba Alloh yang muslim, di sini ada orang Yahudi, maka kemarilah kamu dan bunuhlah ia.’ Termasuk dalam obyek seruan tersebut adalah pepohonan, bebatuan, dinding dan binatang, kecuali pohon Ghardaqah, dimana sesungguhnya ia adalah pohon mereka yang tidak akan berkata-kata.” (HR. Ibnu Majjah dan Ibnu Khuzaimah dan shohih menurut Syaikh Nashiruddin Albani dari Abu Umamah)

“Bahkan pepohonan dan bebatuan akan berseru; ‘Wahai Ruhullah (yang dimaksud adalah ‘Isa bin Maryam), di sini ada orang Yahudi.’ Maka ia tidak akan menyisakan satupun dari para pengikutnya yang sesat itu, kecuali dibunuhnya.” (HR. Ahmad dan Hakim dari Jabir).

“Tidak akan terjadi hari kiamat, sehingga kaum muslimin memerangi orang-orang Yahudi. Maka merekpun ditumpas oleh kaum muslim sehingga apabila orang-orang Yahudi itu bersembunyi di balik batu dan pepohonan, maka batu dan pohon itu akan berkata: “Wahai kaum muslimin, wahai hamba Alloh, ini orang Yahudi ada di belakangku, datanglah ke sini dan bunuhlah ia. Kecuali pohon Ghardaqah, dimana sesungguhnya ia adalah pohon kaum Yahudi.” (HR. Muslim VII/188 dari Abu Hurairoh, Bukhori IV/51, Lu’lu’ wa al-Marjan III/308).

“Sehingga pohon dan batu memanggil : ‘Wahai ruh Alloh (nama panggila untuk ‘Isa bin Maryam) di sini ada Yahudi.’ Maka tidak ada satupun pengikut-pengikutnya (Dajjal) yang tidak dibunuh oleh ‘Isa.” (HR. Ahmad dalam Musnad nomor 3;367, dan sanadnya terdapat ‘an’anah Abu Zubair, yangmana ia adalah mudallis hadits. Juga diriwayatkan oleh Al Hakim. Al Hafizh Ibnu Katsir telah berkata dalam kitab Al Fitan wa Al Malahim: ”Hadits ini diriwayatkan oleh lebih dari satu ulama hadits dari Ibrahim bin Thahman, yangmana ia adalah tsiqoh (terpercaya) dan waro’.”).

  1. Munculnya Ya’juj dan Ma’juj

 Kami biarkan mereka (Ya’juj dan Ma’juj) di hari itu[1] bercampur aduk antara satu dengan yang lain, Kemudian ditiup lagi[2] sangkakala, lalu kami kumpulkan mereka itu semuanya” (QS. Al Kahf 18:99)

[1]  Maksudnya: di hari kehancuran dunia yang dijanjikan oleh Allah.

[2]  Maksudnya: tiupan yang kedua yaitu tiupan sebagai tanda kebangkitan dari kubur dan pengumpulan ke padang Mahsyar, sedang tiupan yang pertama ialah tiupan kehancuran alam ini.

“ Hingga apabila dibukakan (tembok) Ya’juj dan Ma’juj, dan mereka turun dengan cepat dari seluruh tempat yang Tinggi..” (QS. Al Anbiya’ 21:96)

“Wahai Adam! Maka ia menjawab: ‘Aku penuhi panggilan-Mu dengan segala kerendahan dan kebaikan hanya ada pada-Mu.’ Maka Alloh berkata: ‘Apakah sudah keluar Ba’tsunnur?’ Adam bertanya: ‘Apakah Batsunnur itu?’ Alloh menjawab: ‘Di tiap-tiap 1000 orang ia ada 999 orang. Apabila ia sudah keluar, maka ketika itu anak kecil akan beruban dan setiap wanita hamil akan melahirkan, dan engkau akan melihat manusia dalam keadaan mabuk. Sebetulnya mereka tidaklah mabuk, akan tetapi (mereka terlihat seperti orang-orang yang mabuk) karena adzab Alloh itu sangat pedih.’ Para sahabat bertanya: ‘Ya Rosululloh, yang manakah diantara kami yang satu (1000-999) itu?’ Beliau saw. Menjawab: ‘Bergembiralah kamu, karena sesungguhnya seorang laki-laki dari kamu adalah sama dengan 1000 orang dari Ya’juj dan Ma’juj.’” (HR. Bukhori dalam kitab Al Fitan, kitab Al Anbiya’, bab kisah Ya’juj dan Ma’juj, dari Abu Sa’id Al Khudri).

“La Ilaha Illalloh, celakalah orang-orang Arab akibat bencana yang sudah mendekat, pada hari ini hampir saja pembukaan (pelobangan) dinding Ya’juj dan Ma’juj selesai seperti ini. Beliau saw. Melingkarkan ibu jari dengan telunjuknya. Lalu bertanyalah Zainab binti Jahsyin: ‘Wahai Rosululloh, apakah kita akan hancur sedangkan diantara kita terdapat orang-orang yang sholeh?’ Beliau menjawab: ‘Ya, apabila sudah banyak terjadi kemaksiatan (dosa).’” (HR. Bukhori dan Muslim dari Fathimah bin Jahsyin ra.).

“Dinding Ya’juj dan Ma’juj akan terbuka, maka mereka akan menyerang semua manusia sebagaimana firman Alloh di QS. Al Anbiya 21:96. Maka mereka akan menyerang manusia, sedangkan kaum muslim akan berlarian dari mereka ke kota-kota dan benteng-benteng mereka, kemudian mereka mengambil binatang-binatang ternak bersama mereka. Sedangkan mereka (Ya’juj dan Ma’juj) meminum semua air di bumi, sehingga apabila sebagian mereka melewati sebuah sungai maka merekapun meminum air sungai tersebut sampai kering dan ketika sebagian yang lain dari mereka metewati sungai yang sudah kering tersebut, maka mereka berkata: ‘Dulu di sini pernah ada air.’ Dan apabila tidak ada lagi manusia yang tersisa kecuali seorang saja di sebuah kota atau benteng, maka berkatalah salah seorang dari mereka: ‘Mereka-mereka penduduk bumi sudah kita habisi, maka yang tertinggal adalah penduduk langit,’ kemudian salah seorang dari mereka melemparkan tombaknya ke langit, dan tombak tersebut kembali dengan berlumur darah yang menunjukkan suatu bala dan fitnah. Maka tatkala mereka sedang asyik berbuat demikian, Alloh swt. Mengutus ulat belalang yang keluar dari kuduknya, maka pada pagi harinya mereka pun mati dan tidak terdengar satu nafas pun. Setelah itu kaum muslim berkata: ‘Apakah ada seorang laki-laki yang mau menjual dirinya untuk kami (berani mati) untuk melihat apa yang sedang dilakukan oleh musuh kita ini?’ Maka majulah salah seorang dari mereka dengan perasaan (menganggap) bahwa ia telah mati, kemudian dia menemui bahwa mereka semua telah mati dalam keadaan sebagian mereka di atas sebagian yang lain (berhimpitan), maka laki-laki trsebut menyeru: ‘Wahai semua kaum muslim bergembiralah kamu sesungguhnya Alloh swt. sendiri sudah membinasakan musuhmu,’ maka merekapun keluar dari kota-kota dan benteng-benteng dan melepaskan ternak-ternak mereka ke padang-padang rumput kemudian padang rumput tersebut dipenuhi oleh daging-daging binatang ternak, maka semua susu ternak tersebut gemuk (penuh) seperti tunas pohon yang paling bagus yang tidak pernah dipotong.” (HR. Shohih Ahmad, Ibnu Majjah, Ibnu Hibban dan Hakim dari Abu Sa’id).

“Adapun jumlah mereka adalah sangat besar yang tidak dapat dihitung seperti semut atau belalang karena terlalu banyaknya, sehingga kaum muslim akan menyalakan api selama 7 tahun untuk berlindung dari penyerangan Ya’juj dan Ma’juj, para pemanah dan perisai mereka.” (HR. Shohih Ibnu Majjah dari An Nawwas. Dalam Ash Shahihah Albani nomor 1940).

  1. Penaklukan Roma (Italia)

“Kota manakah yang lebih dahulu akan ditaklukan, Konstantin atau Roma? Maka beliau saw. menjawab: Kota Heraklius akan ditaklukan pertama kali.” (HR Ahmad  2/176 dan Ad Daarami dari ‘Abdullah Bin Umar. Dan dishohihkan oleh Al Hakim serta disetujui oleh Adz Dzahabi. Telah berkata Albani: “Hadits ini sebagaimana yang dikatakan oleh Al Hakim dan Adz Dzahabi.”).

  1. Bumi Arab akan kembali menjadi kebun-kebun dan sungai-sungai

“Tidak akan berdiri kiamat sehingga harta akan banyak dan melimpah sehingga seorang laki-laki yang mengeluarkan zakat tidak akan menemukan orang yang menerimanya dan sehingga bumi ‘Arab kembali menjadi kebun-kebun dan sungai-sungai.” (HR. Ahmad dan Muslim dari Abu Hurairah).

  1. Munculnya Qahthani sebagai pengganti Imam Mahdi

“Setelah zamanku, akan muncul para khalifah, dimana setelah para khalifah akan muncul para amir, dan setelah para amir akan muncul para raja. Setelah para raja akan muncul para diktator, kemudian muncullah seorang laki-laki yang berasal dari umatku yang akan memenuhi bumi dengan keadilan, sebagaimana ia sebelumnya dipenuhi oleh kezhaliman. Kemudian setelah itu memerintah pula Al Qahthani. Maka demi Dzat yang telah mengutusku dengan kebenaran, kedudukannya tidaklah di bawah darinya (dari Al Mahdi).” (HR. Imam Ath Thabrani dalam kitab Al Kabir, Ibnu Mandah, Abu Nu’aim dan Ibnu ‘Asakir dan hadits ini juga disebutkan oleh Ibnu Hajar Al ‘Asqalani dalam kitab Fathul Baari, Juz 13 kitab Al Ahkam hal. 214 dari Qais bin Jabir Ash Shadafi dari ayahnya dari kakeknya dengan marfu’).

“Kiamat tidak akan terjadi kecuali setelah seorang laki-laki keluar dari Qahthan yang menggiring manusia dengan tongkatnya.” (HR. shohih Muslim dari Abu Hurairoh, dalam Ringkasan Shohih Muslim, M. Nashiruddin Al-Bani, hadits no. 2018, hal-1032, terbitan Gema Insani).

  1. Terbitnya matahari dari tempat terbenamnya

“Yang mereka nanti-nantikan hanyalah kedatangan malaikat kepada mereka, atau kedatangan Tuhanmu, atau sebagian tanda-tanda dari Tuhanmu. Pada hari datangnya sebagian tanda-tanda Tuhanmu tidak berguna lagi iman seseorang yang belum beriman sebelum itu, atau (belum) berusaha berbuat kebajikan dengan imannya itu. Katakanlah, “Tunggulah! Kami pun menunggu.” (QS. Al An’am 6:158), (HR. shohih Muttafaq ‘Alaih dari Abu Hurairoh, dalam Shohih Sunan Abu Daud, M. Nashiruddin Al-Bani, jilid 3, hadits no. 4312, hal-43-44, terbitan Pustaka Azzam).

“Apakah kamu tau ke manakah matahari ini akan pergi? Sesungguhnya ia adalah berjalan sehingga ia sampai ke suatu tempat di bawah Arasy, maka ia segera bersujud, ia selalu dalam keadaan sujud sehingga dikatakan kepadanya: ‘Naiklah kamu dan kembalilah ke tempat datangmu,’ maka ia pun terbit dari tempat terbitnya, kemudian ia berjalan sehingga ia sampai ke suatu tempat di bawah Arasy, maka ia segera bersujud, ia selalu dalam keadaan sujud sehingga dikatakan kepadanya: ‘Kembalilah kamu ke tempat datangmu,’ maka ia pun terbit dari tempat terbitnya, kemudian ia terus berjalan dan tak seorang manusia pun yang mempertanyakannya sehingga ia sampai ke tempat asalnya di bawah Arasy, maka dikatakan kepadanya: ‘Naiklah dan terbitlah kamu dari tempat terbenammu,’ maka ia pun terbit dari tempat terbenamnya, apakah kamu tau kapankah hal itu akan terjadi? Itu akan terjadi pada waktu tidak akan berguna iman seseorang yang belum pernah beriman sebelumnya atau belum pernah berbuat baik dengan imannya.” (HR. Muslim dari Abu Dzar).

“Pada malam itu seorang laki-laki akan memanggil tetangganya: ‘Wahai saudara apakah yang telah terjadi terhadap kita pada malam ini? Aku telah tidur sampai puas dan aku pun telah sholat sampai penat,’ kemudian dikatakanlah kepadanya (matahari): ‘Terbitlah kamu dari tempat terbenammu.’ Dan itulah hari yang tidak berguna iman seseorang yang tidak pernah beriman sebelumnya atau berbuat baik dalam imannya.” (Fathul Baari, Kitaburriqaq, juz 11, bab Thulu’issyamsi Min Maghribiha. Dan lihat kitabul-Fitan Wal-Malahim, Zikru Thulu’issyamsi Min Maghribiha. Al Hafizh Al Baihaqi dalam kitab Al Ba’tsu Wa Annusyur dari Ibnu Mas’ud).

“Aku mendengar Rosululloh saw. bersabda: ‘Sungguh akan datang kepada manusia suatu malam yang sama lamanya dengan 3 malam kamu ini, apabila peristiwa itu terjadi maka ia akan diketahui oleh orang-orang yang sedang berbuat amal sunnah, dimana apabila salah seorang mereka membaca satu hizib (dari Al Qur’an) kemudian dia tidur, setelah ia bangun ia pun membaca satu hizib lagi, kemudian ia tidur, dan ketika mereka melakukan itu, maka orang-orang saling berteriak: ‘Ada apakah ini?’, maka merekapun lari berlindung ke mesjid-mesjid dan tiba-tiba mereka melihat matahari sudah terbit dari tempat terbenamnya, sehingga apabila ia telah sampai di tengah langit, ia pun kembali.” (HR. Al Hafizh Abu Bakar bin Mardawiyah dari ‘Abdullah bin Abu Aufa).

“Tidak akan terjadi kiamat sehingga matahari terbit dari tempat terbenamnya, apabila ia telah terbit dari barat dan semua manusia melihat hal itu maka semua mereka akan beriman, dan itulah waktu yang tidak ada gunanya iman seseorang yang belum pernah beriman sebelum itu.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah. Dan riwayat Ahmad, Abu Dawud dan Ibnu Majjah).

“Sesungguhnya tanda-tanda kiamat pertama yang akan terjadi adalah terbitnya matahari dari tempat terbenamnya dan keluarnya seekor binatang kepada manusia pada waktu Dhuha, yang manapun 2 hal ini yang akan duluan terjadi, maka yang keduanya akan terjadi dalam waktu yang dekat.” (HR. Ahmad, Muslim, Abu Dawud dan Ibnu Majjah dari ‘Abdullah bin ‘Umar), (HR. shohih Muslim dari Abdullah bin Amru, dalam Ringkasan Shohih Muslim, M. Nashiruddin Al-Bani, hadits no. 2053, hal-1057, terbitan Gema Insani).

Dalam hadits Ibnu ‘Abbas, oleh Ibnu Mardawiyah termaktub: “Maka Ubai bin Ka’ab berkata: ‘Maka bagaimana jadinya matahari dan manusia setelah itu?’ Beliau saw. menjawab: ‘Matahari akan tetap menyinarkan cahayanya dan akan terbit sebagaimana terbit sebelumnya, dan orang-orang akan menghadapi (tugas-tugas) dunia mereka, apabila kuda seorang laki-laki melahirkan anaknya, maka ia tidak akan dapat menunggang kuda tersebut sampai terjadinya kiamat.” (Fathul Baari, Kitaburriqaq, juz 11, Thulu’issyamsi Min Maghribiha).

“Manusia akan menetap setelah terbitnya matahari dari tempat terbenamnya selama 120 tahun.” (Hadits shahih yang mauquf yang diriwayatkan oleh Ahmad, Ibnu Abu Syaibah, ‘Abdul Razzaq dan Ath Thabrani dari Abdullah bin Umar. Al Haitsami telah berkata bahwa para perawinya adalah tsiqah (terpercaya, wara’ dan berkepribadian tinggi).

“Sesungguhnya masa bagi Asyrar (manusia-manusia yang jahat) setelah akhyar (manusia-manusia yang terbaik) adalah selama seratus dua puluh tahun.” (hadits ini dikeluarkan oleh Abdur Razzaq, Ibn Abu Syaibah dan Na’im dalam kitab Al Fitan, sanadnya adalah shohih) (Umur Umat Islam Kedatangan Imam Mahdi & Munculnya Dajjal, Amin Muhammad Jamaluddin, terbitan Cendekia, hal. 325).

“3 perkara yang apabila ia keluar, maka ia tdak akan bermanfaat (tidak akan dapat menolong) iman seseorang yang belum pernah beriman sebelumnya yaitu; Dajjal, binatang bumi dan terbitnya matahari dari tempat terbenamnya.” (hadits marfu’ yang dishohihkan oleh Tirmidzi dari Abu Hurairoh).

  1. Keluarnya binatang bumi

“Dan apabila perkataan (ketentuan masa kehancuran alam) telah berlaku atas mereka, Kami keluarkan makhluk bergerak yang bernyawa dari bumi yang akan mengatakan kepada mereka bahwa manusia dahulu tidak yakin kepada ayat-ayat Kami.” (QS. An Naml 27:82).

“Binatang bumi itu akan keluar dengan membawa tongkat Musa dan cincin Sulaiman, maka ia akan mencap hidung orang kafir dengan tongkat dan akan membuat  terang wajah orang Mu’min dengan cincin, sehingga dengan demikian apabila telah berkumpul beberapa orang yang makan di suatu meja hidangan, maka salah seorang dari mereka akan berkata: “Makanlah ini wahai orang Mu’min. Dan makanlah ini wahai orang kafir.” (HR. Abu Dawud, Ath Thayalisi, Ahmad dan Ibnu Majjah, semua riwayat tersebut berasal dari Hammad bin Salamah dari Abu Hurairah).

“Segeralah kamu berbuat baik sebelum ada 6 hal : 1) Dajjal, 2) Asap (menjelang kiamat), 3) Makhluk yang melata di bumi, 4) Terbitnya matahari dari barat, 5) Kehancuran total (kiamat), 6) Kematian pribadimu.” (HR. shohih Muslim dari Abu Hurairoh, dalam Ringkasan Shohih Muslim, M. Nashiruddin Al-Bani, hadits no. 2039, hal-1043, terbitan Gema Insani).

‘Abdullah bin Amru bin ‘Ash berkata bahwasanya binatang ini adalah Al Jassasah yang pernah disebut dalam hadits Tamimuddary (atau disebut Tamim Ad Dari : adh Dhoif / al Fakir) (Lihat Syarah An Nawawi atas shohih Muslim).

  1. Peruntuhan Ka’bah

“…Karena harta terpendam Ka’bah tidak akan mampu dikeluarkan kecuali oleh Dzul Suwaiqatain (lelaki dengan betis lemah) yang datang dari Habasyah.” (HR. hasan Abu Daud dari Abdullah bin Amr, dalam Shohih Sunan Abu Daud, M. Nashiruddin Al-Bani, jilid 3, hadits no. 4309, hal-41, terbitan Pustaka Azzam).

“Ka’bah akan dihancurkan oleh Suwaiqatain (seorang yang berbetis kecil) dari negeri Habsyah.” (Muttafaq ‘Alaih dari Abu Hurairah), (HR. shohih Muslim dari Abu Hurairoh, dalam Ringkasan Shohih Muslim, M. Nashiruddin Al-Bani, hadits no. 2032, hal-1039, terbitan Gema Insani).

“Seakan-akan aku berada di dekatnya, dia itu hitam dan pengkor, yang sedang meruntuhkannya (Ka’bah) batu demi batu.” (Muttafaq ‘Alaih dari Ibnu ‘Abbas).

  1. Keluarnya asap

Tanda besar kiamat ini sekaligus akan menjadi penghabisan dari umur umat Islam. Dimana Alloh akan mencabut setiap roh kaum muslimin, bahkan walaupun hanya memiliki keimanan sebesar biji dzaroh. Dengan penghabisan umat Islam ini menjadikan umat Islam tidak mengalami kiamat, sehingga yang mengalami kiamat hanyalah orang yang tidak ada iman di hatinya.

“Islam akan lenyap sebagaimana lunturnya warna kain, sehingga orang tidak akan tau lagi apakah itu puasa, apakah itu sholat, apakah itu haji, kemudian kitabulloh diangkat ke langit pada suatu malam, maka tidak akan ada di bumi ini satu ayat pun, dan tersisalah beberapa kelompok dari manusia yang terdiri dari orang-orang yang tua renta dan pikun yang berkata: ‘Kami menemukan nenek moyang kami mengucapkan kalimat ini, mereka mengatakan: ‘La Illaha Illalloh.’’” (HR. shohih Ibnu Majjah, Hakim dari Abu Hudzaifah. Dalam kitab Shahihah Albani nomor 87).

“Di pintu gerbang (menjelang) hari kiamat akan datang angin yang akan mencabut ruh-ruh setiap Mu’min.” (HR. Ahmad, Muslim, Tirmidzi dan Ibnu Majjah dari An Nuwas Ibnu Sam’an), (HR. shohih Muslim dari Aisyah, dalam Ringkasan Shohih Muslim, M. Nashiruddin Al-Bani, hadits no. 2013, hal-1030, terbitan Gema Insani).

“Sesungguhnya Allah akan mengutus suatu angin yang lebih lembut dari sutra dari arah Yaman atau arah selatan. Maka tidak seorangpun yang akan dia sisakan dari orang-orang yang masih ada iman di hatinya walaupun seberat biji kecuali akan dicabut rohnya.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah. HR. Hakim, dan dalam shahihah Albaani, nomor 1759), (HR. shohih Muslim dari Abu Hurairoh, dalam Ringkasan Shohih Muslim, M. Nashiruddin Al-Bani, hadits no. 2021, hal-1032-1033, terbitan Gema Insani).

“Sesungguhnya Rabbmu telah memperingatkan kamu dengan 3 hal. (pertama): Asap yang akan mengakibatkan kepada orang Mu’min seperti demam dan kepada orang kafir sehingga ia melepuh (pecah) dan keluar asap dari setiap telinganya, yang kedua adalah binatang, yang ketiga adalah Dajjal.” (Dikeluarkan oleh Ibnu Jarir dan diriwayatkan oleh Thabrani dari Abu Malik Al Asy’ari dan sanadnya adalah jayyid).

Telah berkata Ibnu Abi Hatim dari Ali bin Abu Tholib: “Sebelum selesai tanda asap, maka ia akan mengakibatkan kepada orang-orang mu’min seperti demam dan akan melepuhkan orang-orang kafir sampai pecah.” (Tafsir Ibnu katsir, surat Ad Dukhkhan).

“Siang dan malam tidak akan hilang sehingga disembah (lagi) Allata dan Al’uzza (Tuhan-tuhan berhala dari kaum musyrikin Mekkah) kemudian Alloh akan mengutus angin yang harum, maka ia akan mewafatkan semua orang yang ada di dadanya iman walaupun sebesar biji bayam, maka yang tersisa setelah itu adalah orang-orang yang tidak mempunyai kebaikan, maka mereka akan kembali kepada agama nenek moyang mereka.” (HR. Muslim dari ‘Aisyah).

Dari hadits-hadits di atas kita dapat mengetahui bahwa umat Islam mempunyai batas waktu (umur), batas waktu tersebut ditandai dengan keluarnya asap yang juga menjadi salah satu tanda kedekatan datangnya kiamat. Di makalah ini kita akan coba uraikan perhitungan para ulama akan kedatangan asap sebagai tanda umur umat Islam.

Perhitungan di sini hanyalah sekedar perkiraan para ulama yang mengacu pada hadits-hadits Rosululloh saw. Tetapi ketepatan terjadinya hanyalah Alloh swt. yang mengetahui, karena Alloh swt. adalah Yang Maha Mengetahui dan Yang Maha Menguasai takdir. Dalam perhitungan ini maka tidak sembarangan orang bisa memperhitungkannya, karena dibutuhkan orang-orang yang memang ahli di bidangnya. Karena itu di makalah ini kami akan coba uraikan prhitungan ulama-ulama besar yang memang sudah menjadi rujukan umat Islam di seluruh penjuru dunia. Semoga makalah ini mudah dipahami oleh pembaca.

PENGHITUNGAN UMUR UMAT ISLAM

Dari Abdullah Ibn ‘Umar ra., bahwa beliau mendengar Rosululloh saw. bersabda, “Sesungguhnya menetapmu dibandingkan dengan umat-umat sebelum kamu adalah seperti waktu antara sholat Ashar sampai terbenamnya matahari, Ahli Taurat (Yahudi) telah diberikan kepada mereka kitab Taurat kemudian mereka mengamalkan kitab tersebut, sehingga apabila telah sampai waktu tengah hari mereka pun lemah untuk mengamalkannya, lalu mereka diberi ganjaran oleh Alloh swt. masing-masing satu qirath.” (HR. Bukhori dalam kitab shohihnya) (Umur Umat Islam Kedatangan Imam Mahdi & Munculnya Dajjal, Amin Muhammad Jamaluddin, terbitan Cendekia, hal. 298).

Dari Abu Musa ra. dari Nabi saw., “Permisalan antara kaum Muslimin dan kaum Yahudi dan kaum Nashrani adalah seperti seorang laki-laki (kaya) yang mengupah suatu kaum untuk melakukan sebuah pekerjaan untuknya sampai malam, akan tetapi kaum tersebut hanya bekerja sampai tengah hari dan mereka berkata kepada laki-laki tersebut: ‘Kami tidak memerlukan gaji yang kamu berikan.’ Kemudian laki-laki itu mengupah suatu kaum yang lain dan berkata: ‘Sempurnakanlah pekerjaan ini sampai penuh hari ini dan kamu akan mendapatkan gaji seperti yang aku syaratkan.’ Kemudian kaum tersebut hanya bekerja sampai waktu sholat ‘Ashar dan berkata: ‘Ambillah olehmu apa-apa yang kami kerjakan.’ Kemudian laki-laki tersebut mengupah suatu kaum yang lain, maka merekapun bekerja sampai penuh hari tersebut sehingga terbenam matahari dan mereka mendapatkan gaji dua kaum sebelum mereka.” (HR. Bukhori dalam kitab shohihnya) (Umur Umat Islam Kedatangan Imam Mahdi & Munculnya Dajjal, Amin Muhammad Jamaluddin, terbitan Cendekia, hal. 299).

Cara Penghitungan Pertama Al Hafizh Ibn Hajar

Al Hafizh Ibn Hajar dalam kitabnya bernilai Fathul Baari menunjukan bahwa masa umat ini (umat Islam) adalah lebih dari seribu tahun, karena hadits tersebut menerangkan, bahwa masa umat Yahudi adalah sama dengan masa umat Nashrani ditambah dengan masa umat Islam, sedangkan para sejarawan bersepakat, bahwa masa kaum Yahudi sampai diutusnya Nabi Muhammad saw. adalah lebih dari 2000 tahun, sedangkan masa (umur) umat Nashrani adalah 600 tahun (Fathul Baari, kitab Al Ijarah)

 

Kemudian Al Hafizh Ibn Hajar juga berkata: “Hadits tersebut juga mengisyaratkan tentang pendeknya  masa yang tertinggal dari (umur) dunia.” (Fathul Baari, kitab Al Ijarah)

Dari Salman Al Farisi, “Masa-masa antara ‘Isa dan Muhammad saw. adalah selama 600 tahun.” (HR. Bukhori dalam kitab shohihnya) (Shohih Bukhori, kitab Manaqib Al Anshar) (Umur Umat Islam Kedatangan Imam Mahdi & Munculnya Dajjal, Amin Muhammad Jamaluddin, terbitan Cendekia, hal. 303).

Dengan mengetahui bahwa umur umat Yahudi dan umur umat Nashrani adalah lebih dari 2000 tahun, sedangkan umur umat Nashrani adalah 600 tahun, maka umur umat Yahudi sama dengan 2000 tahun dikurangi 600 tahun sama dengan 1400 tahun lebih dan para ahli sejarah menerangkan bahwa kelebihan tersebut adalah lebih dari 100 tahun, oleh karena itu tepatnya umur umat Yahudi adalah 1500 tahun lebih sedikit.

Dan dengan mengetahui bahwa umur umat Islam sama dengan umur umat Yahudi dikurangi umur umat Nashrani, maka bilangan umur umat Islam adalah sama dengan 1500 tahun dikurangi 600 tahun sama dengan 900 tahun lebih sedikit ditambah 500 tahun sama dengan 1400 lebih sedikit.

Tambahan 500 tahun ini terdapat dalam sebuah hadits marfu’ dari Sa’ad bin Abu Waqqash: Telah bersabda Rosululloh saw.,

“Sesungguhnya saya berharap bahwa umatku tidak akan lemah di depan Tuhan mereka dengan mengundurkan (mengulurkan) umur mereka selama setengah hari.” Kemudian Sa’ad ditanya: ‘Berapakah lamanya setengah hari itu?’ Ia menjawab: ‘Lima ratus tahun.’” (hadits shohih yang diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Daud, Al Hakim, dan Abu Na’im dalam kitabnya Al Hilyah. Dan hadits ini dishohihkan oleh Al Albani dalam kitab Ash Shahihah nya, no. 1643 dan dalam kitab Shahihul Jami’) (Umur Umat Islam Kedatangan Imam Mahdi & Munculnya Dajjal, Amin Muhammad Jamaluddin, terbitan Cendekia, hal. 303).

Imam As Suyuthi dalam kitab beliau yang berjudul Al-Kassaf ketika menerangkan tentang keluarnya Imam Mahdi, dia berkata: “Hadits-hadits hanya menunjukan bahwa: ‘Masa-masa (umur) umat ini (umat Islam) lebih dari 1000 tahun dan tambahannya sama sekali tak lebih dari 500 tahun.’” (dalam kitab Risalatul Kasyfi ‘An Mujawazati Hazih Al Ummah Al Alfa)

Cara Penghitungan Kedua Al Hafizh Ibn Hajar

Al Hafizh Ibn Hajar telah menyebut hadits Ibn ‘Umar ra. melalui Mughirah bin Hakim yang berbunyi:

“Apa-apa yang tersisa bagi umatku dari dunia hanyalah seperti apabila sudah selesai sholat Ashar.”

Beliau juga menyebut hadits Ibn ‘Umar dengan lafazh:

“Adalah kami bersama Rosululloh saw. sedangkan matahari masih tinggi di atas sebuah lembah setelah sholat Ashar, maka beliau saw. berkata: ‘Tiadalah umur kamu dibandingkan dengan umur orang-orang yang telah berlalu kecuali seperti apa-apa yang tersisa dari hari ini dibandingkan dengan yang telah berlalu darinya.’” (Ibn Hajar berkata: Menurut Ahmad sanad hadits ini adalah hasan). (Umur Umat Islam Kedatangan Imam Mahdi & Munculnya Dajjal, Amin Muhammad Jamaluddin, terbitan Cendekia, hal. 320).

Kemudian Al Hafizh Ibn Hajar berkata: “Dan hadits Ibn ‘Umar ini adalah shohih Muttafaqun ‘Alaih, maka adalah suatu kebenaran apabila berpegang kepadanya. Dalam hadits ini terdapat dua tafsiran yaitu:

  1. Yang dimaksud dengan permisalan pada hadits tersebut adalah pendekatan dan bukanlah ia bermaksud kadar yang sebenarnya. Karenanya, dengan tafsiran ini, hadits ini bersesuaian dengan hadits Sa’ad dan hadits Abu Sa’id dengan menetapkan kevalidan hadits-hadits ini.
  2. Yang dimaksud dengan permisalan dalam hadits tersebut adalah penghitungan (al hisab), maka dengan tafsiran yang seperti ini kita harus mendahulukan hadits Ibnu ‘Umar karena ia adalah hadits shohih dan ia menunjukan bahwa masa umat ini adalah kira-kira seperlima (1/5) hari.” (Teks Kitab Fathul Baari, Juz. 11) (1/5 adalah hitungan dari Shubuh sampai Maghrib, maka waktu tinggal seperlima lagi: adh Dhoif / al Fakir).

Perhitungan umur umat Islam berdasarkan perkataan Ibn Hajar adalah:

  1. Masa umur umat Islam dibandingkan dengan keseluruhan umur dunia adalah = (kira-kira) seperlima.

Jadi, umur umat Islam = 1/5 X 7000 tahun = 1400 tahun (kira-kira).

Cara Penghitungan Ketiga Al Hafizh Ibn Hajar

Al Hafizh Ibn Hajar telah berkata pada bab Mawaqitusshalah tentang riwayat dalam kitabuttauhid, yang pada intinya mengatakan bahwa umur umat Yahudi lebih panjang dari umur umat Islam, alasannya karena mereka (kaum Yahudi) memperbandingkan banyaknya pengikut mereka dengan panjangnya masa kaum Yahudi karena mereka beriman dengan Nabi Musa dan ‘Isa, hal ini telah diisyaratkan oleh Al Isma’ily (Kitab Fathul Baari, Juz. 4, Kitabul Ijazah).

Dengan demikian Ibnu Hajar telah menetapkan (tanpa ada tafsiran yang lain) bahwa : umur umat Yahudi adalah lebih panjang dari kaum muslimin. Apabila kita sudah mengetahui masa kaum Yahudi, kita akan dapat mengetahui bahwa masa kaum muslimin tidak lebih panjang dari kaum Yahudi. Yang menjadi pertanyaan kita adalah: “Berapakah lamanya umur umat Yahudi? Jumlah tersebut dapat kita ketahuidengan dua cara:

  1. Dari hadits yang diriwayatkan oleh Hakim yang telah dinukil olehIbn Katsir dari Abu Zar’ah Addamsyaqi dan dari hadits yang diriwayatkan oleh Ibn Asakir dalam kitab Tarikhul Damsyiq dan lain-lain sebagainya yang menyatakan bahwa: umur umat Yahudi adalah: 1500 tahun.
  2. Dari teks perkataan Ibn Hajar dalam kitab Fathul Baari (Juz. 4): “Para ahli nukil (sejarawan) telah bersepakat bahwa masa kaum Yahudi sampai diutusnya Nabi Muhammad saw. adalahlebih dari 2000 tahun, sedangkan masa kaum Nashrani dari itu adalah 600 tahun dan menurut sebagian orang kurang dari itu.” Jadi, umur umat Yahudi adalah 2000 tahun – 600 tahun = lebih dari 1400 tahun.

Cara Penghitungan Imam As Suyuthi

Imam Suyuthi mengatakan:

Jumlah umur dunia dalam sebuah hadits yang shohih dan mauquf dari Abu Hurairoh bahwasanya ia berkata tentang firman Alloh swt.: “Dan mereka menetap di sana selama beberapa ahqab.”

 

“Satu ahqab itu adalah sama dengan 80 tahun, yangmana satu hari darinya sama dengan 1/6 dari masa dunia.” (HR. Al Bazzar dengan marfu’ (sampai sanadnya kepada Nabi saw.) diriwayatkan juga oleh Hakim dalam kitab haditsnya Al Mustadrak dari Abdullah Ibn Mas’ud dan dishohihkannya dan penshohihan ini disetujui oleh Adz Dzahabi Hadits tersebut diriwayatkan oleh ‘Abdun Ibn Hamid yang dimuat oleh As Suyuthi pada akhir kitabnya Alla’ali, dimana sanadnya adalah shohih. Hadits tersebut juga diriwayatkan oleh Hannad dalam kitab Az Zuhdu dengan mauquf sedangkan sanadnya adalah shohih, dan juga diriwayatkan dalam kitab tafsirnya dengan makna yang mauquf). (Umur Umat Islam Kedatangan Imam Mahdi & Munculnya Dajjal, Amin Muhammad Jamaluddin, terbitan Cendekia, hal. 307).

Ibn Jarir telah berkata sambil mengomentari riwayat Abu Hurairoh di atas: “Maka jelaslah dalam kabar ini bahwa keseluruhan umur dunia ini adalah 6000 tahun karena: apabila satu hari dari akhirat itu adalah 1000 tahun dibandingkan dengan waktu dunia sedangkan satu hari dari yang satu ahqab tersebut adalah sama dengan 1/6 dari umur dunia maka: kita dapat menghitung bahwa umur keseluruhan dari dunia ini adalah 6 hari akhirat yang sama lamanya dengan 6000 tahun.” (6 hari akhirat sama dengan umur dunia, atau sama dengan 6 x 1000, yakni 6000 tahun. Karena, satu hari akhirat adalah sama dengan 1000 tahun (Tarikh Ath Thabari, Juz. 1).

 

Alloh swt. berfirman

“…Sesungguhnya sehari disisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu.” (QS. Al Hajj 22:47).

“Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepadaNya dalam satu hari yang kadarnya adalah seribu tahun menurut perhitunganmu.” (QS. As Sajdah 32:5).

“Kaum fakir miskin akan memasuki surga sebelum orang-orang kaya selama setengah hari yaitu selama 500 tahun.” (hadits shohih dalam Shahihul Jami’, nonom 8076). (Umur Umat Islam Kedatangan Imam Mahdi & Munculnya Dajjal, Amin Muhammad Jamaluddin, terbitan Cendekia, hal. 312).

            Dalam sebuah riwayat dari Ibn ‘Abbas termaktub bahwa: “Orang-orang Yahudi mengatakan bahwa masa umur dunia ini adalah 7000 tahun.” (Diriwayatkan oleh Ibn Jarir, Ibn Abu Hatim dan Alwahidy dari Ibn Ishaq berkata ia: “Muhammad bin Abu Muhammad maula (bekas hamba sahaya) Zaid bin Tsabit telah menyampaikan kepada kami dari Sa’id bin Jubair dari ‘Ikrimah atau dari Ibn ‘Abbas. Sanad hadits ini dishohihkan oleh Imam Suyuthi dalam kitab Al Itqan , dan juga oleh Al Hafizh Ibn Hajar dalam kitab Fathul Baari.

Riwayat dari Ibn Abbas ini yang diriwayatkan dengan sanad yang hasan dari ahlul kitab adalah terlihat berlawanan dengan riwayat yang datang dari Abu Hurairoh yang menerangkan bahwasanya umur dunia ini adalah 6000 tahun. Tapi penjelasannya adalah: pemaduan (Pengkombinasian) kedua riwayat itu (riwayat Ibn Abbas dan riwayat Abu Hurairoh) dengan cara melihat bahwa maksud dari perkataan Abu Hurairoh adalah bahwa umur dunia adalah 6000 tahun tanpa adanya tambahan  (500 tahun) dan tanpa termasuk hari kiamat (500 tahun (dari 50.000 tahun)). Adapun perkataan Ibn Abbas, maka ia adalah bermaksud 7000 tahun sampai kehancuran alam semesta. Keterangan hari kiamat 500 tahun :

Telah berkata Abu Hurairoh dari Nabi saw.: “’(yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam.’ (QS.Al Muthaffifin 83:6) adalah selama setengah hari dari 50.000 tahun, maka hari tersebut terasa ringan (singkat) oleh orang-orang mukmin seperti waktu matahari yang sudah rebah akan terbenam sehingga ia benar-benar terbenam.” (Hadits ini disebutkan oleh Al Haitsami dalam kitab Al Majma, Kitabul Ba’tsi bab Khiffatu Yaumil Qiyamah ‘Alal Mu’minin. Dan beliau berkata: “Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Ya’li, para perawinya adalah para perawi hadits-hadits shohih selain dari Isma’il bin Abdullah bin Khalid yangmana ia adalah tsiqoh (jujur, waro’ dan berkepribadian tinggi). (Umur Umat Islam Kedatangan Imam Mahdi & Munculnya Dajjal, Amin Muhammad Jamaluddin, terbitan Cendekia, hal. 308).

Keterangan tersebut (7000 tahun) diperkuat oleh hadits-hadits shohih yang menyebutkan bahwa Nabi Adam diciptakan pada hari Jum’at (akhirat) dan bahwa hari kiamat akan terjadi pada hari Jum’at (dunia dan akhirat) tanpa ada perselisihan pendapat padanya. (Jadi, masa waktu dari penciptaan Adam sampai berdirinya kiamat adalah 7 hari (menurut hitungan akhirat) dari hari Jum’at ke Jum’at).

“Hari yang terbit matahari padanya yang paling baik adalah hari Jum’at, pada hari itu Adam diciptakan, pada hari itu ia dimasukkan ke dalam surga, pada hari itu pula ia dikeluarkan darinya dan tidak akan terjadi hari kiamat kecuali pada hari Jum’at.” (HR. Muslim dalam kitab shohihnya, Ahmad dan Tirmidzi dari Abu Hurairoh). (Umur Umat Islam Kedatangan Imam Mahdi & Munculnya Dajjal, Amin Muhammad Jamaluddin, terbitan Cendekia, hal. 308-309).

“Jibril datang kepadaku dengan membawa sebuah cermin yang putih yang padanya sebuh bintik hitam, aku bertanya: ‘Wahai Jibril, apakah ini?’ Ia menjawab: ‘Ini adalah hari Jum’at.’ Aku bertanya lagi: ‘Dan apa pulakah bintik hitam ini?’ Ia menjawab: ‘Ini adalah hari kiamat yang akan terjadi padanya hari kiamat.” (HR. hasan Abu Ya’la dari Anas, Juz 7, hal. 228. Hadits ini dishohihkan oleh Syaikh Muqbil dalam kitab Al Jami’ Asshahih). (Umur Umat Islam Kedatangan Imam Mahdi & Munculnya Dajjal, Amin Muhammad Jamaluddin, terbitan Cendekia, hal. 309).

Jadi, jumlah umur dunia adalah 7000 tahun, adalah menurut cara Imam As Suyuthi

Kedua  :

Jumlah umur dunia yang telah berlalu (dari masa Nabi Adam as. Sampai pada masa diutusnya Nabi Muhammad saw. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Hakim dari Ibn ‘Abbas dari Nabi saw. ia berkata:

“Umur Adam adalah 1000 tahun.” Kemudian Ibn ‘Abbas berkata: “Antara Adam dengan Nuh adalah 1000 tahun dan antara Nuh dengan Ibrahim adalah 1000 tahun dan antara Ibrahim dengan Musa adalah 700 tahun dan antara Musa dengan ‘Isa adalah 1500 tahun sedangkan antara ‘Isa dan Nabi kita adalah 600 tahun.” (Umur Umat Islam Kedatangan Imam Mahdi & Munculnya Dajjal, Amin Muhammad Jamaluddin, terbitan Cendekia, hal. 310).

Dari perkataannya: “Antara Musa dan ‘Isa adalah 1500 tahun.” Adalah bersesuaian dengan riwayat yang dimuat oleh Al Hafizh Ibn Katsir dalam kitabnya Al Bidayah Wannihayah Juz. 2 dari Abu Zar’ah Ad Damsyiqi telah berkata ia: “’Abdullah bin Shalih telah berkata: Mu’awiyah bin Shalih telah mengabarkan saya dari orang yang mengabarkannya: ‘Taurat diturunkan kepada Musa pada malam yang keenam yang berlalu dari bulan Romadhon dan Zabur diturunkan kepada Dawud pada malam yang kedua belas yang berlalu dari bulan Romadhon, dan itu terjadi setelah 482 tahun. Dan injil diturunkan kepada ‘Isa Ibn Maryam pada malam yang kedelapan belas yang telah berlalu dari bulan Romadhon 1050 tahun setelah Zabur dan Al Qur’an diturunkan pada malam yang keduapuluh empat dari bulan Romadhon.’”

Riwayat di atas juga bersesuaian dengan kabar yang diriwayatkan oleh Ibn ‘Asakir dalam kitab Tarikh Damsyiq, dan itu juga dikutip oleh Ibn Manzhur dalam meringkas kitab sejarah tersebut dalam Juz. 1 dari Ayyub Ibn Atabah, telah berkata: “Adalah waktu antara Adam dengan Nuh adalah sebanyak 10 bapak yaitu selama 1000 tahun dan adalah waktu antara Nuh dan Ibrahim adalah selama 10 bapak yaitu 1000 tahun dan adalah waktu antara Ibrahim dengan Musa adalah selama 7 bapak dan beliau tidak menyebut tahunnya dan waktu antara Musa dengan ‘Isa adalah 1500 tahun sedangkan waktu antara ‘Isa dengan Muhammad saw. adalah 600 tahun dan semua itu adalah jarak waktu.”

Atsar Ayyub Ibn ‘Atabah ini adalah bersesuaian juga dengan hadits Ibn ‘Abbas tentang jarak waktu antara Ibrahim dengan Musa as. Dan bahkan juga bersesuaian tentang semua jarak waktu tersebut. Begitu juga halnya dengan kitab-kitab ahlul kitab yang disebutkan dari segi jumlah.

Ketiga  :

Penghitungan jumlah waktu antara terbitnya matahari dari tempat terbenamnya (sekitar masa berakhirnya umur umat Islam) sampai berakhirnya masa penghisaban dan masuknya manusia ke negeri akhirat.

  1. Masa antara terbitnya matahari dari tempat terbenamnya sampai terjadinya kiamat adalah 120 tahun.

“Manusia akan menetap setelah terbitnya matahari dari tempat terbenamnya selama 120 tahun.” (Hadits shahih yang mauquf yang diriwayatkan oleh Ahmad, Ibnu Abu Syaibah, ‘Abdul Razzaq dan Ath Thabrani dari Abdullah bin Umar. Al Haitsami telah berkata bahwa para perawinya adalah tsiqoh (terpercaya, waro’ dan berkepribadian tinggi). (Umur Umat Islam Kedatangan Imam Mahdi & Munculnya Dajjal, Amin Muhammad Jamaluddin, terbitan Cendekia, hal. 311).

“Sesungguhnya masa bagi Asyrar (manusia-manusia yang jahat) setelah akhyar (manusia-manusia yang terbaik) adalah selama seratus dua puluh tahun.” (hadits ini dikeluarkan oleh Abdur Razzaq, Ibn Abu Syaibah dan Na’im dalam kitab Al Fitan, sanadnya adalah shohih) (Umur Umat Islam Kedatangan Imam Mahdi & Munculnya Dajjal, Amin Muhammad Jamaluddin, terbitan Cendekia, hal. 325).

  1. Masa waktu antara duatiupan sangkakala Isrofil adalah 40 tahun.

“Antara 2 tiupan adalah 40, orang-orang bertanya: ‘Wahai Abu Hurairoh 40 hari kah?’, ia menjawab: ‘Saya tidak tau dan saya enggan untuk menjawab,’ mereka bertanya lagi: ’40 tahun kah?’, ia ra. menjawab: ‘Saya tidak tau dan saya enggan untuk menjawab,’ mereka bertanya lagi: ’40 bulan kah? Ia menjawab: ‘Saya tidak tau dan saya enggan untuk menjawab.’” (HR. Bukhori dan Muslim dari Abu Hurairoh. Dan pada hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Mardawiyah dan Ibnu abu Dawud dalam Al Ba’tsu dan dalam riwayat Ibnu Al Mubarak dalam kitab Az Zuhdu dari Al Hasan terdapat tambahan teks yaitu: ‘Selama 40 tahun.’), (HR. shohih Muslim dari Abu Hurairoh, dalam Ringkasan Shohih Muslim, M. Nashiruddin Al-Bani, hadits no. 2066, hal-1066, terbitan Gema Insani). (Umur Umat Islam Kedatangan Imam Mahdi & Munculnya Dajjal, Amin Muhammad Jamaluddin, terbitan Cendekia, hal. 311).

Dalam sebuah atsar dari Ibnu Abbas disebutkan bahwa tiupan sangkakala terjadi tiga kali. Maka atsar ini tidak ada perbedaan dengan hadits dari Abu Hurairoh di atas. Hadits di atas hanya menyebutkan dua tipuan, maksudnya dua tiupan yang pertama dan yang kedua, dengan atsar dari Ibnu ‘Abbas menjadi lengkap sudah jumlah semua tiupan sangkakala. (adh Dhoif / al Fakir).

Ibnu Abbas berkata, “Tidak ada lagi pertalian nasab diantara mereka: yakni pada tiupan sangkakala yang pertama. Kemudian sangkakala ditiup lagi (tiupan kedua), firman Alloh, ‘Dan ditiuplah sangkakala, maka matilah siapa yang di langit dan di bumi kecuali siapa yang dikehendaki Alloh… (QS. Az Zumar 39:68).’ Kemudian pada tiupan ketiga, sebagian dari mereka menghadap kepada sebagian yang lain dengan berbantah-bantahan.” (atsar shohih dari Ibnu Abbas, dalam Ringkasan Shahih Bukhari, M. Nashiruddin Al-Bani, jilid 3, no. 1959, hal-316-317, terbitan Gema Insani).

  1. Sedangkan waktu manusia dalam keadaan menengadah ke langit untuk menunggu ke pengadilan yang terakhir adalah selama 40 tahun. Telah bersabda Rosululloh saw.

“Alloh mengumpulkan orang-orang yang awal dan orang-orang yang terakhir pada suatu hari yang maklum yaitu selama 40 tahun dalam keadaan menengadah dan membelalakkan kedua mata mereka ke langit untuk menunggu keputusan pengadilan dan Alloh akan turun dalam lindungan awan-awan.” (Hadits ini telah dimuat Adz Dzahabi dalam kitab “Al ‘Uluwwu” dan ia menghasankan sanadnya, demikian juga halnya dengan Al Albaani. Lihat kitab “Mukhtsharul ‘Uluwwi” oleh Al Albaani, hal. 110-111). (Umur Umat Islam Kedatangan Imam Mahdi & Munculnya Dajjal, Amin Muhammad Jamaluddin, terbitan Cendekia, hal. 312).

  1. Masa waktu hari kiamat adalah 500 tahun

Telah berkata Abu Hurairoh dari Nabi saw.: “’(yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam.’ (QS.Al Muthaffifin 83:6) adalah selama setengah hari dari 50.000 tahun, maka hari tersebut terasa ringan (singkat) oleh orang-orang mukmin seperti waktu matahari yang sudah rebah akan terbenam sehingga ia benar-benar terbenam.” (Hadits ini disebutkan oleh Al Haitsami dalam kitab Al Majma, Kitabul Ba’tsi bab Khiffatu Yaumil Qiyamah ‘Alal Mu’minin. Dan beliau berkata: “Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Ya’li, para perawinya adalah para perawi hadits-hadits shohih selain dari Isma’il bin Abdullah bin Khalid yangmana ia adalah tsiqoh (jujur, waro’ dan berkepribadian tinggi). (Umur Umat Islam Kedatangan Imam Mahdi & Munculnya Dajjal, Amin Muhammad Jamaluddin, terbitan Cendekia, hal. 308).

 

Jadi, keseluruhan jumlah waktu antara terbitnya matahari dari tempat terbenamnya sampai masa selesainya hisab adalah 700 tahun.

Jumlah umur dunia (7000), sama dengan masa yang telah berlalu dari umat-umat yang telah berlalu sampai diutusnya Nabi Muhammad saw. (4800) ditambah umur umat Muhammad ditambah jumlah masa dari selesainya umur umat Muhammad (sekitar terbitnya matahari dari barat) sampai selesainya masa penghisaban (700).

7000 tahun sama dengan 4800 tahun ditambah umur umat Muhammad ditambah 700 tahun.

Umur umat Muhammad sama dengan 7000 tahun dikurangi 4800 tahun dikurangi 700 tahun sama dengan 1500 tahun (menurut penghitungan Imam As Suyuthi).

 

Dalam kitabnya Al Kasyaf Imam Suyuthi memperkuat hasil hitungannya, ia berkata: “Kemudian setelah selesai menulis risalah ini saya melihat dalam kitab Al ‘Ilal oleh Imam Ahmad Ibn Hanbal, telah berkata ia: Isma’il bin Abdul Karim bin Ma’qal bin Munabbih telah mengabarkan kepada kami, saya dikabarkan oleh ‘Abdusshamad bahwa ia mendengar Wahab berkata: ‘Umur dunia telah berlalu 5600 tahun, sesungguhnya saya sudah mengetahui setiap raja dan nabi yang terdapat di setiap zaman’, dan ini menunjukan bahwa umur umat ini adalah lebih dari 1000 tahun dengan tambahan kira-kira 400 tahun.” (sanadnya adalah hasan sebagaimana yang dikatakan oleh pentahkik kitab Al Kasyaf yaitu Syaikh Jasim bin Muhammad Muhalhil Al Kuwaiti). (Umur Umat Islam Kedatangan Imam Mahdi & Munculnya Dajjal, Amin Muhammad Jamaluddin, terbitan Cendekia, hal. 313).

Cara Penghitungan Imam Ibnu Rajab Al Hanbali

Dari Abdullah Ibn ‘Umar ra., bahwa beliau mendengar Rosululloh saw. bersabda, “Sesungguhnya menetapmu dibandingkan dengan umat-umat sebelum kamu adalah seperti waktu antara sholat Ashar sampai terbenamnya matahari, Ahli Taurat (Yahudi) telah diberikan kepada mereka kitab Taurat kemudian mereka mengamalkan kitab tersebut, sehingga apabila telah sampai waktu tengah hari mereka pun lemah untuk mengamalkannya, lalu mereka diberi ganjaran oleh Alloh swt. masing-masing satu qirath.” (HR. Bukhori dalam kitab shohihnya) (Umur Umat Islam Kedatangan Imam Mahdi & Munculnya Dajjal, Amin Muhammad Jamaluddin, terbitan Cendekia, hal. 298).

Telah berkata Ibn Rajab Rahimahulloh: “Sesungguhnya umat-umat yang dimaksud oleh hadits tersebut adalah umat Nabi Musa as. Dan umat Nabi ‘Isa as. Kami mengatakan demikian karena: waktu umat ini (umat Islam) dibandingkan dengan umur dunia dari awal sampai akhirnya adalah tidak sampai dengan waktu antara sholat Ashar sampai terbenamnya matahari yang dibandingkan dengan waktu-waktu yang berlalu dari satu hari dan bahkan jauh lebih sedikit dari itu.” (Kitab Fathul Baari oleh Ibn Rajab, hadits nomor 557).

Ibn Rajab telah berkata: “Kami telah mengetengahkan bahwa yang dimaksud oleh hadits ini adalah waktu umat Muhammad yang dibandingkan dengan umat Musa dan ‘Isa as. Karenanya, keseluruhan waktu umat yang tiga ini  adalah seperti satu hari penuh dan adapun waktu yang telah berlalu dari umat-umat yang lain semenjak awal dunia adalah seperti malam menjelang datangnya siang hari tersebut karena malam adalah mendahului siang, (jadi malam itu diciptakan sebelum siang)

(dalilnya adalah firman Alloh swt.: “Dan suatu tanda (kekuasaan Alloh yang besar) bagi mereka adalah malam; Kami tanggalkan siang dari malam itu, maka dengan serta merta mereka berada dalam kegelapan.” (QS. Yaasiin 36:37)),

dan malam yang berlalu tersebut padanya terdapat bintang-bintang yang bersinar yang akan dijadikan sebagai petunjuk jalan, maka mereka itulah para nabi yang telah diutus, dan pada malam itu juga ada bulan yang terang benderang, maka itulah ia Ibrahim Khalilulloh as., imam para sekalian orang yang hanif dan bapak dari sekalian Nabi-nabi. Jarak waktu antara Adam dengan Nuh adalah 1000 tahun, jarak waktu antara Ibrahim dengan Musa adalah 1000 tahun. Hal ini dikatakan oleh banyak orang dari orang-orang yang terdahulu.” Beliau berkata lagi: “Adapun permulaan risalah Musa as. Adalah seperti permulaan siang hari karena Musa, ‘Isa dan Muhammad adalah para pemilik syari’at dan kitab-kitab yang diikuti. Karenanya, masa amal Bani Isro’il sampai munculnya ‘Isa as. Adalah seperti setengah hari yang pertama, dan waktu amal umat ‘Isa adalah seperti waktu antara sholat Dzuhur sampai sholat Ashar sedangkan waktu amal umat Muhammad adalah seperti dari waktu sholat Ashar sampai terbenamnya matahari.”

Demikianlah perkataan Imam Ibn Rajab yangmana pernyataan tersebut menunjukkan bahwa beliau telah mengikuti sebuah metode dalam pemahamannya terhadap hadits tersebut dengan keterangan sebagai berikut:

Beliau telah meletakkan keseluruhan waktu dunia adalah seperti satu hari yang penuh dengan siang dan malamnya. Beliau menjadikan waktu yang telah berlalu dari umat-umat yang berlalu dari masa Nabi Adam as. Sampai Musa as. Seperti waktu satu malam dari hari tersebut karena, waktu malam itu adalah mendahului siang, dan waktu malam itu adalah 3000 tahun. Kemudian Ibn Rajab menjadikan masa umat-umat yang tiga (Yahudi-Nashrani-Islam) adalah sama dengan waktu siang dari hari tersebut, dan hitungan waktunya adalah dekat dari setengah hari yang pertama. (ingat, pengertian satu hari di sini adalah siang ditambah dengan malam) (hitungan yang lain adalah hanya siang, tetapi hitungan Ibn Rajab siang ditambah dengan malam sebelum siang adh Dhoif / al Fakir)

Berikut ini adalah perkataan-perkataan Ibn Rajab dalam penghitungan (al hisab):

  1. Masa umat-umat dari masa Nabi Adam as. Sampai Nabi Musa as. Adalah (satu malam penuh) sama dengan3000 tahun.
  2. Masa umat-umat yang tiga (Yahudi-Nashrani-Islam) adalah (satu siang penuh) sama dengan3000 tahun (dekat dari itu).
  3. Masa umat Yahudi adalah setengah dari siang tersebut sebagaimana yang telah dinyatakan oleh Ibn Rajab dan masa umat Nashrani dan Islam adalah setengah lagi dari siang tersebut. Oleh karena itu:
  4. Apabila umur umat Yahudi adalah setengah dari siang tersebut (dekat dari hitungan tersebut) adalah sama dengan1500 tahun.
  5. Umur umat Nashrani dan Islam adalah sama dengan1500 tahun.
  6. Sedangkan umur umat Nashrani adalah (menurut hadits Salman yang diriwayatkan oleh Bukhori) sama dengan600 tahun. Maka: umur umat Islam (tanpa tambahan) sama dengan 1500 dikurangi 600 tahun sama dengan 900 tahun.

Dengan menambahkan tambahan dari umur umat Islam yang telah disebutkan oleh hadits Sa’ad yang berlalu (yaitu selama 500 tahun) maka: Umur umat Islam adalah sama dengan 900 tahun ditambah 500 tahun sama dengan 1400 tahun (dalam hitungan yang dekat dari itu) menurut cara penghitungan Ibn Rajab.

Cara Penghitungan Sebagian Ulama

“Aku diutus adalah bersama’an dengan kiamat seperti dua jariku ini,” Dan beliau mengisyaratkan dengan menggiringkan jari telunjuk dan jari tengahnya.” (Keshahihan hadits ini adalah Muttafaq ‘Alaih, yang juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah, Anas dan Sahal bin Sa’ad), (HR. shohih Muslim dari Sahl bin Sa’ad, dalam Ringkasan Shohih Muslim, M. Nashiruddin Al-Bani, hadits no. 2062, hal-1065, terbitan Gema Insani). (Umur Umat Islam Kedatangan Imam Mahdi & Munculnya Dajjal, Amin Muhammad Jamaluddin, terbitan Cendekia, hal. 170).

Imam Al Baidhawy telah berkata: “Hadits itu adalah bermaksud: perbandingan masa diutusnya Nabi saw. dengan masa terjadinya kiamat adalah seperti perbandingan kelebihan panjang dari salah satu kedua jari tersebut, Ath Tha’i telah mentarjih (menyatakan kebenaran) pendapat Al Baidhawy (tafsiran perbandingan kelebihan panjang dari kedua jari) dengan menambahkan sebuah hadits yang berasal dari Al Mustaurad bin Syaddad.

“Saya diutus pada waktu yang beriringan dengan hari kiamat yang mana aku mendahuluinya sebagaimana ini mendahului ini.” Dan Beliau saw. mengisyaratkan kepada kepada jari telunjuk dan jari tengah beliau.” (Hadits ini diriwayatkan oleh Tirmidzi dan Ath Thabari dari Al Mustaurad bin Syaddad). (Umur Umat Islam Kedatangan Imam Mahdi & Munculnya Dajjal, Amin Muhammad Jamaluddin, terbitan Cendekia, hal. 317).

Dalam mensyarah hadits ini telah berkata  Ibn Rajab: “’Seperti kedua jariku ini dan beliau saw. mengisyaratkan kepada jari telunjuk dan jari tengahnya.’ Telah ditafsirkan oleh Qatadah dan lain-lain, bahwa; hadits ini bermaksud tentang kelebihan panjang salah satunya dari yang lain, yaitu kelebihan panjang jari tengah dari jari telunjuk.” (Kitab Fathul Baari Ibn Rajab, Juz 4).

Jadi, sesuai dengan pemahaman kebanyakan para ulama maka: Sesungguhnya perbandingan jarak dari lebih dahulunya masa pengutusan Nabi saw. dari masa berdirinya kiamat adalah seperti perbandingan sisa panjang antara jari telunjuk dan jari tengah.

Telah berkata Al Hafizh Ibn Hajar: “Orang yang lebih dahulu membahas masalah ini adalah Abu Ja’far bin Jarir Ath Thabari.” (Fathul Baari oleh Ibn Hajar, Juz. 11).

Ibn Rajab telah berkata: “Ibn Jarir Ath Thabari telah menyebutkan bahwa kelebihan panjang yang ada antara jari telunjuk dan jari tengah adalah setengah dari sepertujuh (1/2 X 1/7).” (Fathul Baari oleh Ibn Rajab, Juz 4).

Beda kelebihan panjang antara jari tengah dan telunjuk adalah setengah dari sepertujuh, yang berarti setengah bagian dari tujuh bagian yang ada atau satu bagian dari empat belas bagian (1/14)

Apabila panjang jari tengah adalah 14 bagian sedangkan panjang jari telunjuk adalah 13 bagian, maka masa yang terdapat antara saat diutusnya Nabi Muhammad saw. dan saat berdirinya hari kiamat adalah sama dengan panjang jari tengah yaitu: 14 bagian. Sedangkan masa yang terdapat antara saat diutusnya Rosululloh saw. sampai berakhirnya umur umat Islam adalah sama dengan panjang jari telunjuk. (Para ulama besar telah lebih dahulu membuat model gambar untuk penjelasan yang seperti ini, seperti Al Hafizh Ibn hajar, Kitab Fathul Baari, Juz 10 Babul Imtisyath  dan Kitaburraqqaq, Juz 11 serta Kitab Riyadhusshalihin oleh Imam Nawawi).

Jadi, apabila kita sudah mengetahui bahwa satu bagian yang terakhir tersebut adalah masa yang ada antara saat terbitnya matahari dari barat  (yaitu masa beberapa waktu sebelum dicabutnya nyawa seluruh kaum Mu’minin) sampai berdirinya kiamat, maka kita akan dapat mengetahui umur umat Islam dengan penghitungan bagian-bagian tersebut berdasarkan metode Imam Ath Thabari. Dengan mengetahui bahwa masa yang terdapat antara terbitnya matahari dari barat sampai berdirinya kiamat adalah 120 tahun, maka kita dapat menghitung umur uma Islam:

Umur umat Islam sama dengan 120 tahun dikalikan 13 bagian sama dengan1560 tahun. (jarak antara keluarnya asap berdekatan dengan terbitnya matahari dari barat, maka jika dihitung dari patokan terbitnya matahari dari barat adalah masih berdekatan (adh Dhoif / al Fakir). Keterangan tentang 120 tahun

“Manusia akan menetap setelah terbitnya matahari dari tempat terbenamnya selama 120 tahun.” (Hadits shahih yang mauquf yang diriwayatkan oleh Ahmad, Ibnu Abu Syaibah, ‘Abdul Razzaq dan Ath Thabrani dari Abdullah bin Umar. Al Haitsami telah berkata bahwa para perawinya adalah tsiqah (terpercaya, wara’ dan berkepribadian tinggi). (Umur Umat Islam Kedatangan Imam Mahdi & Munculnya Dajjal, Amin Muhammad Jamaluddin, terbitan Cendekia, hal. 311).

Metode Penggabungan

Sesungguhnya penggabungan (pengkombinasian) beberapa cara yang berbeda-beda sumber dan dalilnya terhadap penghitungan umur umat Islam adalah berkisar pada kesimpulan (hasil) penghitungan: 1500 tahun dengan mutlak. Hasil atau kesamaan kesimpulan yang didapat tersebut menekankan (walaupun penekanan ini tidak dari segi kepastian akan tetapi dari segi kemungkinan yang paling kuat) bahwa hasil tersebutlah yang dapat kita terima dan kita condong untuk mengatakan bahwa umur umat ini berkisar pada hitungan yang seperti ini.

KARENANYA, BEBERAPA CARA TERSEBUT MEMBUAHKAN SUATU HASIL BAHWA:UMUR UMAT ISLAM LEBIH DARI 1400 TAHUN DAN TIDAK LEBIH DARI 1500 TAHUN.

 

  1. Manusia berlompat-lompat seperti keledai

“…Maka, tinggalah orang-orang yang jelek yang bertingkah laku bagai binatang dan hewan buas, yang tidak mengenal kebaikan dan tidak mengingkari kemungkaran. Lalu, mereka didatangi oleh setan yang menjelma sebagai seorang manusia. Setan itu bertanya, ‘Apakah kalian tidak merasa malu?’ Kata mereka, ‘Apa yang kau perintahkan kepada kami?’ Maka, setan mengajak mereka menyembah berhala, sehingga rezeki mereka melimpah ruah dan kehidupan mereka penuh kenikmatan duniawi. Setelah itu ditiuplah sangkakala yang mengejutkan setiap orang yang mendengarnya. Orang yang pertama kali mendengarnya adalah seorang laki-laki yang berada di dekat tempat minum ontanya. Maka, seorang laki-laki tersebut pingsan, lalu mati. Kemudian disusul oleh semua manusia. Setelah itu Alloh menurunkan hujan bagai gerimis (atau hujan terus-menerus) sehingga jasad-jasad manusia bermunculan, lalu sangkakala ditiup lagi, tiba-tiba mereka bangkit dan hidup kembali. Lalu diserukan, ‘Hai umat manusia, datanglah untuk menghadap ke hadirat Tuhan kalian!’ Alloh berfirman kepada para malaikat, ‘Hentikan mereka di tempat pemberhentian, karena akan ditanya.’ (QS. As Saffat 37:24). Difirmankan pula kepada para malaikat, ‘Siapkanlah calon-calon penghuni neraka!’ Ditanya kepada Alloh, ‘Berapa?’ Dijawab oleh Alloh, ‘Siapkan 999 orang dari tiap 1000 orang.’ Itulah hari yang bisa membuat anak-anak beruban dan betis pun disingkapkan.” (HR. shohih Muslim dari an-Nu’man bin Salim dari Ya’qub bin ‘Ashim bin Urwah bin Mas’ud dari Abdullah bin Amru, dalam Ringkasan Shohih Muslim, M. Nashiruddin Al-Bani, hadits no. 2052, hal-1055-1056, terbitan Gema Insani).

“Kiamat tidak akan terjadi kecuali apabila di bumi tidak disebut-sebut lagi (nama) Alloh, Alloh.” (HR. Muslim, Ahmad, Tirmidzi dan Ibnu Hibban dari Anas), (HR. shohih Muslim dari Anas, dalam Ringkasan Shohih Muslim, M. Nashiruddin Al-Bani, hadits no. 2020, hal-1032, terbitan Gema Insani).

“Kiamat tidak akan terjadi kecuali atas manusia-manusia yang paling jahat.” (HR. Muslim dan Ahmad dari Ibnu Mas’ud),(HR. shohih Muslim dari Abdullah bin Mas’ud, dalam Ringkasan Shohih Muslim, M. Nashiruddin Al-Bani, hadits no. 2022, hal-1033, terbitan Gema Insani).

“Tidak akan berdiri kiamat sehingga mereka bersetubuh (berjingkrak-jingkrak) di jalan seperti keledai-keledai.” (HR. Al Bazzar dan Thabrani dari Ibnu ‘Umar).

  1. Pembenaman, bumi di timur, barat, tanah Arab

“Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam datang kepada kami ketika kami sedang mengkaji suatu hal. Beliau berkata: “Apakah yang sedang kalian bahas ?” Mereka menjawab: “Kami sedang (mengkaji) tentang hari kiamat.” Beliau bersabda : “Sesungguhnya kiamat tidak akan terjadi sehingga kalian menyaksikan sebelumnya 10 tanda.” Maka beliau menyebutkan, yaitu: “Keluarnya asap tebal, munculnya Dajjal, binatang bumi (binatang melata), terbitnya matahari dari tempat terbenamnya, turunnya ‘Isa bin Maryam, Ya’juj dan Ma’juj, 3 pembenaman bumi, di Timur, di Barat, di semenanjung ‘Arabia dan terakhir adalah keluarnya api dari Yaman yang akan menggiring manusia ke Mahsyar mereka.” (HR. Muslim dalam shahihnya, kitab Al Fitan wa Asyratussa’ah. Juga riwayat Ahmad dalam Musnadnya),  (HR. shohih Muslim dari Hudzaifah bin Usaid al-Ghifari, dalam Ringkasan Shohih Muslim, M. Nashiruddin Al-Bani, hadits no. 2037, hal-1042, terbitan Gema Insani), (HR. shohih Muslim dari Hudzaifah bin Asid Al Ghifari, dalam Shohih Sunan Abu Daud, M. Nashiruddin Al-Bani, jilid 3, hadits no. 4311, hal-43, terbitan Pustaka Azzam).

  1. Keluarnya api

“Adapun syarat kiamat yang pertama adalah api yang keluar dari Timur, maka ia akan mengumpulkan manusia ke Barat.” (HR. Ahmad, Bukhari dan Nasa’i dari Anas).

“Keluarnya api dari dasar Aden yang menggiring manusia ke Mahsyar dan api tersebut akan bermalam di tempat manapun manusia itu bermalam dan ia akan berada dimanapun manusia itu tidur siang (istirahat).” (HR. Ahmad dan Muslim dari Abu Hudzaifah bin Asid).

            Selanjutnya adalah tiga tiupan sangkakala. Tiga tiupan sangkakala ini menjadi tanda dan pembatas menuju gerbang kehidupan akhirat, dimana manusia tidak memiliki kebebasan, seluruh kekuasaan ada pada genggaman Alloh swt.

Ibnu Abbas berkata, “Tidak ada lagi pertalian nasab diantara mereka: yakni pada tiupan sangkakala yang pertama. Kemudian sangkakala ditiup lagi (tiupan kedua), firman Alloh, ‘Dan ditiuplah sangkakala, maka matilah siapa yang di langit dan di bumi kecuali siapa yang dikehendaki Alloh… (QS. Az Zumar 39:68).’ Kemudian pada tiupan ketiga, sebagian dari mereka menghadap kepada sebagian yang lain dengan berbantah-bantahan.” (atsar shohih dari Ibnu Abbas, dalam Ringkasan Shahih Bukhari, M. Nashiruddin Al-Bani, jilid 3, no. 1959, hal-316-317, terbitan Gema Insani).

  1. Tiupan sangkakala pertama (mengguncang alam dan pemutusan pertalian nasab)

“Hari yang terbit matahari padanya yang paling baik adalah hari Jum’at, pada hari itu Adam diciptakan, pada hari itu ia dimasukkan ke dalam surga, pada hari itu pula ia dikeluarkan darinya dan tidak akan terjadi hari kiamat kecuali pada hari Jum’at.” (HR. Muslim dalam kitab shohihnya, Ahmad dan Tirmidzi dari Abu Hurairoh).

“Jibril datang kepadaku dengan membawa sebuah cermin yang putih yang padanya sebuh bintik hitam, aku bertanya: ‘Wahai Jibril, apakah ini?’ Ia menjawab: ‘Ini adalah hari Jum’at.’ Aku bertanya lagi: ‘Dan apa pulakah bintik hitam ini?’ Ia menjawab: ‘Ini adalah hari kiamat yang akan terjadi padanya hari kiamat.” (HR. hasan Abu Ya’la dari Anas, Juz 7, hal. 228. Hadits ini dishohihkan oleh Syaikh Muqbil dalam kitab Al Jami’ Asshahih).

Dialah yang menciptakan langit dan bumi dengan hak (benar), ketika dia berkata, “jadilah!” maka jadilah sesuatu itu. Firman-nya adalah benar, dan milik-Nyalah segala kekuasaan pada waktu sangkakala ditiup. Dia mengetahui yang gaib dan yang nyata. Dialah yang Maha Bijaksana, Maha Teliti.” (QS. Al-An’am 6:73).

“Dan ditiuplah sangkakala. Itulah hari yang diancamkan.” (QS. Qaf 50:20).

“Apabila ditiup sangkakala, maka waktu itu adalah waktu (datangnya) hari yang sulit.” (QS. Al Muddassir 74:8-9).

“Maka apabila sangkakala ditiup sekali tiup dan diangkatlah bumi dan gunung-gunung, lalu dibenturkan keduanya sekali benturan. Maka pada hari itu terjadilah hari kiamat, dan terbelahlah langit, karena pada hari itu langit menjadi rapuh. Dan para malaikat berada di berbagai penjuru langit. Pada hari itu delapan malaikat menjunjung ‘Arsy (singgasana) Tuhanmu di atas (kepala) mereka.” (QS. Al Haqqah 69:13-17).

“(Ingatlah) pada hari langit kami gulung seperti menggulung lembaran-lembaran kertas. Sebagaimana kami telah memulai penciptaan pertama, begitulah kami akan mengulanginya lagi. (suatu) janji yang pasti kami tepati; sungguh, kami akan melaksanakannya.” (QS. Al-Anbiya 21:104).

“Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu; Sesungguhnya kegoncangan hari kiamat itu adalah suatu kejadian yang sangat besar (dahsyat). (Ingatlah) pada hari (ketika) kamu melihat kegoncangan itu, lalailah semua wanita yang menyusui anaknya dari anak yang disusuinya dan gugurlah kandungan segala wanita yang hamil, dan kamu lihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal sebenarnya mereka tidak mabuk, akan tetapi azab Allah itu sangat kerasnya.” (QS. Al Hajj 22:1-2).

“Sungguh, akan berdiri hari kiamat (dengan mengejutkan) dimana apabila 2 orang laki-laki telah memajang pakaian (dagangan) nya, maka keduanya tidak akan (sempat) memperjualbelikan ataupun melipatnya kembali, dan sungguh akan berdiri hari kiamat (dengan mengejutkan) dimana apabila seorang laki-laki sudah memerah susu (ternak) nya maka ia tidak akan (sempat) meminumnya, dan sungguh akan berdiri hari kiamat (dengan mengejutkan) dimana apabila seseorang sudah melepa (dengan tanah liat) sumurnya maka ia tidak akan (sempat) meminum airnya, dan sungguh akan berdiri hari kiamat (dengan mengejutkan) sehingga apabila seseorang sudah mengangkat makanan ke mulutnya, maka tidak akan (sempat) memakannya.” (HR. Bukhori, Muslim dan Ibnu Majjah dari Abu Hurairoh), (HR. shohih Muslim dari Abu Hurairoh, dalam Ringkasan Shohih Muslim, M. Nashiruddin Al-Bani, hadits no. 2065, hal-1066, terbitan Gema Insani).

“Antara 2 tiupan adalah 40, orang-orang bertanya: ‘Wahai Abu Hurairoh 40 hari kah?’, ia menjawab: ‘Saya tidak tau dan saya enggan untuk menjawab,’ mereka bertanya lagi: ’40 tahun kah?’, ia ra. menjawab: ‘Saya tidak tau dan saya enggan untuk menjawab,’ mereka bertanya lagi: ’40 bulan kah? Ia menjawab: ‘Saya tidak tau dan saya enggan untuk menjawab.’” (HR. Bukhori dan Muslim dari Abu Hurairoh. Dan pada hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Mardawiyah dan Ibnu abu Dawud dalam Al Ba’tsu dan dalam riwayat Ibnu Al Mubarak dalam kitab Az Zuhdu dari Al Hasan terdapat tambahan teks yaitu: ‘Selama 40 tahun.’), (HR. shohih Muslim dari Abu Hurairoh, dalam Ringkasan Shohih Muslim, M. Nashiruddin Al-Bani, hadits no. 2066, hal-1066, terbitan Gema Insani).

  1. Tiupan sangkakala kedua (mematikan makhluk)

“(Sungguh, kamu akan dibangkitkan) pada hari ketika tiupan pertama mengguncangkan alam, (tiupan pertama) itu diiringi oleh tiupan kedua, hati manusia pada waktu itu merasa sangat takut.” (QS. An-Naziat 79:6-8).

“Dan sangkakala pun ditiup, maka matilah semua (makhluk) yang di langit dan di bumi kecuali mereka yang dikehendaki Alloh. Kemudian ditiup sekali lagi (sangkakala itu) maka seketika itu mereka bangun (dari kuburnya) menunggu (keputusan Alloh).” (QS. Az Zumar 39:68)

  1. Tiupan sangkakala ketiga (membangkitkan makhluk)

“Dan apabila ruh-ruh dipertemukan (dengan tubuh)” (QS. At Takwir 81:7).

“Dan dengarkanlah (seruan) pada hari penyeru (malaikat) menyeru dari tempat yang dekat. (yaitu) pada hari mereka mendengar teriakan dengan sebenar-benarnya Itulah hari ke luar (dari kubur).” (QS. Qaf 50:41-42).

“ Yaitu hari (yang pada waktu itu) ditiup sangsakala lalu kamu datang berkelompok-kelompok.” (QS. An Naba’ 78:18).

“Pada hari itu manusia ke luar dari kuburnya dalam keadaan bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka.” (QS. Az Zalzalah 99:6).

  1. Menunggu pengadilan.

“Alloh mengumpulkan orang-orang yang awal dan orang-orang yang terakhir pada suatu hari yang maklum yaitu selama 40 tahun dalam keadaan menengadah dan membelalakkan kedua mata mereka ke langit untuk menunggu keputusan pengadilan dan Alloh akan turun dalam lindungan awan-awan.” (Hadits ini telah dimuat Adz Dzahabi dalam kitab “Al ‘Uluwwu” dan ia menghasankan sanadnya, demikian juga halnya dengan Al Albaani. Lihat kitab “Mukhtsharul ‘Uluwwi” oleh Al Albaani, hal. 110-111).

Telah berkata Abu Hurairoh dari Nabi saw.: “’(yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam.’ (QS.Al Muthaffifin 83:6) adalah selama setengah hari dari 50.000 tahun, maka hari tersebut terasa ringan (singkat) oleh orang-orang mukmin seperti waktu matahari yang sudah rebah akan terbenam sehingga ia benar-benar terbenam.” (Hadits ini disebutkan oleh Al Haitsami dalam kitab Al Majma, Kitabul Ba’tsi bab Khiffatu Yaumil Qiyamah ‘Alal Mu’minin. Dan beliau berkata: “Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Ya’li, para perawinya adalah para perawi hadits-hadits shohih selain dari Isma’il bin Abdullah bin Khalid yangmana ia adalah tsiqoh (jujur, waro’ dan berkepribadian tinggi).

70.Umatnya Rosululloh saw. yang terakhir di dunia tapi menjadi orang-orang yang paling pertama menjalani hisab pada hari kiamat.

(HR. Bukhori dan Muslim dari Abu Hurairoh dan Hudzaifah)

Daftar Pustaka :

–          Ringkasan Shahih Bukhari, M. Nashiruddin Al-Albani, jilid 3, terbitan Gema Insani.

–          Ringkasan Shahih Muslim, M. Nashiruddin Al-Albani, terbitan Gema Insani.

–          Shohih Sunan Abu Daud, M. Nashiruddin Al-Bani, jilid 3, terbitan Pustaka Azzam.

–          Umur Umat Islam Kedatangan Imam Mahdi & Munculnya Dajjal, Amin Muhammad Jamaluddin, terbitan Cendekia.

–          Huru Hara Akhir Zaman, Amin Muhammad Jamaluddin, terbitan Aqwam
http://citacita-dipelukkan-allah-swt.blogspot.com/2012/06/umur-umat-islam-tidak-lebih-dari-1500.html  

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s